Oleh: Editor, merangkum dari berbagai Sumber
PURWOREJO, 1 NOVEMBER 2026 — Sejarah Banten tidak hanya berbicara tentang kejayaan perdagangan lada, kekuatan maritim, penyebaran Islam, dan perlawanan terhadap kolonialisme.
Lebih dari itu, Banten menyimpan jejak hubungan internasional yang memperlihatkan bagaimana sebuah kesultanan di Nusantara telah membangun komunikasi politik, keagamaan, dan diplomasi dengan pusat-pusat kekuasaan dunia pada abad ke-17.
Salah satu tempat yang memiliki arti penting dalam perjalanan sejarah tersebut adalah Situs Sejarah Kenari, yang terletak di Kelurahan Kasunyatan, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Provinsi Banten.
Kampung Kenari bukan sekadar kawasan bersejarah dengan kompleks makam dan Masjid Agung Kenari.
Kawasan ini memiliki keterkaitan erat dengan Sultan Abu al-Mafakhir Mahmud Abdul Qadir (1596–1651), Sultan Banten keempat, yang dikenal sebagai salah satu penguasa penting dalam perkembangan hubungan Kesultanan Banten dengan dunia Islam internasional.
Diplomasi Banten dan Turki Utsmani
Pada abad ke-17, Kesultanan Banten berkembang menjadi salah satu kekuatan politik dan perdagangan penting di kawasan Asia Tenggara.
Pelabuhan Banten menjadi tempat pertemuan pedagang dari berbagai bangsa, sementara lada menjadi komoditas strategis yang memperkuat posisi ekonomi dan diplomasi kesultanan.
Dalam konteks geopolitik saat itu, hubungan Banten dengan dunia Islam memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar perdagangan. Makkah, yang ketika itu berada dalam lingkungan kekuasaan politik
Kesultanan Utsmaniyah, menjadi salah satu pusat rujukan keagamaan sekaligus jaringan diplomasi bagi penguasa Muslim Nusantara.
Sultan Abu al-Mafakhir menjalin hubungan dengan otoritas keagamaan di Makkah. Pengiriman utusan untuk menunaikan ibadah haji dan membangun komunikasi dengan penguasa setempat menjadi bagian dari upaya memperkuat legitimasi keagamaan serta kedudukan Kesultanan Banten.
Salah satu peristiwa penting yang sering dikaitkan dengan hubungan tersebut adalah pengiriman utusan Banten ke Makkah pada dekade 1630-an. Rombongan itu kemudian kembali ke Banten pada 1638 dengan membawa hadiah dan tanda kehormatan dari Syarif Makkah.
Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa Banten memiliki kemampuan menjalin hubungan diplomatik lintas kawasan, sekaligus membangun pengakuan dan kehormatan dalam lingkungan politik-keagamaan dunia Islam.
Penting dicatat bahwa hubungan dengan Makkah yang berada di bawah kekuasaan Utsmaniyah tidak serta-merta membuktikan adanya perjanjian pengakuan kedaulatan formal antara Istanbul dan Banten dalam pengertian hukum internasional modern.
Namun, hubungan tersebut merupakan bukti penting keterhubungan politik, keagamaan, dan diplomatik Banten dengan jaringan dunia Islam yang berada dalam pengaruh Kesultanan Utsmaniyah.
Sultan Kenari dan Warisan Sejarah Diplomasi
Sultan Abu al-Mafakhir memiliki tempat tersendiri dalam sejarah Banten. Ia dikenal sebagai penguasa yang memperkuat identitas kesultanan Islam, mengembangkan tata pemerintahan, serta memperluas hubungan dengan berbagai kekuatan asing.
Dalam berbagai catatan sejarah, Sultan Abu al-Mafakhir juga dikenal dengan gelar Sultan Kenari, yang dikaitkan dengan kawasan Kenari sebagai salah satu lingkungan penting dalam kehidupan kesultanan.
Di kawasan inilah terdapat kompleks makam Sultan Abu al-Mafakhir dan peninggalan Masjid Kenari. Keberadaan keduanya menjadi bukti bahwa Kenari mempunyai fungsi penting dalam kehidupan politik, sosial, dan keagamaan Kesultanan Banten.
Dengan demikian, Kenari dapat dibaca sebagai salah satu pintu masuk untuk memahami sejarah hubungan Banten dengan jaringan dunia Islam, termasuk hubungan diplomatik dengan Makkah pada masa pengaruh politik Turki Utsmani.
Banten dalam Peta Sejarah Dunia
Hubungan Kesultanan Banten dengan dunia Islam pada abad ke-17 juga mengingatkan kita bahwa Nusantara bukan wilayah yang terisolasi dari perkembangan geopolitik internasional.
Jauh sebelum lahirnya Republik Indonesia, kerajaan-kerajaan di Nusantara telah membangun jaringan komunikasi dan diplomasi dengan berbagai pusat kekuasaan dunia. Banten berhubungan dengan Makkah, Belanda, Inggris, Denmark, dan Prancis melalui kepentingan perdagangan, politik, maupun keagamaan.
Kenyataan ini penting untuk mengoreksi pandangan bahwa sejarah diplomasi Indonesia baru dimulai setelah kemerdekaan 1945.
Tradisi hubungan luar negeri sesungguhnya memiliki akar panjang dalam sejarah kerajaan-kerajaan Nusantara.
Menjaga Kenari sebagai Warisan Diplomasi dan Peradaban
Situs Sejarah Kenari sepatutnya mendapatkan perhatian lebih besar dari pemerintah, akademisi, sejarawan, budayawan, serta masyarakat Banten.
Pelestariannya tidak cukup hanya melalui perlindungan fisik makam dan masjid. Diperlukan pula penelitian sejarah yang lebih mendalam, pendokumentasian manuskrip, pengembangan museum atau pusat informasi sejarah, serta penyusunan narasi edukasi yang dapat menjelaskan hubungan Banten dengan Makkah dan Kesultanan Utsmaniyah.
Bahkan, Kenari memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata sejarah dan diplomasi peradaban yang menghubungkan Indonesia dengan Turki.
Hubungan kebudayaan Indonesia–Turki tidak harus dibangun hanya melalui diplomasi modern, perdagangan, pendidikan, dan pariwisata. Jejak sejarah bersama juga dapat menjadi jembatan persahabatan kedua bangsa.
Catatan Editor:
Situs Sejarah Kenari mengajarkan bahwa sejarah lokal sesungguhnya dapat memiliki makna global.
Di sebuah kawasan di Kasemen, Kota Serang, tersimpan jejak perjalanan seorang sultan yang membangun hubungan dengan pusat-pusat peradaban Islam pada masanya.
Kenari bukan hanya bagian dari identitas sejarah masyarakat Banten. Ia merupakan salah satu saksi perjalanan diplomasi Nusantara, yang memperlihatkan bahwa Banten pernah menjadi bagian dari jaringan politik, perdagangan, dan keagamaan dunia.
Sudah saatnya Situs Sejarah Kenari diangkat menjadi salah satu warisan diplomasi dan peradaban Indonesia, sekaligus jembatan sejarah yang mempererat hubungan persahabatan antara Indonesia dan Turki.
Sejarah bukan sekadar masa lalu yang dikenang, melainkan identitas dan kekuatan peradaban yang harus dijaga untuk masa depan. (*)






