Oleh: Elyzabeth Bulan Marcahaya – Wakil Sekretaris Jenderal PPM-LVRI. Merangkum dari berbagai sumber
JAKARTA, 2 November 2026 — Ada realitas sosial yang semakin nyata dalam kehidupan masyarakat Indonesia: perempuan muda yang harus memikul tanggung jawab lintas generasi. Mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan sendiri, membantu orang tua, membiayai pendidikan adik, bahkan mengurus anak dan keluarga. Akibatnya, pendidikan lanjutan, pengembangan karier, tabungan, dan cita-cita pribadi sering kali harus dikorbankan.
Fenomena ini dikenal sebagai Sandwich Generation atau generasi sandwich, yaitu kelompok usia produktif yang berada di antara dua tuntutan sekaligus: menopang generasi lebih tua dan memenuhi kebutuhan generasi lebih muda.
Asal-usul Istilah Generasi Sandwich
Istilah Sandwich Generation dipopulerkan oleh Dorothy A. Miller melalui artikel ilmiah The ‘Sandwich’ Generation: Adult Children of the Aging yang diterbitkan dalam jurnal Social Work pada 1981.
Istilah ini menggunakan analogi roti lapis: generasi orang tua berada di lapisan atas, individu usia produktif menjadi lapisan tengah, sedangkan anak-anak atau generasi muda berada di lapisan bawah.
Individu di tengah harus memberikan dukungan ekonomi, waktu, tenaga, dan perhatian kepada kedua generasi tersebut.
Konsep ini kemudian berkembang dalam kajian sosiologi dan demografi. Generasi sandwich bukanlah kategori berdasarkan tahun kelahiran seperti Milenial atau Generasi Z, melainkan posisi sosial seseorang yang memiliki tanggung jawab terhadap dua generasi sekaligus.
Mengapa Fenomena Ini Muncul?
Fenomena generasi sandwich muncul akibat pertemuan beberapa faktor.
Pertama, meningkatnya usia harapan hidup dan jumlah penduduk lanjut usia yang membutuhkan dukungan kesehatan serta perawatan jangka panjang.
Kedua, perubahan struktur keluarga yang menyebabkan kebutuhan anak dan orang tua dapat berlangsung secara bersamaan.
Ketiga, keterbatasan dana pensiun, tabungan hari tua, dan perlindungan sosial sehingga sebagian orang tua masih bergantung secara ekonomi kepada anak.
Keempat, budaya kekeluargaan yang kuat. Nilai bakti kepada orang tua merupakan keunggulan masyarakat Indonesia, tetapi dapat menjadi beban ketika tanggung jawab keluarga hanya ditumpukan kepada satu orang.
Kelima, belum meratanya fasilitas pengasuhan anak dan perawatan lansia sehingga sebagian besar tanggung jawab kembali kepada keluarga.
Penelitian Alburez-Gutierrez, Mason, dan Zagheni (2021), The “Sandwich Generation” Revisited: Global Demographic Drivers of Care Time Demands, menjelaskan bahwa perubahan angka kelahiran, harapan hidup, dan struktur demografi turut menentukan besarnya tuntutan pengasuhan lintas generasi.
Mengapa Perempuan Muda Lebih Rentan?
Generasi sandwich dapat dialami laki-laki maupun perempuan. Namun, perempuan sering menghadapi beban lebih besar karena masih kuatnya konstruksi sosial yang menempatkan mereka sebagai pengelola rumah tangga dan pengasuh utama keluarga.
Mereka bukan hanya dituntut bekerja dan menghasilkan pendapatan, tetapi juga mengurus anak, mendampingi orang tua, serta menjaga keharmonisan keluarga.
Kondisi ini dikenal sebagai double burden atau beban ganda, bahkan dapat berkembang menjadi triple burden ketika tanggung jawab ekonomi, domestik, dan sosial berlangsung bersamaan.
Penelitian Dian Kristiani Irawaty dan Maria Gayatri mengenai perempuan generasi sandwich di Jakarta menunjukkan adanya ketimpangan pembagian pekerjaan pengasuhan dan tanggung jawab emosional dalam keluarga.
Akibatnya, perempuan muda berisiko mengalami kelelahan fisik, tekanan psikologis, kecemasan, dan rasa bersalah karena harus memilih antara kepentingan keluarga dan masa depannya sendiri.
Jebakan Ekonomi dan Masa Depan Perempuan
Persoalan generasi sandwich tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan mengatur keuangan. Ini juga menyangkut struktur ekonomi keluarga dan keterbatasan perlindungan sosial.
Seorang perempuan yang penghasilannya digunakan untuk membantu orang tua, membiayai pendidikan adik, dan memenuhi kebutuhan anak akan kesulitan membangun tabungan, membeli rumah, melanjutkan pendidikan, atau mempersiapkan masa pensiun.
Jika kondisi ini terus berlangsung, ketergantungan ekonomi berpotensi diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dampaknya bukan hanya dirasakan keluarga, tetapi juga pembangunan nasional. Perempuan yang seharusnya memiliki kesempatan menjadi pemimpin, pengusaha, tenaga profesional, dan inovator justru kehilangan sebagian potensinya karena beban pengasuhan yang tidak terbagi secara adil.
Karena itu, Indonesia Emas 2045 tidak boleh dibangun dengan mengorbankan masa depan perempuan muda.
Membangun Solusi dan Tanggung Jawab Bersama
Persoalan generasi sandwich harus menjadi perhatian keluarga, masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah.
Beberapa langkah penting yang perlu diperjuangkan adalah:
- Pembagian tanggung jawab keluarga secara adil, sehingga pengasuhan orang tua dan anak tidak hanya dibebankan kepada perempuan.
- Pemberdayaan ekonomi perempuan, melalui pendidikan, keterampilan, kewirausahaan, pekerjaan layak, dan literasi keuangan.
- Penguatan perlindungan sosial, termasuk jaminan kesehatan, pensiun, dan layanan perawatan lansia.
- Pengembangan ekonomi perawatan (care economy), melalui fasilitas penitipan anak dan layanan perawatan lansia yang terjangkau.
- Lingkungan kerja ramah keluarga, dengan fleksibilitas kerja dan kebijakan yang mendukung keseimbangan kehidupan profesional dan keluarga.
- Peran organisasi kepemudaan dan perempuan, dalam edukasi, advokasi, pendampingan, serta pemberdayaan perempuan muda.
Perspektif PPM-LVRI: Jangan Wariskan Beban, Wariskan Kemandirian
Dalam perspektif Pemuda Panca Marga (PPM-LVRI) persoalan generasi sandwich merupakan bagian dari tantangan perjuangan sosial generasi penerus bangsa.
Nilai perjuangan, pengabdian, solidaritas, dan tanggung jawab kebangsaan harus diwujudkan melalui upaya membangun masyarakat yang adil, sejahtera, dan bermartabat.
Perempuan muda Indonesia bukan hanya penerus keluarga, tetapi juga calon pemimpin, penggerak ekonomi, pendidik, inovator, dan pembentuk karakter generasi mendatang.
PPM-LVRI dapat turut mendorong partisipasi perempuan muda dalam pembangunan, memperkuat solidaritas antargenerasi, serta memperjuangkan kesetaraan kesempatan.
Menghormati orang tua dan memperjuangkan masa depan anak tidak berarti seorang perempuan harus kehilangan hak untuk memiliki cita-cita, karier, dan kehidupan yang sejahtera.
Pada akhirnya, generasi sandwich bukan tentang menolak tanggung jawab keluarga, melainkan tentang bagaimana membangun keseimbangan agar pengabdian tidak berubah menjadi pengorbanan tanpa batas.
Indonesia membutuhkan perempuan yang berdaya, bukan perempuan yang terus-menerus dipaksa bertahan dalam keterbatasan.
Jangan biarkan perempuan muda Indonesia hanya menjadi penyangga masa lalu dan masa depan keluarganya. Berikan mereka kesempatan untuk tumbuh, berkarya, memimpin, dan menjadi bagian penting dari masa depan bangsa.
⸻
Referensi
- Miller, Dorothy A. (1981). The ‘Sandwich’ Generation: Adult Children of the Aging. Social Work, 26(5), 419–423. https://doi.org/10.1093/sw/26.5.419
- Alburez-Gutierrez, D., Mason, C., & Zagheni, E. (2021). The “Sandwich Generation” Revisited: Global Demographic Drivers of Care Time Demands. Population and Development Review, 47(4), 997–1023. https://doi.org/10.1111/padr.12436
- Irawaty, D. K. & Gayatri, M. Sensing the Squeeze of Sandwich Generation Women in Jakarta, Indonesia. Journal of Family Sciences.
- International Labour Organization (ILO). Building Long-Term Care for Older Persons in Indonesia (2025).
- World Bank (2026). How Will Changing Eldercare Needs Impact Indonesia’s Workforce?






