Dua Tahun KKSB Riau: Merawat Kerukunan, Membuka Peluang, Menjawab Tantangan

Waktu Baca : 5 minutes

Ditulis oleh Editor dengan mengambil dari berbagai sumber 

“Dima Bumi Dipijak Di Situ Langik Dijunjuang, Basamo Kito Bisa, Basatu Kito Gadang, Riau Bersatu, Riau Maju.”

JAKARTA, 21 September 2026 —- Kerukunan Keluarga Sumatera Barat (KKSB) di Provinsi Riau adalah sebuah organisasi tidak hanya dibangun dari struktur kepengurusan, tetapi dari semangat kebersamaan, komitmen, dan kemampuan merawat persaudaraan di tengah keberagaman. Semangat itulah yang menjadi pijakan KKSB Provinsi Riau dalam menjalankan roda organisasi setelah melalui Musyawarah Besar (Mubes) pada 8 September 2024 di Balai Serindit, Pekanbaru.

Dalam Mubes tersebut Nehry Mangkuto Ameh Datuak Mangkuto Alam dipercaya kembali secara aklamasi memimpin KKSB Provinsi Riau sebagai Ketua Umum untuk kedua kalinya. Kepengurusan kemudian dikukuhkan pada 18 November 2024 di tempat yang sama. 

Momentum tersebut menjadi babak baru bagi KKSB Riau untuk memperkuat peran organisasi sebagai wadah silaturahmi, persatuan, sekaligus ruang kontribusi masyarakat Sumatera Barat yang berada dan berkiprah di Provinsi Riau.

Tema yang diusung, “Dima Bumi Dipijak Di Situ Langik Dijunjuang, Basamo Kito Bisa, Basatu Kito Gadang, Riau Bersatu, Riau Maju,” bukan sekadar rangkaian kata. Di dalamnya terdapat pesan tentang pentingnya menghormati tempat di mana seseorang hidup dan berkarya, sembari tetap menjaga nilai-nilai budaya dan identitas asal.

Dua Tahun Perjalanan, Dua Tanggung Jawab

Perjalanan dua tahun KKSB Riau dapat dilihat sebagai fase konsolidasi sekaligus penguatan organisasi. Sebagai organisasi masyarakat yang menghimpun warga asal Sumatera Barat di Riau, KKSB menghadapi tanggung jawab ganda.

Di satu sisi, organisasi harus mampu menjaga hubungan kekeluargaan sesama warga Minangkabau. Di sisi lain, KKSB juga dituntut semakin terbuka dan mampu berkontribusi terhadap pembangunan daerah tempat masyarakatnya berdomisili.

Semangat “Dima Bumi Dipijak Di Situ Langik Dijunjuang” menjadi sangat relevan dalam konteks tersebut. Kehadiran masyarakat Sumatera Barat di Riau bukanlah untuk hidup sendiri dalam sebuah komunitas yang tertutup, melainkan menjadi bagian dari masyarakat Riau secara keseluruhan.

Karena itu, keberadaan KKSB idealnya tidak berhenti pada kegiatan sosial dan silaturahmi internal. Organisasi juga dapat menjadi jembatan antara potensi masyarakat Sumatera Barat dengan berbagai peluang pembangunan di Riau.

Harapan: KKSB Menjadi Rumah Besar

Harapan terbesar terhadap KKSB Riau adalah agar organisasi ini benar-benar menjadi rumah besar bagi masyarakat Sumatera Barat di Riau.

Rumah besar berarti ruang yang mampu menaungi berbagai latar belakang, generasi, profesi, dan kelompok masyarakat. Tidak hanya tokoh adat dan tokoh masyarakat, tetapi juga generasi muda, perempuan, pelaku usaha, profesional, akademisi, seniman, pekerja, serta berbagai komunitas yang memiliki hubungan dengan Sumatera Barat.

Kepemimpinan Nehry Mangkuto Ameh Datuak Mangkuto Alam diharapkan mampu membawa KKSB menjadi organisasi yang semakin solid secara internal dan semakin kuat kontribusinya secara eksternal.

Harapan lainnya adalah terbangunnya komunikasi yang lebih intensif dengan pemerintah daerah, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan, dan berbagai elemen masyarakat Riau.

Dengan jejaring yang kuat, KKSB tidak hanya menjadi organisasi paguyuban, tetapi dapat berkembang menjadi salah satu kekuatan sosial yang ikut memberikan gagasan dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Peluang Besar di Riau

Riau merupakan daerah dengan dinamika ekonomi dan sosial yang besar. Kondisi tersebut membuka ruang bagi masyarakat Sumatera Barat untuk mengambil bagian dalam berbagai sektor.

Peluang pertama adalah penguatan ekonomi dan kewirausahaan.

Tradisi berdagang dan kemampuan membangun jaringan ekonomi yang telah lama melekat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau dapat dikembangkan melalui jaringan KKSB. Organisasi dapat menjadi wadah mempertemukan pelaku usaha, membuka jejaring pemasaran, berbagi informasi, serta mendorong kolaborasi antarpelaku UMKM.

Peluang kedua adalah pengembangan sumber daya manusia.

Generasi muda Minangkabau di Riau memiliki tantangan sekaligus kesempatan untuk berkembang dalam dunia pendidikan, teknologi, bisnis, pemerintahan, industri kreatif, hingga profesi profesional. KKSB dapat mengambil peran dengan membangun forum pemuda, program mentoring, diskusi pendidikan, pelatihan kewirausahaan, dan jejaring profesional.

Peluang ketiga adalah penguatan kebudayaan.

Budaya Minangkabau memiliki kekayaan nilai yang dapat terus diperkenalkan kepada generasi muda. Namun, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mengulang tradisi. Nilai-nilai seperti basamo, badunsanak, musyawarah, gotong royong, dan kepedulian sosial dapat diterjemahkan ke dalam kehidupan organisasi modern.

KKSB juga mempunyai peluang menjadi salah satu jembatan kebudayaan antara masyarakat Minangkabau dan masyarakat Riau. Pertemuan dua tradisi besar ini dapat menjadi kekuatan dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis.

Tantangan yang Tidak Ringan

Di balik peluang tersebut, perjalanan KKSB juga menghadapi sejumlah tantangan.

Tantangan pertama adalah konsolidasi organisasi. Organisasi yang memiliki anggota dan simpatisan dari berbagai daerah tentu memerlukan komunikasi yang teratur dan kepengurusan yang aktif. Jangan sampai organisasi hanya terlihat ketika ada kegiatan besar, sementara komunikasi dan pelayanan kepada anggota berjalan tidak berkesinambungan.

Tantangan kedua adalah regenerasi. Organisasi masyarakat akan menghadapi persoalan jika terlalu bergantung pada tokoh-tokoh senior. Generasi muda harus diberikan ruang yang cukup untuk belajar, berorganisasi, memimpin, dan mengambil keputusan.

Regenerasi bukan berarti menggantikan peran generasi sebelumnya, tetapi membangun kesinambungan. Pengalaman para ninik mamak, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan senior organisasi menjadi modal penting yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Tantangan ketiga adalah menjaga persatuan dalam keberagaman. Dalam organisasi besar, perbedaan pandangan merupakan sesuatu yang wajar. Yang penting adalah bagaimana perbedaan tersebut dikelola melalui musyawarah dan semangat persaudaraan.

Slogan “Basamo Kito Bisa, Basatu Kito Gadang” justru mendapatkan maknanya ketika organisasi mampu menyatukan perbedaan tersebut menjadi energi bersama.

Jangan Hanya Menjadi Besar Secara Jumlah

Ukuran keberhasilan organisasi bukan semata-mata banyaknya anggota atau besarnya kegiatan. Yang lebih penting adalah seberapa jauh organisasi mampu memberikan manfaat.

KKSB Riau ke depan diharapkan dapat memiliki program yang menyentuh kebutuhan nyata masyarakat. Misalnya program sosial untuk keluarga yang membutuhkan, pendampingan UMKM, beasiswa atau dukungan pendidikan, kegiatan kepemudaan, pelestarian budaya, pengembangan ekonomi kreatif, hingga kegiatan yang memperkuat hubungan antarkomunitas di Riau.

Organisasi juga perlu memanfaatkan teknologi digital. Database anggota, komunikasi organisasi, publikasi kegiatan, promosi usaha anggota, hingga penggalangan kolaborasi dapat dilakukan melalui platform digital.

Dengan demikian, organisasi tidak hanya aktif secara fisik, tetapi juga hadir di ruang digital yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat saat ini.

Dari Persaudaraan Menuju Kontribusi

Dua tahun perjalanan KKSB Riau seharusnya menjadi momentum untuk melakukan refleksi. Apa yang sudah dilakukan? Apa yang belum tercapai? Dan apa yang harus diperkuat untuk perjalanan berikutnya?

Pertanyaan tersebut penting agar organisasi tidak terjebak dalam rutinitas.

Persaudaraan adalah fondasi. Kebersamaan adalah kekuatan. Tetapi kontribusi adalah ukuran penting dari keberadaan sebuah organisasi di tengah masyarakat.

Masyarakat Sumatera Barat di Riau memiliki sejarah panjang dalam membangun kehidupan sosial dan ekonomi. Karena itu, KKSB memiliki peluang untuk meneruskan tradisi tersebut dengan pendekatan yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Di bawah kepemimpinan Nehry Mangkuto Ameh Datuak Mangkuto Alam harapannya KKSB Riau dapat terus memperkuat tiga hal: soliditas internal, kolaborasi eksternal, dan kontribusi nyata.

Sebab pada akhirnya, semangat “Dima Bumi Dipijak Di Situ Langik Dijunjuang” bukan hanya tentang bagaimana orang Minangkabau menjaga identitasnya ketika berada di rantau. Lebih jauh, filosofi tersebut mengajarkan bagaimana seseorang menghormati tempat tinggalnya, membangun hubungan baik dengan sesama, dan memberikan manfaat bagi lingkungan.

Dan pesan “Basamo Kito Bisa, Basatu Kito Gadang” menjadi pengingat bahwa kekuatan organisasi bukan berada pada satu orang, melainkan pada kemampuan seluruh keluarga besar untuk berjalan bersama.

KKSB Riau diharapkan tidak hanya menjadi wadah untuk mengenang kampung halaman, tetapi juga menjadi kekuatan sosial yang ikut membangun masa depan Riau. Dari persaudaraan, lahir kebersamaan. Dari kebersamaan, tumbuh kontribusi. Dan dari kontribusi, lahirlah Riau yang semakin bersatu dan maju.

Tentang Kerukunan Keluarga Sumatera Barat (KKSB) Provinsi Riau

1. KKSB merupakan Wadah Berhimpun IK – IK/Paguyuban Kedaerahan bernegeri asal dari Sumatera Barat yang berada di Riau atau dapat dimaknai sebagai Rumah Gadang (Rumah Besar) IK – IK asal Sumatera Barat di Riau.

2. Kekhususan KKSB adalah: Pemgurusnya terdiri dari Tokoh/Ketua/Pengurus IK yang tergabung dalam KKSB sedangkan Kepengurusan KKSB hanya ada di Tingkat Provinsi (PUSAT) dan pada Tingkat Kabupaten/Kota saja. Untuk Anggota tetap berada pada IK – IK yang tergabung.

3. Melalui Musyawarah Besar (MUBES) II Nehry Mangkuto Ameh Datuk Mangkuto Alam terpilih kembali secara aklamasi sebagai Ketua Umum untuk kedua kalimya.

4. KKSB Riau selain dipimpin oleh seorang Ketua Umum terdapar sebanyak 4 Orang Wakil Ketua Umum yaitu : 1. Ketua Pesisir Selatan (IKPS) , 2. Ketua I K Padang Panjang Sekitarnya , 3. Tokoh Pariaman , 4. Tokoh Pasaman – Pasaman Barat dan selanjut unsur Ketua ditempati oleh para Ketua – Ketua I K seperti Agam (IKLA) , Sulit Air (SAS) , Tokoh Payakumbuh / Gonjong Lima serta I K lainnya.

Semoga Bermanfaat