Terkait Potensi Wilayah Kedu Selatan, PPM-LVRI Jateng: Merawat Sejarah dan Budaya Adalah Merawat Masa Depan 

Waktu Baca : 4 minutes

TANHANANEWS.COM, SEMARANG — Kekayaan sejarah dan budaya di kawasan Kedu Selatan Jawa Tengah dinilai belum sepenuhnya dikelola sebagai kekuatan strategis pembangunan daerah. 

Di tengah derasnya perubahan sosial, perkembangan industri pariwisata, tekanan pembangunan dan digitalisasi, warisan sejarah serta budaya lokal menghadapi tantangan serius: sebagian belum terdokumentasi, sebagian belum memperoleh perlindungan hukum, sementara regenerasi pelaku budaya belum berjalan optimal.

Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Panca Marga (PD PPM-LVRI) Provinsi Jawa Tengah, Dr. Adhi Siswanto WN, S.Pd., M.Th., berharap Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama pemerintah daerah di kawasan Purworejo, Kebumen dan Wonosobo tidak melihat warisan sejarah, seni dan budaya hanya sebagai objek wisata, melainkan sebagai modal identitas, pendidikan karakter, ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat.

Sebagai organisasi yang menghimpun putra-putri, cucu dan penerus pejuang kemerdekaan Republik Indonesia, pahlawan nasional dan veteran RI, PPM-LVRI memandang pelestarian sejarah sebagai bagian dari tanggung jawab kebangsaan.

“Jangan sampai generasi mendatang mengenal sejarah daerahnya hanya melalui internet, sementara situs, cerita perjuangan, tradisi, kesenian dan memori kolektif masyarakat di sekitarnya justru hilang. Sejarah harus dirawat, budaya harus dihidupkan dan generasi muda harus menjadi pelaku utamanya,” tegas Adhi dalam keterangannya di Semarang, Selasa, 15 September 2026.

Menurutnya, koridor Kedu Selatan memiliki modal luar biasa karena mempertemukan warisan sejarah, budaya hidup, bentang alam, geopark, situs arkeologi, seni tradisional, kuliner, desa wisata, ekonomi kreatif dan jalur pariwisata.

1. Purworejo: Gudang Cagar Budaya dan Sejarah Perjuangan

Purworejo memiliki basis warisan budaya yang sangat kuat. Data RKPD Kabupaten Purworejo menunjukkan bahwa hingga 2024 terdapat 284 Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB)yang masuk registrasi, sementara jumlah cagar budaya yang telah ditetapkan meningkat menjadi 81, dari 20 pada 2020. Pada saat yang sama, terdapat empat Warisan Budaya Takbenda yang telah tercatat dalam data daerah, termasuk Tradisi Jolenan, Tari Dolalak dan Tari Cing Po Ling. (kutopan dari: Bappeda Litbang Purworejo⁠)

Pada 2026, proses identifikasi masih berjalan. Pemerintah Kabupaten Purworejo menyebut sejumlah cagar budaya yang telah ditetapkan antara lain Pendopo Bupati, Pendopo Rumah Dinas Wakil Bupati di Kutoarjo, GPIB Purworejo, Masjid Agung Purworejo, Stasiun Purworejo, Benteng Pendem Bagelen, sejumlah sekolah bersejarah, Klenteng Baledono, Makam Tjokronegoro dan berbagai struktur serta benda bersejarah lainnya. (kutipan dari: Dinas Pendidikan Purworejo⁠)

Bahkan, pada 2026 Tim Ahli Cagar Budaya Purworejo masih melakukan kajian terhadap sejumlah objek, antara lain reruntuhan Candi Gondoarum, Goa Gong, Goa Silumbu, Goa Silawang, Yoni Baledono dan sejumlah objek lainnya. (kutipan dari: Dinas Pendidikan Purworejo⁠)

Artinya, Purworejo bukan kekurangan warisan sejarah. Tantangannya adalah bagaimana menginventarisasi, melindungi, menginterpretasikan dan menghidupkannya.

Potensi wisata juga menunjukkan ruang ekonomi yang besar. BPS mencatat perjalanan wisatawan nusantara tujuan Purworejo pada Desember 2025 mencapai 236,08 ribu perjalanan. (kutipan dari: bps purworejo⁠)

2. Kebumen: Geopark, Budaya dan Warisan Geologi

Kebumen memiliki keunggulan yang berbeda sekaligus sangat strategis.

Geopark Kebumen mengintegrasikan geologi, keanekaragaman hayati dan kebudayaan. Pemerintah Kabupaten Kebumen menyebut kawasan ini memiliki 117 situs geologi, termasuk 37 situs inti dalam kawasan geopark yang sebelumnya dikenal sebagai Geopark Nasional Karangsambung-Karangbolong. Pada 2025, Geopark Kebumen memperoleh sertifikat UNESCO Global Geopark. (kutipan dari: Kebumen.go.id⁠)

Kekayaan budayanya juga kuat, antara lain Tari Cepetan, Cowongan, Ebleg, batik dan Benteng Van der Wijck. (kutipan dari: Kebumen.go.id⁠)

Kekuatan tersebut telah memperoleh landasan kebijakan lokal. Pemerintah Kabupaten Kebumen menetapkan Perda Nomor 1 Tahun 2026 tentang Pengembangan Taman Bumi (Geopark) Kebumen, yang berstatus berlaku. (kutipan dari: JDIH Kebumen⁠)

Dari sisi pasar wisata, BPS mencatat perjalanan wisatawan nusantara tujuan Kebumen sepanjang Januari–Desember 2025 mencapai 3,85 juta perjalanan. (kutipan dari: Badan Pusat Statistik Kabupaten Kebumen⁠)

Angka tersebut menunjukkan bahwa Kebumen memiliki basis pasar yang sangat besar untuk mengembangkan wisata berbasis geologi, sejarah, budaya dan masyarakat lokal.

3. Wonosobo: Dieng dan Budaya yang Hidup

Wonosobo memiliki kekuatan pada perpaduan alam, sejarah, spiritualitas dan budaya.

Pada 7 Mei 2025, kawasan Dataran Tinggi Dieng ditetapkan sebagai Geopark Nasionalmelalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 172.K/GL.01/MEM.G/2025. Kawasan tersebut memiliki 40 situs, terdiri atas 23 geosite dan delapan biosite serta berbagai kekayaan budaya. (kutipan dari: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Wonosobo⁠)

Pemerintah daerah mencatat setidaknya 12 Warisan Budaya Takbenda Indonesia hingga 2026, termasuk Ruwatan Rambut Gimbal, Hak-hakan, Tari Topeng Lengger, Bundengan, Wayang Othok Obrol, Tempe Kemul, Mie Ongklok, Tradisi Ambeng Desa Tieng, Wayang Kedu Gagrak Wonosaban, Balon Tradisional Wonosobo, Bucu Pendem Wadaslintang dan Topeng Wonosaban. (kutipan dari: Pemkab Wonosobo⁠)

Wonosobo juga memiliki sedikitnya 45 objek adat-istiadat yang tercatat dalam PPKD, mulai dari tradisi Rakanan, Baritan, Wiwit Sawah, Sadranan, Larung Sesaji hingga Larung Rambut Gimbal. (kutipan dari: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Wonosobo⁠)

BPS mencatat perjalanan wisatawan nusantara asal dan tujuan Wonosobo pada Desember 2025 mencapai 565.041 perjalanan. (kutipan dari: Wonosobo Kabupaten⁠)

Dengan demikian, Purworejo, Kebumen dan Wonosobo memiliki karakter yang saling melengkapi: Purworejo kuat pada sejarah dan cagar budaya, Kebumen pada geopark-geologi serta budaya pesisir dan pedalaman, sementara Wonosobo kuat pada Dieng, tradisi dan budaya pegunungan.

Adhi Siswanto menilai persoalan utama kawasan tersebut bukan ketiadaan potensi, namun pada fragmentasi pengelolaan.

Situs sejarah dikelola sendiri-sendiri. Tradisi budaya berkembang tanpa selalu terhubung dengan pendidikan. Potensi wisata belum sepenuhnya terkoneksi dengan sejarah lokal. Pelaku budaya membutuhkan regenerasi. Dokumentasi sejarah lisan masih terbatas. Dan banyak objek potensial belum memperoleh status perlindungan yang memadai.

Bahkan RKPD Purworejo mencatat bahwa keterbatasan tenaga ahli bersertifikasi serta minimnya naskah akademik untuk Warisan Budaya Takbenda menjadi salah satu kendala pemajuan kebudayaan. (kutipan dari: Bappeda Litbang Purworejo⁠)

“Karena itu pendekatannya tidak boleh lagi parsial. Kita membutuhkan ekosistem Kedu Selatan sebagai satu koridor sejarah, budaya, pendidikan dan ekonomi kreatif,” kata Adhi.

Adhi juga menegaskan, PPM-LVRI tidak ingin pelestarian sejarah berhenti pada upacara, seminar atau seremoni peringatan hari tertentu.

Warisan perjuangan harus diterjemahkan menjadi pendidikan karakter, penelitian, kewirausahaan, pariwisata berkualitas, ekonomi kreatif dan kebanggaan daerah.

Menurutnya, keberadaan PPM-LVRI sebagai organisasi putra-putri, cucu dan penerus pejuang kemerdekaan, pahlawan nasional dan veteran RI memberikan tanggung jawab moral untuk terus menjaga mata rantai ingatan sejarah bangsa.

“Para pejuang mewariskan kepada kita bukan hanya kemerdekaan, tetapi juga tanggung jawab untuk menjaga identitas bangsa. Kalau situs sejarah hilang, cerita perjuangan hilang, tradisi hilang dan generasi muda tidak lagi mengenalnya, maka sebagian dari memori kebangsaan kita ikut hilang.”

Karena itu, PPM-LVRI Jawa Tengah menyerukan kepada pemerintah daerah, masyarakat dan generasi muda agar tidak memandang sejarah dan budaya sebagai beban masa lalu.

Kedu Selatan harus bergerak dari sekadar kawasan yang kaya warisan menjadi kawasan yang mampu mengubah warisan sejarah dan budaya menjadi kekuatan pendidikan, persatuan, pariwisata dan kesejahteraan rakyat.

REDAKSI