Kisah Sa’id bin Zaid

Sa'id bin Zaid adalah satu sahabat yang tak pernah mengecewakan Nabi. Darinya membuktikan bahwa doa orang teraniaya suatu saat akan dikabulkan Allah. (Foto- CNNIndonesia:Basith Subastian)
Waktu Baca : 2 minutes

KISAH SAHABAT NABI

Sa’id bin Zaid merupakan sahabat Nabi yang berasal dari golongan Muhajirin penyembah berhala, yaitu putra dari Zaid bin ‘Amr.

Di satu waktu ayah Sa’id yaitu Zaid bin ‘Amr mendapat siksaan dari kaum Quraisy. Bahkan Zaid sempat melarikan diri namun harus tertangkap kembali.

Dalam situasi berbahaya itu Zaid diam-diam pergi mengunjungi Nabi Muhammad. Tapi setelah bertemu dengan nabi, Zaid justru kembali disiksa oleh kaum Quraisy.

Zaid bin ‘Amr yang saat itu berada pada ketidakpastian memanjatkan doa “Ya Allah, jika Engkau menghalangi kebaikan dari diriku, janganlah Engkau halangi kebaikan dari Sa’id anakku.”

Doa-doa Zaid tersebut didengar dan dikabulkan Allah. Sa’id bersama Fathimah binti Khatab kemudian resmi masuk Islam. Keduanya memisahkan diri dari kaum berhala.

Sosok Sa’id sangat menjunjung tinggi nilai-nilai serta adab dalam Islam. Dirinya juga menjadi seorang Muslim pada periode awal agama Islam.

Sa’id pun termasuk orang beriman kepada Allah yang membenarkan kerasulan Nabi Muhammad SAW.

Sebagai pengikut Nabi Muhammad, Sa’id mendedikasikan hidupnya untuk agama Islam. Ia juga ikut bergabung dalam berbagai peperangan dan diutus untuk mengamati kafilah Quraisy.

Sa’id bin Zaid berjuang bersama para sahabat Nabi dalam berbagai perang. Prestasi mengagumkan dari Sa’id ada pada perang Yarmuk. Saat itu prajurit Muslim hanya berjumlah 24 ribu orang sedangkan harus menghadapi tentara Romawi 120 ribu orang.

Dikarenakan peperangan ini demi memenangkan agama Allah serta tidak berhenti berzikir, Sa’id beserta kawanan prajurit Muslim mampu mengalahkan musuh dengan kemenangan.

Usai ikut berjuang dalam perang Yarmuk, Sa’id menetap di Dimasyq. Namun, permasalahan mulai muncul di hadapannya dengan tuduhan bahwa Sa’id telah merebut tanah milik seseorang bernama Arwa.

Fitnah yang meluas mengenai Sa’id merebut tanah Arwa itu membuatnya dihina orang-orang sekitar sampai ia terpukul merasakan sakit hati paling mendalam.

Meski di tengah keadaan sulit Sa’id tak berhenti berdoa kepada Allah dan mengatakan, “Ya Allah, Arwa telah menuduhku. Jika dia berdusta maka butakanlah matanya.”

Maha besar Allah atas segala kehendaknya mengabulkan doa Sa’id dan kemudian harinya memang terbukti bahwa Arwa tidak bisa melihat.

Selang beberapa hari dari kejadian fitnah itu, sebuah banjir dahsyat melanda kawasan Dimasyq yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dari banjir tersebut diperlihatkan oleh Allah mengenai batas dari tanah yang disengketakan oleh Arwa kepada Sa’id. Sehingga kaum Muslimin pun memercayai bahwa tuduhan Arwa palsu.

Peristiwa luar biasa itu menjadi bukti atas apa yang pernah Rasulullah katakan dalam sabda berikut.

“Takutilah doa orang teraniaya, karena antara dia dengan Allah tidak ada hijab (batas).” Terutama jika yang teraniaya adalah salah satu dari 10 sahabat Rasul yang dijanjikan surga.

Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair di surga, Abdur Rahman bi Auf di surga, Sa’id bin Abi Waqqas di surga, Sa’id bin Zaid di surga, Abu Ubaidah bin al-Jarrah di surga. [HR.Ahmad, Tirmidzi dan An-Nasai].

Sumber : CNNINDONESIA.COM