Jadikan Pusat Pertumbuhan Baru, PD PPM-LVRI Dorong Percepatan Pembangunan Wilayah Selatan Jawa Temgah

Waktu Baca : 4 minutes

TANHANANEWS.COM, SEMARANG — Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Panca Marga (PD PPM-LVRI) Provinsi Jawa Tengah, Dr. Adhi Siswanto WN, S.Pd., M.Th., menegaskan pentingnya percepatan pembangunan wilayah selatan Jawa Tengah sebagai bagian integral dari upaya menciptakan pemerataan pembangunan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus membuka pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Menurut Adhi Siswanto, pembangunan Jawa Tengah tidak boleh hanya terkonsentrasi pada kawasan yang selama ini telah menjadi pusat pertumbuhan ekonomi. Wilayah selatan memiliki potensi besar di bidang pertanian, perkebunan, peternakan, kelautan dan perikanan, industri pengolahan, pariwisata, ekonomi kreatif serta sumber daya manusia yang perlu mendapatkan dukungan kebijakan dan investasi yang lebih kuat.

“Wilayah selatan Jawa Tengah jangan dipandang sebagai halaman belakang pembangunan. Selatan harus ditempatkan sebagai salah satu masa depan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah,” tegas Adhi Siswanto dalam pernyataannya di Semarang, Sabtu, 12 November 2026 (malam).

Ia mengatakan, pembangunan wilayah selatan harus dilakukan secara terintegrasi, tidak sebatas pembangunan infrastruktur fisik. Infrastruktur memang penting, tetapi harus diikuti dengan pembangunan ekosistem ekonomi yang mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan produktivitas masyarakat dan menghasilkan nilai tambah bagi daerah.

Adhi menilai salah satu persoalan penting yang harus segera dibenahi adalah konektivitas antarwilayah.

Jaringan jalan, jembatan, transportasi publik, konektivitas digital, sistem logistik, akses menuju sentra produksi, kawasan industri, pelabuhan, destinasi wisata dan pusat-pusat pendidikan harus dirancang dalam satu kesatuan.

“Kalau konektivitas kuat, biaya logistik turun, mobilitas masyarakat meningkat, investasi lebih mudah masuk dan produk unggulan daerah dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Karena itu, pembangunan konektivitas selatan harus dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar belanja infrastruktur,” ujarnya.

Menurutnya, kawasan Cilacap, Banyumas dan Purbalingga memiliki peluang membentuk satu kekuatan ekonomi yang saling melengkapi. Sementara Kebumen dan Purworejo memiliki potensi besar pada sektor pertanian, pariwisata, ekonomi pesisir dan industri berbasis potensi lokal.

Adapun Wonogiri memiliki kekuatan strategis pada pertanian, ketahanan pangan, peternakan, sumber daya air, pariwisata dan agroindustri yang dapat dikembangkan terintegrasi dengan Solo Raya serta kawasan selatan Jawa.

PD PPM-LVRI Jawa Tengah juga mendorong agar pembangunan ekonomi wilayah selatan diarahkan pada hilirisasi.

Masyarakat tidak boleh selamanya hanya menjadi produsen bahan mentah sementara nilai tambah ekonominya dinikmati oleh wilayah lain.

“Petani harus memperoleh nilai tambah dari hasil pertaniannya. Nelayan harus memperoleh nilai tambah dari hasil lautnya. Pelaku UMKM harus naik kelas. Karena itu, industri pengolahan, teknologi, pembiayaan, pengemasan, standardisasi dan pemasaran harus dibangun dekat dengan pusat produksi,” kata Adhi.

Menurutnya pendekatan tersebut akan memperkuat ekonomi lokal sekaligus menciptakan lapangan kerja baru bagi generasi muda.

Wilayah selatan Jawa Tengah yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia juga memiliki potensi ekonomi biru yang sangat besar.

“Potensi perikanan, budidaya, pengolahan hasil laut, pelabuhan perikanan, wisata bahari dan ekonomi masyarakat pesisir harus menjadi bagian dari agenda pembangunan selatan,” kata Adhi.

Namun, pembangunan tersebut harus tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.

“Kita ingin pertumbuhan ekonomi, tetapi bukan pertumbuhan yang merusak. Ekonomi biru harus berjalan bersama konservasi laut, perlindungan pesisir dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.

Hal yang sama berlaku bagi sektor pariwisata. Pengembangan destinasi wisata selatan harus diarahkan pada peningkatan lama tinggal wisatawan, belanja wisatawan, pemberdayaan masyarakat lokal dan penguatan UMKM.

Sebagai organisasi kepemudaan yang memiliki hubungan historis dengan keluarga besar pejuang, PPM-LVRI memberikan perhatian khusus terhadap masa depan generasi muda di wilayah selatan.

Adhi juga menegaskan bahwa pemuda tidak boleh hanya menjadi objek program pembangunan.

“Pemuda harus menjadi subjek pembangunan. Mereka harus diberikan akses terhadap pendidikan vokasi, teknologi, permodalan, kewirausahaan, ekonomi kreatif, pertanian modern dan lapangan pekerjaan yang berkualitas,” katanya.

Pembangunan kawasan selatan harus mampu menghentikan fenomena keluarnya generasi produktif dari daerah karena keterbatasan kesempatan ekonomi.

Ia-pun mengingatkan bahwa pembangunan selatan harus mempertimbangkan ancaman perubahan iklim dan bencana.

Kekeringan, banjir, longsor, abrasi, krisis air dan potensi bencana pesisir harus masuk dalam perencanaan pembangunan jangka panjang.

“Pembangunan ekonomi harus berjalan beriringan dengan ketahanan pangan, ketahanan air dan ketahanan lingkungan. Jangan sampai kita mengejar pertumbuhan ekonomi tetapi mengabaikan daya dukung alam,” ujarnya.

Perlunya penguatan irigasi, embung, konservasi DAS, perlindungan sumber air, rehabilitasi lahan, pertanian adaptif terhadap perubahan iklim serta sistem peringatan dini bencana.

Lebih lanjut Adhi mengusulkan pembentukan forum koordinasi lintas daerah yang melibatkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, pemerintah kabupaten, pemerintah pusat, dunia usaha, perguruan tinggi, masyarakat dan organisasi kepemudaan.

“Kita membutuhkan orkestrasi pembangunan. Tidak boleh setiap kabupaten berjalan sendiri-sendiri. Potensi Cilacap harus terkoneksi dengan Banyumas dan Purbalingga. Kebumen harus memiliki konektivitas ekonomi yang kuat dengan Purworejo. Wonogiri harus terhubung dengan kekuatan ekonomi Solo Raya dan koridor selatan,” jelasnya.

Adhi kembali menegaskan bahwa perhatian lebih besar terhadap wilayah selatan bukan berarti mengabaikan wilayah lain di Jawa Tengah.

Justru, pembangunan selatan merupakan bagian dari upaya menciptakan keseimbangan baru dalam struktur ekonomi provinsi.

“Pemerataan bukan berarti semua daerah mendapatkan program yang sama. Pemerataan berarti setiap wilayah mendapatkan kesempatan yang adil untuk tumbuh sesuai potensi dan kebutuhan masing-masing,” tuturnya.

Ukuran keberhasilan pembangunan selatan tidak boleh hanya dilihat dari jumlah proyek infrastruktur, tetapi juga dari peningkatan pendapatan masyarakat, penurunan kemiskinan dan pengangguran, meningkatnya investasi, produktivitas pertanian dan industri, kualitas SDM, serta meningkatnya daya saing produk daerah.

PPM-LVRI Siap Mengawal

Sebagai bagian dari masyarakat Jawa Tengah, PD PPM-LVRI menyatakan siap berkontribusi dalam mengawal pembangunan wilayah selatan.

PPM-LVRI akan mendorong partisipasi masyarakat, khususnya generasi muda, agar pembangunan tidak hanya menjadi agenda pemerintah, tetapi menjadi gerakan bersama seluruh komponen masyarakat.

“PPM-LVRI bukan hanya ingin menyampaikan kritik atau usulan. Kami ingin menjadi bagian dari solusi. Semangat perjuangan para pendahulu harus kita aktualisasikan dalam bentuk perjuangan pembangunan, peningkatan kesejahteraan rakyat dan penguatan persatuan bangsa,” kata Adhi.

“Jawa Tengah tidak akan mencapai kemajuan yang utuh apabila masih terdapat kesenjangan pembangunan antarwilayah. Karena itu, sekarang saatnya membangun Jawa Tengah dengan perspektif baru: memperkuat utara, mengembangkan tengah, dan mempercepat selatan,” pungkas Ketua PPM-LVRI Jateng.

REFAKSI I EDITOR: EP