TANHANANEWS.COM, JAKARTA — Memperingati Hari Perdamaian Internasional yang jatuh pada 21 September 2026, Ketua Sishankamrata dan Kewiraan Pimpinan Pusat Pemuda Panca Marga (PP PPM-LVRI) H. Lingga Dwisaputra, S.E., M.M., mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan perdamaian bukan sekadar cita-cita, tetapi sebagai investasi bersama yang harus dirawat dan diperkuat dimanapun dan sampai kapanpun.
Peringatan tahun ini mengangkat tema “Investing in Peace: For Everyone, Everywhere, Every Day” atau “Berinvestasi dalam Perdamaian: Untuk Semua Orang, di Mana Saja, Setiap Hari.”
Tema tersebut, menurut Lingga memiliki relevansi kuat dengan upaya membangun ketahanan nasional Indonesia melalui penguatan kesadaran bela negara, Sishankamrata, dan pendidikan kewiraan.
“Perdamaian bukan hanya absennya konflik. Perdamaian membutuhkan investasi jangka panjang dalam pendidikan, persatuan, ketahanan sosial, kepedulian terhadap sesama, serta kesadaran setiap warga negara untuk menjaga keutuhan bangsa. Dalam konteks Indonesia, nilai-nilai tersebut sejalan dengan semangat Sishankamrata,” ujarnya.
Lingga juga berpendapat konsepsi Sishankamrata menempatkan seluruh sumber daya nasional sebagai bagian dari upaya mempertahankan kedaulatan, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa.
Karena itu, penguatan pertahanan dan keamanan tidak semata-mata berbicara mengenai kemampuan menghadapi ancaman bersenjata, tetapi juga tentang membangun masyarakat yang memiliki ketahanan menghadapi berbagai bentuk ancaman dan tantangan.
“Investasi dalam perdamaian pada hakikatnya juga merupakan investasi dalam ketahanan nasional. Masyarakat yang memiliki kesadaran kebangsaan, toleransi, disiplin, solidaritas, dan kemampuan menyelesaikan persoalan secara damai merupakan bagian penting dari kekuatan pertahanan semesta,” katanya.
Kewiraan sebagai Pendidikan Kesadaran Kebangsaan
Lingga menekankan pentingnya revitalisasi nilai-nilai kewiraan di tengah perubahan lingkungan strategis yang semakin kompleks. Menurutnya, pendidikan kewiraan perlu dipahami sebagai proses membangun kesadaran warga negara mengenai hak dan kewajibannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Generasi muda perlu dibekali wawasan kebangsaan dan kesadaran akan tanggung jawab sebagai warga negara. Kewiraan harus hadir sebagai pendidikan yang membangun karakter, kepedulian, disiplin, kepemimpinan, gotong royong, serta kemampuan menghadapi tantangan bangsa tanpa kehilangan jati diri Indonesia,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa tantangan perdamaian saat ini tidak hanya berbentuk konflik terbuka. Polarisasi sosial, penyebaran informasi yang menyesatkan, intoleransi, radikalisme, kejahatan siber, serta berbagai bentuk gangguan terhadap kohesi sosial juga membutuhkan masyarakat yang memiliki daya tangkal dan kemampuan berpikir kritis.
Dalam konteks tersebut, penguatan kewiraan dapat menjadi salah satu pendekatan pendidikan kebangsaan yang mendorong generasi muda memahami bahwa menjaga perdamaian merupakan tanggung jawab bersama.
PPM-LVRI Dorong Peran Generasi Muda
Sebagai organisasi yang memiliki keterkaitan historis dengan perjuangan para veteran Republik Indonesia, Pemuda Panca Marga (PPM-LVRI), menurut L. Dwisaputra, memiliki tanggung jawab moral untuk meneruskan nilai-nilai perjuangan dalam bentuk yang relevan dengan kebutuhan zaman.
“Semangat perjuangan generasi terdahulu harus diterjemahkan ke dalam konteks kekinian. Jika dahulu perjuangan dilakukan untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan, maka generasi sekarang memiliki tugas untuk menjaga persatuan, mengisi kemerdekaan, memperkuat ketahanan nasional, dan memastikan pembangunan berlangsung dalam suasana damai,” tuturnya.
Ia mengajak pemuda untuk menjadi bagian dari ekosistem perdamaian dengan mengembangkan budaya dialog, menghargai perbedaan, menghindari kekerasan, memperkuat gotong royong, serta menggunakan ruang digital secara bertanggung jawab.
“Pemuda jangan hanya menjadi objek dalam agenda perdamaian. Pemuda harus menjadi subjek dan kekuatan utama dalam membangun perdamaian. Setiap tindakan yang memperkuat persatuan adalah investasi bagi masa depan Indonesia,” tegasnya.
Perdamaian sebagai Fondasi Sishankamrata
Lingga menyampaikan bahwa Sishankamrata akan semakin kuat apabila didukung oleh masyarakat yang memiliki rasa memiliki terhadap bangsa dan negara.
Kesadaran tersebut perlu tumbuh melalui pendidikan, keteladanan, pembinaan masyarakat, serta keterlibatan berbagai komponen bangsa.
“Pertahanan negara yang kuat membutuhkan masyarakat yang kuat. Masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang bersatu, memiliki kepedulian, memahami tanggung jawab kebangsaannya, dan mampu menjaga lingkungan sosialnya tetap kondusif,” jelasnya.
Karena itu, momentum Hari Perdamaian Internasional 2026 diharapkan menjadi pengingat untuk memperkuat kerja bersama antara pemerintah, TNI, Polri, organisasi kemasyarakatan, lembaga pendidikan, dunia usaha, tokoh masyarakat, serta generasi muda dalam membangun budaya damai dan ketahanan nasional.
“Berinvestasi dalam perdamaian berarti berinvestasi pada manusia Indonesia. Dimulai dari keluarga, sekolah, kampus, komunitas, tempat kerja, ruang publik, hingga ruang digital. Setiap hari kita mempunyai kesempatan untuk memperkuat persatuan dan mencegah munculnya konflik,” ujarnya.
Pada akhirnya, perdamaian dan pertahanan bukanlah dua hal yang bertentangan. Perdamaian yang kokoh membutuhkan ketahanan nasional, sementara pertahanan yang kuat harus memiliki tujuan akhir untuk menjaga keselamatan rakyat, kedaulatan negara, dan keberlangsungan kehidupan bangsa dalam suasana yang aman dan damai.
“Mari menjadikan perdamaian sebagai investasi bersama. Untuk semua orang, di mana saja, setiap hari. Dari kesadaran warga negara yang kuat, kita bangun Sishankamrata yang tangguh dan Indonesia yang semakin kokoh dalam persatuan,” pungkas Lingga.
REDAKSI






