PPM-LVRI: KDMP Harus Jadi Motor Ekonomi Produktif dan Penggerak UMKM

Waktu Baca : 2 minutes

TANHANANEWS.COM, JAKARTA — Ketua Koperasi dan UMKM Pimpinan Pusat Pemuda Panca Marga (PP PPM-LVRI) Randi Putomo Isbandiarso menilai Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) memiliki peluang besar menjadi salah satu fondasi penguatan ekonomi kerakyatan Indonesia. 

Namun, peluang tersebut harus dibarengi pembenahan tata kelola, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), digitalisasi, akses pembiayaan, serta kemampuan koperasi membangun ekosistem usaha yang terhubung dengan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Perkembangan koperasi tidak hanya diukur dari bertambahnya jumlah koperasi atau besarnya modal yang berputar. Keberhasilan koperasi harus terlihat dari seberapa besar koperasi mampu meningkatkan produktivitas anggota, memperluas akses pasar, memperkuat posisi tawar pelaku UMKM, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Randi dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, 17 September 2026.

Menurut dia, koperasi harus bertransformasi dari sekadar lembaga simpan pinjam menjadi kekuatan ekonomi produktif yang mampu mengelola rantai usaha secara lebih utuh, mulai dari produksi, distribusi, pemasaran hingga hilirisasi produk anggota. 

Dalam konteks tersebut, program KDMP dinilai dapat menjadi momentum untuk memperkuat ekonomi desa sekaligus membangun mata rantai usaha yang menghubungkan koperasi dengan UMKM.

Randi mengatakan pemerintah menempatkan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai instrumen untuk memperkuat rantai pasok, meningkatkan daya saing ekonomi lokal, serta mendorong pemerataan ekonomi. Namun, skala besar program tersebut juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. 

Koperasi desa membutuhkan pengurus dan pengawas yang kompeten, sistem administrasi serta keuangan yang transparan, model bisnis yang sesuai dengan potensi masing-masing desa, dan pendampingan yang berkelanjutan.

“Jangan sampai koperasi hanya kuat pada saat pembentukan, tetapi lemah ketika memasuki fase operasional. Koperasi harus dibangun berdasarkan kebutuhan dan potensi ekonomi masyarakat setempat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Randi menekankan pentingnya membangun hubungan KDMP dan UMKM sebagai kemitraan yang saling memperkuat. Koperasi dapat berperan sebagai agregator produk UMKM desa, menyediakan akses bahan baku, membantu standardisasi dan pengemasan, membuka akses pembiayaan, serta memperluas pemasaran melalui jaringan digital dan pasar yang lebih luas. Dengan model tersebut, 

UMKM tidak berjalan sendiri-sendiri, sementara koperasi memperoleh basis usaha produktif dari aktivitas ekonomi anggotanya.

Ia juga menyoroti pentingnya digitalisasi dan peningkatan kualitas SDM sebagai bagian dari penguatan KDMP. Menurut Randi, pemanfaatan teknologi harus diarahkan untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, akurasi administrasi, serta memperluas akses pasar.

Keberhasilan program ini, kata dia, membutuhkan sinergi pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, lembaga keuangan, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, serta gerakan koperasi.

“Masa depan koperasi Indonesia bukan hanya soal berapa banyak koperasi yang berdiri, tetapi berapa banyak masyarakat yang menjadi lebih produktif dan sejahtera karena koperasi. KDMP harus menjadi rumah bersama bagi petani, nelayan, pedagang, pelaku UMKM, dan masyarakat desa untuk membangun usaha secara kolektif,” katanya.

Di akhir keterangannya, Randi menegaskan PPM-LVRI siap berkontribusi dalam mendukung keberhasilan program KDMP melalui sumber daya manusia yang dimiliki di berbagai wilayah Indonesia. 

Ia menyebut komitmen tersebut merupakan bagian dari kontribusi PPM-LVRI sebagai organisasi yang mewadahi putra-putri, cucu, dan penerus pejuang kemerdekaan, pahlawan nasional, serta veteran Republik Indonesia.

“Kami PPM-LVRI, berkomitmen untuk mendukung sepenuhnya program pemerintah selama ditujukan untuk kepentingan rakyat dan bangsa,” pungkas Randi.

REDAKSI – EDITOR: EP