Hari Santri Nasional 2026, Dir PP RRI Mistam: Konsistensi Santri Merawat Semangat dan Nilai Kejuangan Resolusi Jihad

Waktu Baca : 5 minutes

TANHANANEWS.COM, JAKARTA — Peringatan Hari Santri Nasional Tahun 2026 yang mengangkat tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali kontribusi historis santri dalam perjuangan kemerdekaan, sekaligus memperkuat peran strategisnya dalam pembangunan bangsa menghadapi tantangan global menuju Indonesia Emas 2045.

Direktur Program dan Produksi Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI), juga sebagai Ketua Digital dan Hubungan Media Lembaga Persahabatan Ormas Islam Indonesia (LPOI) M. Krisna Mistam atau yang akrab disapa Mistam, menegaskan bahwa sejarah perjuangan bangsa Indonesia tidak dapat dipisahkan dari pengabdian para ulama, kiai, dan santri yang turut mengambil bagian dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Salah satu tonggak penting perjuangan tersebut adalah lahirnya Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945, yang diserukan oleh para ulama Nahdlatul Ulama di bawah kepemimpinan KH. Hasyim Asy’ari. Resolusi tersebut membangkitkan semangat perjuangan umat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman kembalinya kekuasaan kolonial.

Semangat perjuangan yang kemudian menjadi salah satu kekuatan moral dalam perlawanan rakyat, termasuk peristiwa heroik 10 November 1945 di Surabaya, merupakan warisan sejarah yang harus terus dipelihara dan diwariskan kepada generasi penerus bangsa.

“Resolusi Jihad mengajarkan bahwa kecintaan terhadap tanah air, keberanian membela kedaulatan bangsa, dan kerelaan berkorban demi kepentingan negara merupakan nilai kejuangan yang tidak boleh luntur oleh perubahan zaman. Santri memiliki tanggung jawab moral untuk terus merawat dan mengaktualisasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” tegas Mistam.

Merawat Nilai Kejuangan dalam Semangat Kebangsaan

Menurut Mistam, konsistensi santri dalam menjaga semangat Resolusi Jihad tidak cukup diwujudkan melalui kegiatan seremonial atau mengenang peristiwa sejarah semata, melainkan harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Nilai-nilai kejuangan seperti patriotisme, nasionalisme, disiplin, kejujuran, solidaritas, persatuan, dan semangat pengabdian merupakan fondasi penting dalam membangun karakter generasi muda Indonesia.

Dalam konteks kekinian, perjuangan santri telah mengalami transformasi. Apabila pada masa revolusi kemerdekaan para santri turut berjuang menghadapi ancaman penjajahan secara fisik, maka generasi santri saat ini dihadapkan pada tantangan yang semakin kompleks, mulai dari perkembangan teknologi, persaingan ekonomi global, perubahan sosial budaya, hingga ancaman disinformasi dan melemahnya nilai-nilai kebangsaan.

Karena itu, semangat Resolusi Jihad harus dimaknai sebagai dorongan moral untuk memperjuangkan kemajuan bangsa melalui pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan, inovasi, pemberdayaan ekonomi, serta kontribusi sosial yang berkelanjutan.

“Perjuangan masa kini bukan lagi semata-mata mengangkat senjata, tetapi juga memerangi kebodohan, kemiskinan, ketertinggalan, intoleransi, dan berbagai persoalan yang dapat menghambat kemajuan bangsa. Di sinilah nilai kejuangan santri menemukan relevansinya dalam kehidupan modern,” lanjutnya.

Santri sebagai Kekuatan Strategis Generasi Emas 2045

Mistam memandang bahwa cita-cita Indonesia Emas 2045 membutuhkan generasi muda yang tidak hanya unggul dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki integritas moral, ketahanan karakter, kepedulian sosial, serta komitmen kebangsaan yang kuat.

Dalam hal ini, pesantren memiliki posisi strategis sebagai salah satu lembaga pendidikan yang berperan dalam membentuk karakter, menanamkan nilai keagamaan, mengembangkan kemandirian, dan membangun kepedulian terhadap kehidupan bermasyarakat.

Tradisi pendidikan pesantren yang menekankan keseimbangan antara ilmu, akhlak, kedisiplinan, dan tanggung jawab sosial merupakan modal penting dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi dinamika perubahan dunia.

Namun demikian, tantangan menuju Indonesia Emas 2045 menuntut adanya penguatan kapasitas santri agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas dan akar nilai kebangsaannya.

Santri perlu memperoleh kesempatan yang semakin luas untuk mengembangkan kompetensi dalam bidang sains, teknologi, ekonomi digital, kewirausahaan, kepemimpinan, serta berbagai keterampilan yang dibutuhkan dalam persaingan global.

“Indonesia Emas 2045 tidak cukup dibangun oleh generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga membutuhkan manusia Indonesia yang berakhlak, berintegritas, memiliki semangat kebangsaan, serta mampu menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun kelompok,” ungkapnya.

Menghadapi Tantangan Global dengan Karakter dan Jati Diri Bangsa

Perkembangan globalisasi dan transformasi digital membawa peluang besar sekaligus tantangan serius bagi generasi muda Indonesia.

Kemajuan kecerdasan buatan, otomatisasi, perkembangan ekonomi digital, dan perubahan kebutuhan dunia kerja menuntut kemampuan adaptasi, kreativitas, serta penguasaan keterampilan baru.

Di sisi lain, derasnya arus informasi dan pengaruh budaya global juga memerlukan kemampuan berpikir kritis agar generasi muda tidak mudah terpengaruh oleh informasi menyesatkan, paham ekstrem, maupun berbagai bentuk polarisasi yang dapat mengancam persatuan nasional.

Mistam menilai bahwa santri memiliki potensi untuk mengambil peran penting dalam menjawab tantangan tersebut dengan mengintegrasikan kekuatan spiritual, kecerdasan intelektual, dan kesadaran kebangsaan.

Pendidikan pesantren perlu terus didorong agar mampu mengembangkan inovasi pembelajaran, literasi digital, penguasaan teknologi, serta kemampuan kewirausahaan, dengan tetap mempertahankan nilai-nilai luhur yang menjadi identitasnya.

“Santri masa depan harus mampu berdiri sejajar dalam kompetisi global, tetapi tetap berpijak pada nilai-nilai Pancasila, semangat Bhinneka Tunggal Ika, dan komitmen menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegasnya.

Peran Strategis RRI dalam Merawat Nilai Kejuangan dan Semangat Kebangsaan

Sebagai lembaga penyiaran publik yang memiliki perjalanan panjang dalam sejarah perjuangan bangsa, Radio Republik Indonesia mempunyai peran penting dalam menjaga memori kolektif nasional, memperkuat persatuan, serta menyebarluaskan nilai-nilai kebangsaan kepada seluruh lapisan masyarakat.

Mistam memandang bahwa semangat perjuangan para ulama dan santri yang tercermin dalam Resolusi Jihad memiliki keterkaitan historis dengan semangat perjuangan bangsa yang turut melandasi kelahiran RRI pada 11 September 1945.

Sejak masa awal kemerdekaan, radio telah menjadi salah satu sarana komunikasi penting dalam menyampaikan informasi, membangkitkan semangat perjuangan, dan memperkuat solidaritas rakyat Indonesia.

Dalam perkembangan zaman, tanggung jawab tersebut terus bertransformasi melalui penyiaran yang edukatif, informatif, inspiratif, serta mampu menjangkau masyarakat lintas generasi dan wilayah.

Menurut Mistam, RRI memiliki ruang pengabdian yang luas untuk menghadirkan program-program siaran yang memperkuat pemahaman sejarah perjuangan bangsa, menumbuhkan nasionalisme, serta memberikan kesempatan kepada generasi muda, termasuk santri, untuk menyampaikan gagasan dan karya positif.

Penguatan literasi media, pendidikan karakter kebangsaan, pengembangan kreativitas generasi muda, dan penyebarluasan informasi yang terpercaya menjadi bagian penting dari kontribusi penyiaran publik dalam pembangunan nasional.

“RRI bukan hanya memiliki tanggung jawab menyampaikan informasi kepada masyarakat, tetapi juga menjadi ruang pendidikan, penguatan karakter, dan pemersatu bangsa. Nilai-nilai perjuangan para ulama dan santri harus terus dihadirkan melalui siaran yang mampu menginspirasi generasi muda untuk berkarya dan mengabdi kepada Indonesia,” jelas Mistam.

Ia juga menekankan pentingnya memberikan ruang yang lebih luas bagi santri dan komunitas pesantren untuk berpartisipasi dalam ekosistem komunikasi dan penyiaran modern.

Melalui pemanfaatan radio, platform digital, dan berbagai bentuk produksi konten kreatif, pesan-pesan kebangsaan, toleransi, persatuan, serta semangat pengabdian dapat disampaikan dengan pendekatan yang relevan bagi generasi masa kini.

Dengan demikian, nilai-nilai Resolusi Jihad tidak hanya menjadi bagian dari pembelajaran sejarah, tetapi juga hadir sebagai inspirasi yang hidup dalam ruang publik dan kehidupan masyarakat.

Dari Resolusi Jihad Menuju Indonesia Emas 2045

Peringatan Hari Santri Nasional hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan perjuangan mengisi kemerdekaan merupakan dua bagian yang tidak terpisahkan dalam perjalanan sejarah bangsa.

Jika Resolusi Jihad 1945 menjadi simbol keberanian dan keteguhan mempertahankan kemerdekaan, maka semangat yang sama pada masa kini harus diwujudkan melalui kerja keras, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan persatuan, dan percepatan pembangunan nasional.

Menjelang satu abad kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 2045, bangsa Indonesia memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa generasi penerus mampu melanjutkan cita-cita para pendiri bangsa dan pejuang kemerdekaan.

Santri diharapkan tidak hanya menjadi penjaga tradisi dan nilai-nilai moral, tetapi juga tampil sebagai pelopor perubahan, penggerak kemajuan, serta bagian dari kepemimpinan nasional yang mampu menjawab kebutuhan zaman.

Untuk itu, penguatan kualitas pendidikan, perluasan akses teknologi, pembentukan karakter kebangsaan, serta peningkatan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan harus menjadi perhatian bersama.

Mistam menegaskan bahwa keberhasilan Indonesia menuju tahun 2045 sangat ditentukan oleh kemampuan seluruh komponen bangsa dalam mempersiapkan generasi muda yang berkualitas, bersatu, dan memiliki kesadaran terhadap tanggung jawab sejarahnya.

Dalam konteks tersebut, media penyiaran publik mempunyai tanggung jawab untuk terus menghadirkan informasi yang mencerdaskan, memperluas wawasan masyarakat, serta membangun optimisme terhadap masa depan Indonesia.

“Resolusi Jihad telah mewariskan semangat keberanian untuk mempertahankan kemerdekaan. Kini saatnya generasi santri membuktikan konsistensi nilai kejuangan tersebut melalui prestasi, inovasi, persatuan, dan pengabdian nyata untuk mewujudkan Indonesia yang maju, berdaulat, adil, dan sejahtera,” ujarnya.

Meneguhkan Pengabdian untuk Bangsa dan Negara

Mengakhiri pandangannya, Mistam mengajak seluruh santri dan generasi muda Indonesia untuk menjadikan peringatan Hari Santri Nasional 2026 sebagai momentum memperkuat tekad bersama dalam menjaga persatuan, merawat nilai-nilai perjuangan, serta meningkatkan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional.

Hari Santri bukan hanya milik kalangan pesantren, melainkan juga bagian dari perjalanan sejarah bangsa yang mengingatkan seluruh rakyat Indonesia akan pentingnya persatuan, pengorbanan, dan tanggung jawab dalam menjaga kemerdekaan.

Semangat Resolusi Jihad harus tetap hidup dalam setiap langkah pengabdian generasi muda, bukan sebagai romantisme sejarah, melainkan sebagai kekuatan moral yang mendorong kemajuan bangsa.

Sebagai bagian dari ekosistem penyiaran nasional, RRI diharapkan terus menjadi media yang menghubungkan nilai-nilai sejarah dengan kebutuhan masa depan, mempertemukan keberagaman masyarakat, serta memberikan ruang bagi lahirnya generasi muda yang berpengetahuan, berkarakter, dan memiliki kecintaan terhadap Indonesia.

“Selamat memperingati Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2026. Mari kita rawat semangat dan nilai kejuangan Resolusi Jihad, memperkokoh persatuan nasional, serta membangun generasi muda yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing global. Bersama santri, kita kuatkan negeri dan songsong Indonesia Emas 2045,” pungkas Mistam.

REDAKSI | EDITOR: EP