Cek Alat Swab Menghindari Penggunaan Antigen Bekas

Hindari alat tes Swab Antigen Bekas (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Waktu Baca : 2 minutes

TANHANANEWS.COM, Jakarta — Terbongkarnya kejahatan tes swab antigen yang mempergunakan alat kesehatan bekas di Bandara Kualanamu oleh oknum yang mencuci alat bekas pakai demi keuntungan pribadi beberapa waktu lalu, mengharuskan siapapun lebih berhati-hati saat akan bepergian yang mengharuskan melampirkan hasil tes negatif Covid-19.

Mengutip dari CNNIndonesia.com, Ahli Patologi Klinik Laboratorium Primaya Hospital Karawang Hadian Widyatmojo mengimbau masyarakat sebelum melakukan swab untuk memastikan bahwa alat swab yang digunakan masih berada di dalam kemasan dan tersegel. Hal ini berlaku untuk rapid test antigen maupun swab PCR.

Ia menuturkan masyarakat dapat meminta petugas swab untuk memperlihatkan alat swab masih baru di dalam kemasan sebelum test. Masyarakat juga bisa meminta alat test untuk dibuka di depan pasien.

Selain itu, masyarakat berhak untuk meminta petugas membuka bungkus plastik alat test sesaat sebelum tindakan swab. Gunanya, untuk menjaga agar alat tersebut tetap steril dan mencegah kontaminan.

“Anda bisa mencurigai jika tidak melihat alat swab tersebut dibuka dari tempatnya di depan Anda,” ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (1/5).

Alat test swab, lanjutnya, seharusnya memiliki izin edar. Dengan demikian, pasien bisa menanyakan izin edar tersebut pada petugas fasilitas kesehatan (faskes) terkait merek atau tanggal kedaluarsa alat yang digunakan.

“Kadarluasa alat swab antar merek pun berbeda beda. Umumnya sebuah alat swab bisa bertahan bertahun tahun dari masa produksinya,” imbuhnya.

Alat swab juga harus mempunyai Nomor Izin Edar (NIE) dari Kementerian Kesehatan. Jadi, pasien dapat meminta petugas untuk diperlihatkan sertifikat NIE dari vendor alat.

Selain itu, Dokter Spesialis Patologi Klinik Primaya Hospital Makassa Selvi Josten, menambahkan masyarakat juga dapat memperhatikan indikasi-indikasi lain untuk mendeteksi alat test swab baru. Misalnya, melihat permukaan swab stik berwarna putih bersih, masih mulus atau tidak kelihatan bergerigi, serta tidak beraroma.

Ia juga memastikan bahwa seluruh alat swab tidak dapat digunakan kembali. Alat tersebut merupakan alat sekali pakai dan akan dibuang setelah digunakan.

Penggunaan reusable alat swab, kata dia, sangat berisiko tinggi pada kesehatan dan penyebaran infeksi virus covid-19 kepada pasien lainnya.

“Pastikan alat swab tersebut masih baru dan perhatikan perlekatan kemasannya harus dalam keadaan sempurna seperti dari pabrik bukan memakai lem atau double tape,” katanya.

Sementara itu, dokter Spesialis Patologi Klinik Primaya Hospital Bekasi Barat Dwi Fajaryani mengatakan bahwa masyarakat umum tidak diperkenankan untuk membeli alat swab sendiri. Pasalnya, penggunaan alat swab harus dilakukan dan dalam pengawasan tenaga medis ahli.

(Redaksi)