HEKRAFNAS 2026, PPM-LVRI Dorong Penguatan Ekosistem Kreatif untuk Kemandirian Bangsa

Ketua Wantimpus PPM-LVRI Dorong Penguatan Nilai Kejuangan, Integritas, dan Kepemimpinan Generasi Muda Menuju Indonesia Emas 2045 - Foto: Tanhananews.Com
Waktu Baca : 3 minutes

TANHANANEWS.COM, JAKARTA — Ketua Dewan Pertimbangan Pusat (WANTIMPUS) Pemuda Panca Marga (PPM-LVRI), Ir. H. Eddy Kuntadi, mendorong penguatan ekosistem ekonomi kreatif sebagai langkah strategis untuk membangun perekonomian Indonesia yang produktif, inovatif, inklusif, dan berdaya saing.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam rangka memperingati Hari Ekonomi Kreatif Nasional (HEKRAFNAS) tahun 2026 yang mengusung tema “Penguatan Ekosistem Ekonomi Kreatif”.

Menurut Eddy, ekonomi kreatif tidak lagi dapat dipandang sebagai sektor pelengkap. Ekonomi kreatif telah menjadi salah satu kekuatan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan kerja, serta memperluas kesempatan bagi generasi muda untuk berkarya dan membangun usaha.

Tema ‘Penguatan Ekosistem Ekonomi Kreatif’ mengandung pesan bahwa kreativitas tidak akan berkembang secara optimal apabila hanya bertumpu pada kemampuan individu.

“Kreativitas membutuhkan lingkungan yang mendukung, akses pembiayaan, pemanfaatan teknologi, perlindungan kekayaan intelektual, penguatan sumber daya manusia, serta jejaring pemasaran,” ujar Eddy, dalam keterangannya di Jakarta, Jum’at, 23 Oktober 2026.

Ia menilai Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan ekonomi kreatif melalui keanekaragaman budaya, seni tradisional, kuliner Nusantara, kerajinan, fesyen, musik, film, desain, arsitektur, permainan digital, serta berbagai inovasi berbasis teknologi.

Namun, kekayaan tersebut perlu diolah menjadi produk dan layanan yang memiliki nilai tambah, berkualitas, berkelanjutan, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Perlu Kolaborasi Lintas Sektor

Eddy menegaskan, penguatan ekosistem ekonomi kreatif harus dilakukan melalui keterhubungan antara pemerintah, pelaku usaha, lembaga pendidikan, komunitas kreatif, investor, lembaga keuangan, dan masyarakat.

Pemerintah, kata dia, perlu memastikan kebijakan dan regulasi memberikan ruang tumbuh bagi pelaku ekonomi kreatif, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah. Kemudahan perizinan, akses pembiayaan, peningkatan kapasitas usaha, fasilitas produksi, promosi, serta perluasan pasar harus terus diperkuat.

“Ekonomi kreatif tidak boleh berhenti pada festival, pameran, atau kegiatan seremonial. Semua kegiatan tersebut harus menjadi bagian dari strategi jangka panjang yang menghasilkan usaha berkelanjutan, peningkatan pendapatan masyarakat, penciptaan lapangan kerja, dan tumbuhnya pelaku ekonomi kreatif baru,” katanya.

Selain pemerintah, dunia pendidikan juga dinilai memiliki peran penting dalam menumbuhkan budaya inovasi, kewirausahaan, literasi digital, dan kemampuan berpikir kritis.

Generasi muda, lanjut Eddy, perlu dipersiapkan bukan hanya sebagai pencari pekerjaan, tetapi juga sebagai pencipta peluang kerja melalui gagasan, keterampilan, dan keberanian membangun usaha.

Dorong Digitalisasi dan Perlindungan Kekayaan Intelektual

Perkembangan teknologi digital dinilai membuka peluang besar bagi pelaku ekonomi kreatif Indonesia untuk memperluas pasar hingga tingkat nasional dan internasional.

Namun, transformasi digital harus diikuti dengan peningkatan literasi teknologi, keamanan digital, kemampuan pemasaran daring, serta kecakapan dalam mengelola data dan transaksi.

Eddy juga menekankan pentingnya pemanfaatan kecerdasan buatan secara etis dan bertanggung jawab. Teknologi tersebut harus diarahkan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas karya dengan tetap menghormati keaslian, hak pencipta, dan nilai-nilai etika.

“Perlindungan kekayaan intelektual merupakan aspek penting yang tidak boleh diabaikan. Ide, desain, karya seni, musik, film, merek, dan berbagai hasil inovasi memiliki nilai ekonomi yang harus dihormati dan dilindungi,” ujarnya.

Ia berharap pelaku kreatif tidak hanya mampu menghasilkan karya yang menarik, tetapi juga memiliki posisi tawar yang kuat, memperoleh penghargaan yang layak, serta menikmati manfaat ekonomi dari kreativitasnya.

Budaya Nusantara sebagai Kekuatan Ekonomi

Eddy menyebut ekonomi kreatif memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar pertumbuhan usaha. Ekonomi kreatif juga menjadi sarana untuk menjaga warisan budaya, memperkuat identitas nasional, dan memperkenalkan kekayaan Nusantara kepada dunia.

Seni tradisi, wastra, kerajinan, kuliner khas daerah, cerita rakyat, arsitektur tradisional, dan berbagai ekspresi budaya memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk kreatif yang relevan dengan kebutuhan zaman.

“Modernisasi tidak harus menghilangkan akar tradisi. Teknologi, desain, dan inovasi justru dapat menjadi sarana untuk memperluas apresiasi masyarakat terhadap warisan budaya Indonesia,” kata Eddy.

Ia menegaskan, masyarakat adat, seniman, perajin, pelaku budaya, dan komunitas lokal harus ditempatkan sebagai bagian penting dalam rantai nilai ekonomi kreatif. Mereka bukan sekadar sumber inspirasi, melainkan pemilik pengetahuan dan keterampilan yang harus dihargai.

Pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya juga harus dilakukan secara bertanggung jawab dengan tetap memperhatikan nilai-nilai luhur, makna historis, dan hak komunitas yang menjaga warisan budaya tersebut.

Generasi Muda sebagai Pelaku Utama

Sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PPM-LVRI, Eddy memandang penguatan ekonomi kreatif memiliki hubungan erat dengan pembangunan karakter, kemandirian, dan tanggung jawab kebangsaan generasi muda.

Menurutnya, semangat perjuangan para pendahulu bangsa perlu diterjemahkan sesuai tantangan zaman. Jika generasi terdahulu berjuang mempertahankan kemerdekaan dengan pengorbanan dan keberanian, generasi masa kini harus melanjutkan perjuangan melalui penguasaan ilmu pengetahuan, pengembangan teknologi, penciptaan lapangan kerja, penguatan ekonomi rakyat, dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Generasi muda tidak boleh hanya menjadi penonton dalam perubahan ekonomi global. Mereka harus diberi kesempatan untuk menjadi pelaku utama, menciptakan solusi atas persoalan sosial, mengembangkan usaha berbasis potensi lokal, dan menghadirkan karya yang membanggakan Indonesia,” tuturnya.

Ia menambahkan, organisasi kepemudaan, termasuk PPM-LVRI, dapat berkontribusi melalui penguatan wawasan kebangsaan, pembinaan kewirausahaan, perluasan jejaring, promosi produk lokal, serta kolaborasi dengan pemerintah, dunia pendidikan, dan komunitas usaha.

Eddy juga menegaskan, keberhasilan ekonomi kreatif tidak semata-mata diukur dari banyaknya kegiatan atau tingginya popularitas suatu produk.

Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana kreativitas mampu meningkatkan kesejahteraan, menciptakan pekerjaan yang layak, memperkuat usaha lokal, dan menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Kreativitas untuk Masa Depan Indonesia

Eddy mengajak seluruh pemangku kepentingan, terutama generasi muda, menjadikan kreativitas sebagai kekuatan produktif, kewirausahaan sebagai jalan kemandirian, dan inovasi sebagai bagian dari pengabdian kepada bangsa.

“Mari kita bangun ekonomi kreatif Indonesia yang berakar pada budaya Nusantara, terbuka terhadap kemajuan teknologi, berpihak pada kesejahteraan rakyat, serta mampu bersaing di tingkat global tanpa kehilangan jati diri bangsa,” pungkas Eddy Kuntadi.

REDAKSI | EDITOR: EP