HUT ke-81 TNI, Telusuri Jejak Tentara Pelajar di Balik Berdirinya SMA Negeri 1 Purworejo

Waktu Baca : 8 minutes

Oleh: Editor, merangkum dari berbagai sumber

Dari Medan Perjuangan ke Ruang-Ruang Pendidikan

Dalam sejarah perjuangan bangsa, kemenangan tidak selalu dirayakan dengan parade pasukan atau diperingati melalui monumen. Ada pula kemenangan yang tumbuh perlahan, jauh dari medan pertempuran, melalui ruang-ruang kelas tempat generasi muda belajar merancang masa depan.

Jejak perjuangan semacam itu dapat ditemukan di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Di balik berdirinya SMA Negeri 1 Purworejo, tersimpan kisah tentang para mantan Tentara Pelajar yang memilih melanjutkan pengabdiannya melalui pendidikan setelah masa perjuangan kemerdekaan.

Sekolah yang kini beralamat di Jalan Tentara Pelajar No. 55, Purworejo, itu bukan sekadar lembaga pendidikan. Sejarah kelahirannya memiliki hubungan erat dengan Keluarga Besar Tentara Pelajar (KBTP) Detasemen III Brigade 17, kelompok pejuang muda yang kemudian ikut merintis jalan bagi pendidikan menengah atas di daerah tersebut.

Data Kemendikdasmen mencatat pendirian SMA Negeri 1 Purworejo melalui SK Nomor 3927/B.III, bertanggal 2 Mei 1955. Namun, di balik catatan administratif itu, terdapat perjalanan panjang yang bermula dari sebuah pemikiran sederhana: setelah ikut memperjuangkan kemerdekaan, apa yang dapat dilakukan untuk memastikan generasi berikutnya memiliki masa depan yang lebih baik?

Pertanyaan itulah yang menghubungkan medan perjuangan dengan ruang-ruang pendidikan di Purworejo.

Ketika Para Pejuang Memikirkan Masa Depan

Seusai masa perjuangan kemerdekaan, sejumlah anggota Tentara Pelajar yang tergabung dalam KBTP Detasemen III Brigade 17 melanjutkan pendidikan, di antaranya di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Mereka telah melewati masa ketika keberanian, pengorbanan, dan kesediaan mempertaruhkan nyawa menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan Republik Indonesia. Namun, ketika kehidupan mulai bergerak menuju masa damai, mereka melihat persoalan lain yang tak kalah penting: terbatasnya kesempatan pendidikan bagi anak-anak di daerah.

Pada masa itu, kesempatan melanjutkan pendidikan setelah tamat sekolah menengah pertama belum merata. Sekolah menengah atas masih terbatas di sejumlah wilayah, sehingga anak-anak dari daerah harus menghadapi kendala untuk memperoleh pendidikan lanjutan.

Bagi para mantan Tentara Pelajar, keadaan tersebut bukan sekadar persoalan sekolah. Di dalamnya terdapat persoalan masa depan masyarakat.

Mereka tentu memahami bahwa kemerdekaan tidak akan bermakna sepenuhnya apabila anak-anak bangsa tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuan mereka.

Ada pula ikatan emosional yang mendasari pemikiran tersebut. Menurut sejarah resmi SMA Negeri 1 Purworejo, pendirian sekolah ini antara lain dilandasi keinginan para eks-Tentara Pelajar untuk membalas budi kepada masyarakat Purworejo yang dahulu turut membantu perjuangan mereka.

Masyarakat pernah hadir ketika para pejuang membutuhkan dukungan. Kini, setelah kemerdekaan dipertahankan, para pejuang ingin memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang.

Mereka tidak lagi semata-mata memikirkan bagaimana mempertahankan kemerdekaan, tetapi juga bagaimana mengisi kemerdekaan itu.

Dari pemikiran tersebut, gagasan mendirikan sekolah menengah atas di Purworejo mulai bergerak menjadi kenyataan.

2 Juni 1954: Gagasan Mulai Menjadi Gerakan

Gagasan besar membutuhkan orang-orang yang bersedia mengerjakannya. Bagi para eks-Tentara Pelajar, niat mendirikan sekolah tidak cukup berhenti sebagai percakapan atau cita-cita. Harus ada langkah nyata, organisasi, dan pembagian tanggung jawab.

Tonggak penting itu tercatat pada 2 Juni 1954. Keluarga Besar Tentara Pelajar menerbitkan Surat Penetapan KBTP Pusat Nomor 219/P.E/KU/54 tentang pembentukan Panitia Pendiri Persiapan SMA B, C Kedu Selatan.

Panitia tersebut menjadi penggerak awal untuk mempersiapkan berdirinya sekolah menengah atas di Purworejo.

Nama-nama yang tercatat dalam sejarah sekolah antara lain Suroto, Imam Subechi, Sumitro, Isnugroho, Sispitoyo, Abdul Munir Soediro, Soemadi, Abdul Sajad, dan Imam Pratignyo. Suroto dipercaya sebagai ketua panitia, sedangkan Imam Subechi menjadi wakil ketua. Imam Pratignyo kemudian dipercaya sebagai kepala sekolah pertama.

Di balik nama-nama itu, terdapat pekerjaan yang tidak sederhana. Sebuah sekolah membutuhkan tempat belajar, tenaga pengajar, dukungan masyarakat, kepastian penyelenggaraan, serta pengakuan dari pemerintah.

Semua itu harus diupayakan pada masa ketika Indonesia masih relatif muda dan berbagai sarana pembangunan belum tersedia secara merata.

Panitia tersebut juga memperoleh dukungan dari unsur pemerintahan dan militer setempat, antara lain Bupati Purworejo saat itu, R. Soedardjo Sosrodiprodjo, serta Mayor Panoejoe atau Panuju, yang disebut dalam catatan sejarah sebagai Komandan Batalyon Infanteri Purworejo.

Dukungan tersebut memperlihatkan bahwa kelahiran SMA Negeri 1 Purworejo bukan semata-mata hasil kerja satu kelompok. Ada pertemuan antara semangat para mantan pejuang, dukungan pemerintah daerah, unsur militer, dan kebutuhan masyarakat akan pendidikan.

Semangat gotong royong yang dahulu menguatkan perjuangan kemerdekaan menemukan bentuk baru dalam upaya membangun sekolah.

Merintis Sekolah dengan Fasilitas Terbatas

Setelah kepanitiaan terbentuk, pekerjaan berikutnya adalah menyediakan tempat untuk kegiatan belajar mengajar.

Pada tahap awal, sekolah yang dipersiapkan tersebut menggunakan tempat di SR Cemara, Jalan Tribrata, yang sekarang dikenal sebagai Jalan Mayjen Sutoyo. Tidak lama kemudian, dengan dukungan pemerintah daerah, kegiatan pendidikan berpindah ke Gedung Balai Rakyat, sebuah bangunan yang sebelumnya digunakan sebagai Gedung Pemuda dan kemudian dikenal sebagai gedung DPRD.

Perpindahan tempat itu menjadi bagian dari proses merintis lembaga pendidikan yang belum memiliki gedung sendiri.

Keterbatasan fasilitas tidak serta-merta menghentikan langkah para pendiri. Yang mereka perjuangkan bukan kemegahan bangunan, melainkan kesempatan agar anak-anak Purworejo dapat melanjutkan pendidikan.

Pada masa itu, Indonesia tengah membangun berbagai institusi negara setelah melewati pergolakan mempertahankan kemerdekaan. Pembangunan pendidikan menjadi bagian penting dari pekerjaan besar tersebut, meskipun kemampuan setiap daerah dalam menyediakan sarana belajar masih berbeda-beda.

Dalam keadaan demikian, pendirian SMA B.C. Kedu Selatan menjadi upaya nyata untuk memperluas kesempatan belajar di Purworejo.

Sekolah itu tumbuh dari keterbatasan, tetapi membawa cita-cita yang melampaui keterbatasan tersebut.

Perjuangan Belum Berakhir: Menuju Status Negeri

Berdirinya sekolah bukanlah akhir perjalanan. Para perintis masih harus memperjuangkan pengakuan pemerintah agar lembaga yang mereka bangun memperoleh status negeri.

Status tersebut penting bagi keberlanjutan sekolah dan penguatan kedudukannya sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional.

Upaya itu melibatkan pemerintah daerah dan DPRDS Purworejo. Sejumlah tokoh kemudian menjalankan misi untuk memperjuangkan pengesahan sekolah kepada pemerintah pusat.

Dalam catatan sejarah resmi SMA Negeri 1 Purworejo, nama Pamuji atau Pamudji, Fanani, Tambeh Maxum, dan Abdul Munir disebut dalam rangkaian perjuangan menuju status negeri. Tambeh Maxum juga tercatat sebagai salah satu tokoh yang turut dalam delegasi untuk memperjuangkan terbitnya keputusan resmi pemerintah.

Perjuangan administratif ini memperlihatkan sisi lain dari pengabdian para perintis. Jika pada masa perang mereka harus menghadapi tantangan di medan perjuangan, kali ini mereka berhadapan dengan proses kelembagaan dan pemerintahan yang menentukan keberlangsungan sebuah sekolah.

Akhirnya, SMA B.C. Kedu Selatan memperoleh status sebagai SMA Negeri Purworejo pada 1955.

Terkait tanggal pendiriannya, terdapat dua catatan yang perlu dibaca secara cermat. Data Kemendikdasmen mencantumkan SK pendirian Nomor 3927/B.III bertanggal 2 Mei 1955, sedangkan sejarah resmi sekolah menyebut pengesahan menjadi sekolah negeri berlangsung pada 1 Agustus 1955 oleh Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan Prof. Mohammad Yamin.

Kedua tanggal tersebut tercatat dalam sumber yang berbeda dan perlu dipahami sesuai konteks dokumennya. Kepastian mengenai hubungan antara tanggal keputusan administratif dan tanggal pengesahan tersebut memerlukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap dokumen aslinya.

Terlepas dari perbedaan pencatatan tanggal, tahun 1955 menjadi tonggak penting dalam perjalanan sekolah tersebut. Gagasan yang berawal dari kepedulian para eks-Tentara Pelajar akhirnya memperoleh landasan kelembagaan yang lebih kuat.

Jalan Tentara Pelajar dan Ingatan yang Terus Hidup

Setelah berstatus negeri, SMA Negeri Purworejo masih harus menyelesaikan persoalan penting: memiliki kompleks sekolah sendiri.

Pada 1958, pemerintah melalui Departemen PP dan K membeli tanah seluas sekitar dua hektare di Jalan Kutoarjo, yang kini dikenal sebagai Jalan Tentara Pelajar. Tanah tersebut dipersiapkan untuk pembangunan gedung sekolah.

Namun, pembangunan tidak berjalan mulus. Berbagai kendala membuat prosesnya berlangsung panjang, bahkan sempat terhenti akibat situasi politik nasional pada pertengahan 1960-an.

Akibatnya, kegiatan belajar mengajar selama beberapa tahun masih berlangsung di dua lokasi. Baru pada 1976, kegiatan pembelajaran dapat sepenuhnya dipusatkan di kompleks sekolah di Jalan Tentara Pelajar No. 55, Purworejo.

Perjalanan dari tempat belajar sementara hingga menempati kompleks sekolah sendiri menunjukkan bahwa sebuah lembaga pendidikan tidak lahir dan berkembang dalam satu malam. Di balik keberadaannya terdapat rangkaian keputusan, perjuangan, penantian, dan kerja banyak orang.

Ada pula makna yang terasa kuat ketika menengok alamat sekolah itu sekarang.

Jalan Tentara Pelajar bukan sekadar nama jalan. Dalam konteks sejarah SMA Negeri 1 Purworejo, nama tersebut mengingatkan kita pada kelompok pejuang muda yang menjadi bagian penting dari lahirnya sekolah.

Setiap generasi siswa yang datang ke sekolah itu mewarisi ruang belajar yang keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari sejarah pengabdian para pendirinya.

Mereka mungkin tidak menyaksikan langsung perjuangan tersebut. Namun, sejarah sekolah memberi kesempatan bagi generasi berikutnya untuk mengenal orang-orang yang pernah memikirkan masa depan mereka jauh sebelum mereka dilahirkan.

Nama-Nama di Balik Sebuah Warisan

Sejarah SMA Negeri 1 Purworejo tidak dapat dilepaskan dari peran sejumlah tokoh dengan tanggung jawab yang berbeda-beda.

Para eks-Tentara Pelajar KBTP Detasemen III Brigade 17 menjadi penggagas yang menghubungkan pengalaman perjuangan dengan kebutuhan pendidikan masyarakat.

Panitia pendiri, yang antara lain terdiri atas Suroto, Imam Subechi, Sumitro, Isnugroho, Sispitoyo, Abdul Munir Soediro, Soemadi, Abdul Sajad, dan Imam Pratignyo, mengambil peran dalam mewujudkan gagasan tersebut menjadi lembaga pendidikan.

Dari unsur pemerintahan dan militer daerah, Bupati R. Soedardjo Sosrodiprodjo serta Mayor Panoejoe atau Panuju tercatat memberikan dukungan terhadap proses awal pendirian sekolah.

Sementara itu, Pamuji atau Pamudji, Fanani, Tambeh Maxum, dan Abdul Munir disebut dalam rangkaian upaya memperjuangkan status negeri. Prof. Mohammad Yamin, selaku Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan, tercatat memiliki peran dalam pengesahan SMA B.C. Kedu Selatan menjadi SMA Negeri Purworejo.

Nama-nama tersebut menggambarkan mata rantai pengabdian yang saling terhubung. Ada yang merintis gagasan, membentuk kepanitiaan, menyediakan dukungan, memperjuangkan pengakuan, dan memastikan sekolah dapat berkembang.

Mengingat mereka bukan sekadar urusan mencatat nama dalam lembar sejarah. Lebih dari itu, mengenang mereka berarti memahami bagaimana sebuah cita-cita bersama dapat diwujudkan melalui kerja kolektif.

Dari Senjata ke Buku: Perjuangan dalam Bentuk Baru

Ada perubahan besar dalam perjalanan hidup para eks-Tentara Pelajar. Mereka pernah menjadi bagian dari generasi muda yang berada dalam pusaran perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Setelah masa itu berlalu, mereka tidak berhenti memikirkan nasib bangsa.

Mereka memilih melanjutkan pengabdian melalui pendidikan.

Perubahan tersebut tidak berarti semangat perjuangan ditinggalkan. Justru nilai yang sama—keberanian, pengorbanan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap masa depan bangsa—diterapkan dalam medan pengabdian yang berbeda.

Jika dahulu perjuangan menuntut keberanian menghadapi ancaman terhadap kemerdekaan, pada masa setelahnya tantangan juga hadir dalam bentuk keterbatasan akses pendidikan, minimnya sarana, dan kebutuhan membangun kehidupan masyarakat.

Mendirikan sekolah menjadi salah satu jawaban terhadap tantangan tersebut.

Dalam pengertian ini, kisah SMA Negeri 1 Purworejo memperlihatkan bahwa bela negara memiliki dimensi yang luas. Selain mempertahankan kedaulatan, pengabdian kepada bangsa juga dapat diwujudkan melalui pembangunan pendidikan, pengembangan pengetahuan, dan pembukaan kesempatan bagi generasi muda untuk meraih masa depan.

Senjata dan buku memang berada dalam medan yang berbeda. Namun, dalam perjalanan para perintis sekolah ini, keduanya terhubung oleh satu tujuan: menjaga agar kemerdekaan yang telah diperjuangkan dapat memberikan manfaat bagi kehidupan generasi berikutnya.

Memaknai HUT ke-81 TNI

Peringatan HUT ke-81 Tentara Nasional Indonesia pada 5 Oktober 2026 menjadi momentum untuk melihat kembali sejarah pengabdian yang tidak selalu hadir dalam kisah pertempuran.

Salah satu pelajaran dari sejarah SMA Negeri 1 Purworejo adalah bahwa perjuangan tidak harus berhenti ketika perang berakhir. Pengabdian dapat berlanjut melalui pekerjaan yang tampak sederhana, tetapi memiliki dampak panjang bagi masyarakat.

Para eks-Tentara Pelajar yang merintis sekolah tersebut memberikan contoh bagaimana pengalaman perjuangan dapat diterjemahkan menjadi kepedulian terhadap pendidikan.

Mereka memahami bahwa kemerdekaan bukan garis akhir. Kemerdekaan membuka tanggung jawab baru: membangun masyarakat yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan untuk berkembang.

Lebih dari tujuh dekade setelah gagasan pendirian sekolah itu diwujudkan, SMA Negeri 1 Purworejo terus menjadi bagian dari perjalanan pendidikan di Kabupaten Purworejo. Akar sejarahnya mengingatkan bahwa keberadaan sebuah sekolah tidak hanya ditentukan oleh gedung, fasilitas, atau kegiatan belajar mengajar, tetapi juga oleh cita-cita dan pengabdian orang-orang yang merintisnya.

Di ruang kelas, guru menerangkan pelajaran. Siswa membaca buku, berdiskusi, dan mempersiapkan masa depan. Kegiatan sehari-hari itu mungkin terlihat biasa, tetapi di baliknya terdapat warisan sejarah yang patut dikenali.

Ada kisah tentang anak-anak muda yang pernah berjuang mempertahankan republik. Ada masyarakat yang mendukung perjuangan mereka. Ada tokoh daerah yang membantu membuka jalan bagi berdirinya sekolah. Dan ada keyakinan bahwa pendidikan merupakan bagian penting dari pembangunan bangsa.

Warisan itu tidak hanya milik para alumni atau keluarga besar Tentara Pelajar. Ia juga menjadi bagian dari sejarah masyarakat Purworejo dan perjalanan pendidikan Indonesia.

Penutup: Perjuangan yang Tak Pernah Benar-Benar Usai

HUT ke-81 TNI bukan hanya kesempatan untuk mengenang keberanian prajurit dalam menjaga kedaulatan negara. Peringatan ini juga membuka ruang untuk menelusuri berbagai bentuk pengabdian yang tumbuh dari pengalaman perjuangan kemerdekaan.

SMA Negeri 1 Purworejo merupakan salah satu jejaknya.

Di balik berdirinya sekolah tersebut, terdapat semangat para eks-Tentara Pelajar yang ingin membalas dukungan masyarakat dengan sesuatu yang manfaatnya dapat dirasakan lintas generasi. Mereka tidak membangun monumen untuk mengenang perjuangan mereka sendiri. Mereka ikut merintis sebuah lembaga pendidikan agar anak-anak di daerah memiliki kesempatan untuk belajar dan berkembang.

Waktu telah berlalu. Para perintis mungkin telah lama meninggalkan medan perjuangan dan ruang-ruang tempat mereka merancang pendirian sekolah. Namun, cita-cita yang mereka perjuangkan tetap memperoleh tempat setiap kali generasi baru memasuki ruang kelas.

Sebab, perjuangan tidak selalu berakhir ketika senjata diletakkan. Ada perjuangan yang berlanjut ketika sebuah sekolah didirikan, seorang guru mengajar, dan seorang anak memperoleh kesempatan untuk meraih masa depan.

Dari perjuangan lahir pengabdian. Dari pengabdian tumbuh pendidikan. Dan melalui pendidikan, cita-cita kemerdekaan diteruskan kepada generasi penerus bangsa.

Itulah warisan Tentara Pelajar yang patut dikenang dalam peringatan HUT ke-81 TNI, 5 Oktober 2026.

Wallahualam Bishawab