
Penulis: Lukman Hakim (Lukman Jalu) – Wakil Sekjen Pemuda Panca Marga (PPM – LVRI) dan Lingkar Study Data dan Informasi (LSDI)
“Sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar hampir selalu lahir dari kemampuan berbagai kelompok masyarakat untuk bekerja sama melampaui batas identitas, organisasi, dan kepentingan sektoral.“
Aksi yang direncanakan berlangsung pada 12 Juni 2026 patut dilihat lebih jauh daripada sekadar demonstrasi mahasiswa atau ekspresi ketidakpuasan terhadap pemerintah. Peristiwa ini dapat dibaca sebagai bagian dari proses yang lebih besar, yaitu upaya berbagai elemen masyarakat untuk menemukan titik temu dalam menyuarakan kepentingan publik.
Selama beberapa tahun terakhir, kritik terhadap kebijakan negara muncul dari banyak arah. Mahasiswa menyuarakan persoalan demokrasi dan pendidikan. Buruh memperjuangkan kesejahteraan dan kepastian kerja. Akademisi mengingatkan pentingnya kebijakan yang berbasis data dan ilmu pengetahuan. Organisasi masyarakat sipil mengawasi transparansi serta akuntabilitas pemerintahan.
Kelompok-kelompok tersebut bergerak dengan isu dan ruang perjuangannya masing-masing.
Dalam banyak kesempatan, pergerakan yang terpisah-pisah membuat kritik publik kehilangan daya dorong yang kuat. Setiap kelompok berbicara tentang masalahnya sendiri, sementara persoalan yang dihadapi bangsa sesungguhnya saling berkaitan.
Kesejahteraan, lapangan kerja, kualitas pendidikan, pelayanan publik, tata kelola anggaran, penegakan hukum, hingga kualitas demokrasi merupakan bagian dari satu rangkaian persoalan yang tidak dapat diselesaikan secara parsial.
Karena itu, yang dibutuhkan saat ini bukan sekadar bertambahnya jumlah suara kritik, melainkan tumbuhnya kesadaran bersama bahwa berbagai persoalan tersebut memiliki kepentingan yang sama sebagai titik temu, yaitu kepentingan rakyat dan kepentingan bangsa.
Persatuan dalam kehidupan demokrasi tidak berarti semua orang harus memiliki pandangan yang identik. Demokrasi justru hidup dari keberagaman gagasan dan perbedaan pendapat. Namun di atas perbedaan tersebut harus ada kesamaan tujuan.
Ketika masyarakat berbicara tentang keadilan, kesejahteraan, pemerintahan yang bersih, pelayanan publik yang lebih baik, dan masa depan generasi muda, sesungguhnya mereka sedang berbicara tentang cita-cita yang sama.
Dalam konteks itulah aksi 12 Juni memperoleh maknanya. Yang penting bukan hanya jumlah peserta yang hadir atau seberapa besar perhatian publik yang berhasil diraih. Yang lebih penting adalah apakah momentum ini mampu memperkuat kesadaran bahwa perjuangan untuk memperbaiki bangsa tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri.
Sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar hampir selalu lahir dari kemampuan berbagai kelompok masyarakat untuk bekerja sama melampaui batas identitas, organisasi, dan kepentingan sektoral.
Tidak ada kelompok yang cukup besar untuk mengubah keadaan sendirian. Tidak ada organisasi yang cukup kuat untuk memikul seluruh beban perubahan seorang diri. Kekuatan terbesar selalu lahir dari kemampuan untuk membangun kepercayaan, solidaritas, dan tujuan bersama.
Pada saat yang sama, perlu dipahami bahwa kritik terhadap pemerintah bukanlah tindakan yang bertentangan dengan kecintaan terhadap negara. Dalam sistem demokrasi, kritik merupakan bagian dari tanggung jawab warga negara. Kritik yang disampaikan secara terbuka, damai, dan argumentatif justru menjadi mekanisme penting untuk memastikan bahwa kekuasaan tetap bekerja sesuai kepentingan rakyat.
Karena itu, energi yang muncul dalam berbagai gerakan sosial tidak boleh diarahkan menjadi permusuhan antarsesama anak bangsa.
Energi tersebut harus diarahkan untuk memperkuat kualitas pemerintahan, memperbaiki kebijakan publik, dan mendorong hadirnya negara yang semakin responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Jika ada satu hal yang perlu dipersatukan hari ini, maka bukan sekadar kelompok-kelompok oposisi. Yang harus dipersatukan adalah kesadaran bahwa rakyat Indonesia memiliki kepentingan yang jauh lebih besar daripada perbedaan politik jangka pendek.
Kepentingan itu adalah hadirnya negara yang adil, pemerintahan yang akuntabel, ekonomi yang memberi kesempatan kepada semua warga, serta demokrasi yang tetap sehat dan terbuka.
Aksi boleh berlangsung sehari. Demonstrasi boleh berakhir ketika massa membubarkan diri. Namun perjuangan untuk memastikan bahwa negara tetap berpihak kepada rakyat tidak pernah berhenti pada satu tanggal atau satu peristiwa. Ia merupakan pekerjaan panjang yang membutuhkan keberanian, konsistensi, kedewasaan, dan kemauan untuk terus menjaga persatuan.
Pada akhirnya, yang harus menang bukan kelompok tertentu, bukan tokoh tertentu, dan bukan kepentingan politik tertentu. Yang harus menang adalah kepentingan rakyat dan masa depan Indonesia.





