Fadhil: Mengenal Purworejo selain Memiliki Tarian Dolalak, Bedug Pendowo dan Sate Winong

Waktu Baca : 4 minutes

PC PPM-LVRI Kabupaten Purworejo: Merawat Sejarah, Melestarikan Budaya, Bergerak untuk Kemajuan Daerah

TANHANANEWS.COM, PURWOREJO — Ketua Pimpinan Cabang Pemuda Panca Marga (PPM-LVRI) Kabupaten Purworejo, Fadhil Ali Syahbal, mendorong pemerintah daerah bersama seluruh elemen masyarakat untuk memaksimalkan potensi pariwisata, seni budaya, dan kuliner khas Purworejo sebagai kekuatan ekonomi sekaligus identitas daerah.

“Purworejo memiliki modal yang lengkap untuk membangun sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,” ujar Fadhil dalam keterangannya di Purworejo, Senin, 21 September 2026.

Potensi tersebut tidak hanya berupa wisata alam, tetapi juga wisata sejarah dan religi, desa wisata, kesenian tradisional, kebudayaan, serta beragam kuliner khas dengan karakter yang kuat.

“Purworejo tidak kekurangan potensi. Yang kita perlukan adalah bagaimana potensi yang sudah ada itu dikelola lebih serius, dikemas secara menarik, dipromosikan secara luas, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegas Fadhil.

Dari Goa Seplawan hingga Pantai Dewaruci

Sejumlah destinasi dapat menjadi bagian dari kekuatan pariwisata Purworejo. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencatat Goa Seplawan di Kecamatan Kaligesing sebagai salah satu destinasi wisata alam unggulan. Goa ini memiliki ornamen alam seperti stalaktit dan stalagmit, serta kawasan pendukung wisata seperti gardu pandang, gazebo, pusat informasi, kios kuliner dan suvenir. (Sumber: eWisata Purworejo⁠)

Di wilayah pesisir, terdapat Pantai Dewaruci Jatimalang, Kecamatan Purwodadi, yang memiliki ikon patung Dewa Ruci serta fasilitas pendukung seperti jogging track, gazebo, kios kuliner, kios suvenir, gardu pandang dan panggung kesenian. (Sumber: eWisata Purworejo⁠)

Potensi lainnya antara lain Pantai Ketawang, Pantai Keburuhan, Pantai Jetis, Taman Sidandang, Geger Menjangan, Hutan Pinus Kalilo, serta berbagai destinasi berbasis alam dan desa wisata.

Taman Sidandang di Desa Kaligono, Kecamatan Kaligesing, misalnya, menawarkan kolam pemandian alami, grojogan, taman, serta warung kuliner di kawasan Pegunungan Menoreh. (Sumber: Visit Jawa Tengah⁠)

“Kita memiliki pantai, pegunungan, goa, wisata desa, wisata religi, hingga wisata sejarah. Ini merupakan paket yang sangat lengkap. Tinggal bagaimana semua itu dikoneksikan sehingga wisatawan memiliki alasan untuk tinggal lebih lama di Purworejo,” ujar Fadhil.

Wisata Sejarah dan Religi Jangan Dilupakan

Menurut Fadhil, kekuatan wisata Purworejo juga terletak pada sejarah dan warisan budaya.

Salah satunya adalah Museum Tosan Ajiyang berada di kompleks Pendopo Kabupaten Purworejo. Museum tersebut menyimpan berbagai koleksi pusaka seperti keris, tombak dan pedang, serta benda cagar budaya seperti lingga, yoni dan arca. (Sumber: eWisata Purworejo⁠)

Selain itu terdapat Bedug Pendowo, Masjid Santren Bagelen, dan Masjid Loano yang tercatat dalam destinasi wisata religi Kabupaten Purworejo. (Sumber: Visit Jawa Tengah⁠)

“Sejarah Purworejo harus menjadi bagian dari narasi pariwisata. Wisatawan bukan hanya datang untuk melihat tempat, tetapi juga memahami cerita dan sejarah yang ada di balik tempat tersebut,” kata Fadhil.

Dolalak dan Kesenian Tradisional Harus Terus Hidup

Dalam bidang seni budaya, Fadhil menegaskan bahwa Tari Dolalak harus terus diperkuat sebagai salah satu identitas budaya Purworejo.

Selain Dolalak, berbagai kesenian tradisional juga menjadi bagian dari kekayaan budaya daerah, antara lain Kuda Kepang/Kuda Lumping, Prajuritan atau Cingpoling, Rebana, Sholawatan, Campursari, Kethoprak, Kubro Siswa, Wayang Orang, Keroncong, Orkes Melayu, Madyo Pitutur, Teater dan Cekok Mondol. Dokumen perencanaan pembangunan daerah Purworejo juga mencatat keberagaman kesenian tersebut. (Sumber: Bappeda Litbang Purworejo⁠)

Di Desa Wisata Kaligono, misalnya, kesenian Ndolalak dan Sruntul menjadi bagian dari daya tarik budaya. Desa tersebut juga mengembangkan kesenian seperti Incling, Kuda Lumping, Sholawatan, Soyar Maole dan Karawitan. (Sumber: Kaligono Kaligesing⁠)

Fadhil menilai seni budaya harus ditempatkan bukan sekadar sebagai tontonan pada saat acara tertentu, tetapi sebagai bagian dari ekosistem pariwisata.

“Kesenian jangan hanya tampil ketika ada acara seremonial. Kita harus menciptakan ruang pertunjukan yang berkelanjutan sehingga seniman memiliki ruang berkarya dan wisatawan memiliki kesempatan untuk menikmati kesenian asli Purworejo,” ujar putra Pejuang Kemerdekaan RI asal Purworejo ini.

Kuliner Khas Harus Menjadi Identitas Wisata

Selain destinasi dan seni budaya, Fadhil menilai kekuatan kuliner khas Purworejo harus mendapat perhatian serius.

Berbagai kuliner khas yang tercatat dalam portal resmi pariwisata Jawa Tengah antara lain Dawet Ireng, Dawet Goreng, Sate Winong, Sego Gugah, Geblek, Sengek, Lapis Telo, Kupat Tahu Peturunan, Kue Lompong, Clorot, dan Tempe Super. (Sumber: Visit Jawa Tengah⁠)

Kuliner tradisional tersebut, menurut Fadhil, memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai produk unggulan dan oleh-oleh khas Purworejo.

“Wisatawan datang tidak hanya membawa kamera, tetapi juga membawa pengalaman dan produk yang mereka beli. Karena itu kuliner harus kita naikkan kelasnya dari sisi kualitas, kemasan, branding, pemasaran, dan inovasi tanpa menghilangkan cita rasa khasnya,” ujarnya.

Digitalisasi Jadi Kunci Promosi

Fadhil juga mendorong generasi muda untuk mengambil peran lebih besar dalam mempromosikan potensi daerah melalui media sosial.

Menurutnya, destinasi wisata, pertunjukan seni, sejarah lokal, kuliner, UMKM, hingga kehidupan masyarakat desa dapat dikemas menjadi konten digital yang menarik.

“Anak muda Purworejo harus menjadi ujung tombak promosi daerah. Kita punya Instagram, TikTok, YouTube dan berbagai platform digital. Gunakan semuanya untuk memperkenalkan Purworejo kepada Indonesia bahkan dunia,” katanya.

Ia menambahkan, promosi digital harus dibarengi dengan peningkatan kualitas destinasi, pelayanan wisatawan, kebersihan, aksesibilitas, keamanan, fasilitas umum, serta kualitas produk UMKM.

PPM-LVRI Siap Berkolaborasi

Fadhil menegaskan PPM-LVRI Kabupaten Purworejo siap mengambil bagian dalam gerakan bersama untuk mengembangkan potensi daerah.

PPM-LVRI, menurutnya, dapat berkolaborasi dengan pemerintah daerah, pelaku pariwisata, komunitas seni budaya, organisasi kepemudaan, pelaku UMKM, desa wisata, dunia pendidikan, dan masyarakat.

“Kita ingin ada gerakan bersama. Pemerintah memiliki peran, masyarakat memiliki peran, dunia usaha memiliki peran, dan generasi muda juga memiliki peran. PPM-LVRI siap menjadi bagian dari kolaborasi tersebut,” jelas Fadhil.

Ia berharap pengembangan pariwisata, seni budaya, dan kuliner Purworejo tidak berhenti pada slogan atau kegiatan sesaat.

“Potensi Purworejo sudah lengkap. Ada alamnya, ada sejarahnya, ada budayanya, ada kulinernya, dan ada sumber daya manusianya. Sekarang waktunya bergerak lebih konkret agar seluruh potensi itu menjadi kekuatan ekonomi dan kebanggaan masyarakat Purworejo,” pungkas Fadhil Ali Syahbal.

REDAKSI