Penulis: Jefri Edward Sebayang – Wakil Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Panca Marga (PD PPM-LVRI) Provinsi Sumatera Utara – Dojang Tiger Sumatera Binjai
BINJAI, 20 September 2026 — Ada alasan kuat mengapa masa depan taekwondo Sumatera Utara layak kembali diperbincangkan. Bukan semata karena olahraga bela diri ini memiliki basis penggemar yang cukup luas, tetapi karena Sumut telah memiliki bukti bahwa atlet-atletnya mampu berbicara di level nasional hingga internasional.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah Sumut memiliki potensi. Buktinya sudah ada. Pertanyaan yang lebih penting adalah: mampukah Sumut mengubah potensi dan prestasi tersebut menjadi sistem pembinaan yang berkelanjutan?
Inilah pekerjaan rumah yang harus dijawab bersama.
Pada PON XXI Aceh-Sumut 2024, misalnya, taekwondo Sumut mencatat satu medali emas dan tiga perunggu. Emas dipersembahkan trio Jesika Delima Br Surbakti, Indriana Br Sembiring, dan Cyndi Patricia Figomelalui nomor poomsae beregu putri. Sementara tiga perunggu diraih melalui nomor lainnya. Capaian tersebut menempatkan Sumut sebagai salah satu provinsi peraih emas dalam cabang taekwondo pada PON XXI.
Emas itu bukan sekadar angka dalam tabel medali. Bagi ketiga atlet putri tersebut, PON XXI merupakan penampilan pertama mereka di pesta olahraga nasional. Mereka bahkan menyebut emas tersebut sebagai batu loncatan untuk mengejar prestasi yang lebih tinggi di tingkat internasional.
Di sinilah sesungguhnya makna sebuah prestasi: medali seharusnya menjadi awal, bukan akhir.
Dari PON Menuju Dunia
Salah satu contoh paling jelas adalah Muhammad Raihan Fadhila. Atlet asal Sumatera Utara ini mampu membawa nama Indonesia ke podium SEA Games Thailand 2025 dengan meraih medali perak nomor kyorugi kelas 74–80 kilogram putra. Raihan melaju hingga final setelah menang 2-0 atas taekwondoin Myanmar Zaw Lin Htet sebelum akhirnya kalah dari wakil tuan rumah Saejo Thanathorn.
Prestasi itu tidak berhenti di SEA Games.
Pada 8th Asian Taekwondo Indonesia Open Championships 2026 di Jakarta, Raihan kembali menunjukkan kelasnya. Ia meraih medali emas kelas kyorugi -80 kilogram putra setelah mengalahkan atlet India Akshay Hooda dengan skor 2-0 pada final. Kejuaraan tersebut berstatus World Taekwondo G2, yang juga menjadi bagian dari penghitungan poin menuju Olimpiade Los Angeles 2028.
Rangkaian prestasi Raihan memberikan pesan yang sangat jelas: atlet yang dibina dari daerah dapat menembus persaingan internasional apabila mendapatkan pembinaan dan kesempatan yang tepat.
Namun, jangan sampai kita berpikir bahwa masa depan taekwondo Sumut hanya bergantung pada satu atau dua nama.
Justru keberhasilan seorang atlet harus menjadi pemantik lahirnya generasi berikutnya.
Jangan Terjebak pada Euforia Medali
Ada kecenderungan dalam olahraga kita untuk mengukur keberhasilan hanya dari jumlah medali. Ketika emas diraih, semua bersorak. Ketika podium gagal dicapai, evaluasi sering kali dilakukan secara emosional.
Padahal, pembangunan olahraga tidak sesederhana itu.
Taekwondo Sumut pernah memasang target tinggi pada PON XXI 2024, yakni empat emas, empat perak dan tujuh perunggu. Target tersebut disusun berdasarkan rekam prestasi atlet dari berbagai kejuaraan sebelumnya.
Pada akhirnya, hasil yang dicapai adalah satu emas dan tiga perunggu.
Angka tersebut tidak perlu disembunyikan, apalagi ditutupi. Justru dari sanalah evaluasi harus dimulai.
Kita perlu bertanya: apakah program latihan sudah tepat? Apakah regenerasi berjalan? Apakah kualitas pelatih terus diperbarui? Apakah atlet memperoleh cukup banyak pertandingan? Apakah fasilitas latihan memadai? Dan yang tidak kalah penting, apakah sistem pembinaan mampu mempertahankan atlet setelah mereka mencapai prestasi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar memperdebatkan siapa yang harus dipuji atau disalahkan.
Pembinaan Tidak Boleh Musiman
Taekwondo adalah olahraga yang membutuhkan proses panjang. Atlet tidak mungkin dibentuk hanya beberapa bulan sebelum kejuaraan.
Pembinaan harus dimulai dari usia dini, kemudian bergerak secara sistematis menuju kelompok junior dan senior. Setiap jenjang harus memiliki ukuran keberhasilan yang jelas.
Di sinilah peran klub, sekolah, Pengprov Taekwondo Indonesia, KONI, pemerintah daerah, pelatih, orang tua dan dunia usaha menjadi penting.
Sekolah dapat menjadi ladang pencarian bibit. Klub menjadi ruang pembinaan. Organisasi olahraga membangun sistem kompetisi. Pemerintah menyediakan dukungan kebijakan dan fasilitas. Dunia usaha dapat berperan melalui kemitraan dan sponsorship.
Semua harus berada dalam satu ekosistem.
Tanpa itu, prestasi akan sangat bergantung kepada individu yang kebetulan memiliki bakat luar biasa.
Pelatih dan Kompetisi
Kualitas atlet tidak bisa dilepaskan dari kualitas pelatih.
Pelatih taekwondo hari ini menghadapi tantangan yang berbeda dengan masa lalu. Olahraga prestasi semakin ilmiah. Latihan harus memperhatikan kondisi fisik, teknik, taktik, nutrisi, pemulihan dan aspek psikologis.
Karena itu, peningkatan kompetensi pelatih harus menjadi investasi jangka panjang.
Hal yang sama berlaku pada kompetisi.
Atlet membutuhkan pertandingan untuk menguji kemampuan. Mereka harus merasakan tekanan pertandingan, menghadapi lawan dengan karakter berbeda dan belajar mengendalikan emosi.
Semakin banyak pengalaman kompetitif yang berkualitas, semakin matang pula seorang atlet.
Regenerasi Harus Menjadi Agenda Utama
Prestasi tiga atlet poomsae Sumut pada PON XXI dan keberhasilan Raihan Fadhila di SEA Games serta Asian Open menunjukkan bahwa Sumut memiliki bibit dan produk pembinaan yang mampu mencapai level
Atlet senior harus menjadi inspirasi bagi junior, bukan menjadi satu-satunya tumpuan. Di bawah mereka harus tersedia lapisan atlet berikutnya yang siap naik kelas.
Regenerasi juga tidak hanya menyangkut atlet. Pelatih, wasit dan perangkat pertandingan harus dipersiapkan secara berkelanjutan.
Jika sistem regenerasi berjalan, prestasi tidak akan berhenti ketika seorang atlet memasuki akhir masa kompetitifnya.
PON Bela Diri dan Peta Masa Depan
PON Bela Diri 2025 di Kudus juga menjadi bagian penting dari proses tersebut. Ketika menghadapi ajang itu, Pengprov Taekwondo Indonesia Sumut menyiapkan 23 atlet, terdiri atas 16 atlet kyorugi dan tujuh atlet poomsae. Tim tersebut juga diarahkan sebagai bagian dari pemetaan kekuatan menuju kualifikasi PON 2028.
Hal ini menunjukkan bahwa orientasi pembinaan sudah semestinya tidak berhenti pada satu pertandingan. Setiap kompetisi harus menjadi bagian dari peta jalan menuju sasaran berikutnya.
Begitu pula dengan prestasi internasional Raihan. Emas Asian Open 2026 harus dibaca bukan hanya sebagai keberhasilan seorang atlet, tetapi sebagai bukti bahwa pembinaan daerah memiliki kemungkinan menghasilkan atlet yang kompetitif di level Asia.
Saatnya Berpikir Lebih Panjang
Taekwondo Sumut memiliki modal yang tidak sedikit: atlet berprestasi, klub, pelatih, organisasi, pengalaman PON dan peluang tampil di kompetisi internasional.
Tetapi modal tersebut harus diubah menjadi sistem.
Kita membutuhkan pembinaan yang terukur, kalender kompetisi yang konsisten, peningkatan kualitas pelatih, fasilitas latihan yang layak, dukungan pembiayaan, serta perhatian terhadap pendidikan atlet.
Satu hal lagi yang tidak boleh dilupakan: atlet adalah manusia, bukan sekadar mesin peraih medali.
Mereka harus memiliki pendidikan, karakter dan bekal kehidupan setelah karier olahraga berakhir. Karena itu, keseimbangan antara pendidikan dan prestasi olahraga harus menjadi bagian dari pembinaan.
Sebagai bagian dari masyarakat Sumatera Utara dan Wakil Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Panca Marga (PD PPM-LVRI) Provinsi Sumatera Utara, saya melihat taekwondo bukan hanya sebagai cabang olahraga, tetapi sebagai sarana membentuk generasi muda yang disiplin, tangguh dan sportif.
Kita sudah memiliki bukti bahwa atlet Sumut mampu naik podium PON, SEA Games bahkan kejuaraan Asia.
Sekarang tantangannya lebih besar bagaimana menjadikan prestasi itu sebagai tradisi, bukan kejutan.
Jangan sampai kita hanya bangga ketika lagu kebangsaan berkumandang di podium. Kita harus bangga pada proses panjang yang membuat seorang atlet layak berdiri di sana.
Sebab, masa depan taekwondo Sumut tidak ditentukan oleh satu medali, satu kejuaraan atau satu nama, namum ditentukan oleh seberapa serius kita membangun sistem yang mampu melahirkan juara, mempertahankan prestasi, dan menyiapkan generasi berikutnya.






