Hari Aksi Bersih Sedunia 2026, Biru Voice; Kota yang Bersih Dimulai dari Keputusan-keputusan Sederhana di Meja Makan

Waktu Baca : 2 minutes

TANHANANEWS.COM, JAKARTA — Biru Voice mengajak masyarakat untuk mulai mengurangi pemborosan makanan sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan. 

Ajakan tersebut disampaikan Ketua Biru Voice Suryo Susilo dalam peringatan World Cleanup Day (Hari Aksi Bersih Sedunia) yang jatuh pada Minggu, 20 September 2026 dengan mengusung tema “From Clean Plates to Clean Cities” (Dari Piring Bersih Menuju Kota yang Bersih dan Berkelanjutan).

Suryo mengatakan bahwa persoalan sampah makanan masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Karena itu, perubahan perilaku konsumsi masyarakat perlu menjadi bagian penting dari gerakan kebersihan lingkungan.

“Ketika kita mengambil makanan secukupnya dan menghabiskannya, kita sebenarnya sedang berkontribusi mengurangi sampah, menghemat sumber daya, dan menjaga lingkungan. Perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil sehari-hari,” kata Suryo dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu, 19 September 2026 (malam). 

Berdasarkan kajian Kementerian PPN/Bappenas, timbulan food loss and waste(FLW) di Indonesia pada periode 2000–2019 mencapai 23–48 juta ton per tahun atau setara 115–184 kilogram per kapita per tahun. Titik kehilangan terbesar terjadi pada tahap konsumsi dengan timbulan food wastemencapai 5–19 juta ton per tahun. (Green Economy⁠)

Kajian yang sama menunjukkan bahwa pemborosan pangan menyebabkan kerugian ekonomi sebesar Rp213–551 triliun per tahun, setara sekitar 4–5 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Dari sisi lingkungan, timbulan FLW menghasilkan emisi gas rumah kaca hingga 1.702,9 megaton CO₂ ekuivalen selama periode 2000–2019. (Green Economy⁠)

Selain berdampak pada ekonomi dan lingkungan, pemborosan pangan juga memiliki konsekuensi sosial yang besar. Bappenas mencatat kandungan energi dari pangan yang hilang dan terbuang tersebut setara dengan kebutuhan makan 61–125 juta orang setiap tahun. (Green Economy⁠)

Menurut Suryo, data tersebut menunjukkan bahwa isu sampah makanan bukan sekadar persoalan rumah tangga, melainkan bagian dari tantangan pembangunan berkelanjutan yang membutuhkan keterlibatan seluruh pihak.

“Masih banyak masyarakat yang membutuhkan akses pangan yang layak. Karena itu, mengurangi pemborosan makanan bukan hanya tindakan ramah lingkungan, tetapi juga bentuk kepedulian sosial. Setiap makanan yang diselamatkan berarti mengurangi sampah dan memberi manfaat yang lebih besar bagi masyarakat,” ujarnya.

Dalam momentum World Cleanup Day 2026, Biru Voice mengimbau masyarakat untuk menerapkan langkah sederhana seperti mengambil makanan sesuai kebutuhan, menghabiskan makanan yang telah diambil, menyimpan bahan pangan dengan baik agar tidak cepat rusak, memanfaatkan kembali makanan yang masih layak konsumsi, serta memilah sampah organik untuk diolah menjadi kompos.

Suryo meyakini bahwa keberhasilan mewujudkan kota yang bersih dan berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh pengelolaan sampah di hilir, tetapi juga oleh perubahan perilaku masyarakat dalam mengurangi sampah sejak dari sumbernya.

“Tema From Clean Plates to Clean Citiesmengingatkan kita bahwa kota yang bersih dimulai dari keputusan-keputusan sederhana di meja makan. Jika setiap orang mengurangi pemborosan pangan, dampaknya akan sangat besar bagi lingkungan dan masa depan generasi mendatang,” pungkasnya. 

Tentang Biru Voice

Biru Voice merupakan organisasi masyarakat yang berkomitmen mendorong kesadaran publik terhadap isu lingkungan, keberlanjutan, dan partisipasi masyarakat dalam mewujudkan Indonesia yang lebih bersih, hijau, dan berkelanjutan.

REDAKSI