TANHANANEWS.COM, JAKARTA — Persoalan sampah di Indonesia tidak lagi dapat dipandang semata sebagai persoalan kebersihan lingkungan. Sampah telah berkembang menjadi persoalan tata kelola, perilaku masyarakat, pola konsumsi, kesehatan lingkungan, ekonomi, hingga keberlanjutan kehidupan perkotaan.
Ketua BIRU Voice, Suryo Susilo, menilai diperlukan perubahan mendasar dalam cara Indonesia memandang dan mengelola sampah.
Menurutnya, paradigma pengelolaan sampah harus bergeser dari pola “kumpul–angkut–buang” menuju sistem yang menempatkan pengurangan sampah, pemilahan dari sumber, penggunaan kembali, daur ulang, pengolahan, serta ekonomi sirkular sebagai satu kesatuan.
“Kita tidak bisa terus-menerus menyelesaikan persoalan sampah hanya dengan memindahkan sampah dari rumah ke TPS, kemudian ke TPA. Yang harus diubah adalah sistemnya. Sampah harus dikendalikan sejak dari sumbernya,” ujar Suryo Susilo dalam keterangannya di Jakarta.
Data BPS: Pemilahan Sampah Rumah Tangga Masih Rendah
Tantangan perubahan perilaku masyarakat masih cukup besar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Susenas Maret 2025 menunjukkan sekitar 83,75 persen rumah tangga tidak melakukan pemilahan sampah. Sementara itu, 14,93 persen rumah tangga melakukan pemilahan dua jenis sampah dan hanya 1,32 persen yang memilah tiga jenis atau lebih. (Sumber: BPS API)
Data tersebut menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur persampahan saja tidak cukup. Diperlukan ekosistem yang membuat masyarakat mudah, terbiasa, dan memiliki alasan yang kuat untuk memilah sampah sejak dari sumber.
BIRU Voice memandang perubahan tersebut harus dilakukan secara menyeluruh melalui sedikitnya lima langkah utama.
- Mengubah Paradigma dari “Buang” Menjadi “Kelola”
“Sampah yang masih memiliki nilai jangan langsung berakhir di TPA. Kita harus membangun sistem agar sampah dapat kembali menjadi sumber daya,” kata Suryo.
- Pemilahan Harus Dimulai dari Sumber
Pemilahan sampah di rumah tangga, kawasan permukiman, pasar, sekolah, perkantoran, pusat perdagangan, hingga kawasan industri harus menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah.
Pemilahan sejak sumber akan memudahkan proses pengolahan dan meningkatkan peluang material untuk digunakan kembali maupun didaur ulang.
Namun, Suryo mengingatkan, pemilahan tidak boleh berhenti sebagai kewajiban masyarakat semata.
“Jangan sampai masyarakat diminta memilah sampah, tetapi ketika sampah sudah diangkut semuanya kembali dicampur. Kalau sistem pengangkutan dan pengolahan tidak mendukung, masyarakat akan kehilangan kepercayaan,” ujarnya.
- Perkuat Ekonomi Sirkular
BIRU Voice mendorong agar pengelolaan sampah mulai ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem ekonomi sirkular.
Bank sampah, pelaku daur ulang, pengepul, pemulung, UMKM, hingga industri pengolahan sampah perlu mendapatkan ruang yang lebih kuat dalam sistem pengelolaan sampah nasional.
Menurut Suryo, kelompok yang selama ini bekerja di sektor informal memiliki pengalaman praktis dalam mengenali, memilah, dan mengumpulkan material yang mempunyai nilai ekonomi.
“Pemulung dan pengepul jangan hanya dilihat sebagai bagian informal. Mereka memiliki pengetahuan praktis mengenai material yang bernilai ekonomi. Mereka harus diberdayakan dan diintegrasikan dalam sistem ekonomi sirkular,” tegasnya.
BIRU Voice juga mendorong dukungan yang lebih konkret terhadap bank sampah, termasuk melalui penyediaan sarana pengolahan seperti mesin pencacah plastik serta penguatan akses terhadap pasar material daur ulang.
- Gunakan Teknologi Secara Tepat
Teknologi pengolahan sampah dapat menjadi bagian penting dari solusi, terutama untuk menangani sampah residu yang sudah tidak memiliki nilai guna atau sulit didaur ulang.
Namun, teknologi tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan upaya pengurangan dan pemilahan sampah.
Menurut BIRU Voice, teknologi harus ditempatkan dalam rangkaian pengelolaan yang terintegrasi: reduce, reuse, recycle, recovery, kemudian pengolahan residu.
Dalam konteks perkotaan seperti Jakarta, teknologi pengolahan sampah menjadi energi dapat menjadi salah satu opsi untuk menangani residu, sepanjang ditempatkan dalam sistem pengelolaan yang memenuhi aspek lingkungan, kesehatan, keselamatan, dan tata kelola.
“Teknologi bukan pengganti pemilahan dan pengurangan sampah. Teknologi harus menjadi bagian dari solusi yang terintegrasi dari hulu hingga hilir,” jelas Suryo.
- Bangun Sistem yang Konsisten dan Terukur
Persoalan sampah tidak dapat diselesaikan melalui program sesaat, kampanye seremonial, atau kegiatan bersih-bersih yang tidak diikuti perubahan sistem.
Diperlukan target yang jelas dan terukur, antara lain terkait:
pengurangan sampah dari sumber;
peningkatan persentase rumah tangga dan kawasan yang melakukan pemilahan;
kapasitas pengolahan;
pengurangan sampah yang masuk ke TPA;
peningkatan material yang masuk ke rantai daur ulang; serta
pengelolaan residu secara aman.
Dengan indikator yang terukur, keberhasilan kebijakan persampahan dapat dievaluasi secara berkala dan tidak berhenti pada pencapaian administratif.
Jangan Bebankan Persoalan Sampah Hanya kepada Masyarakat
Suryo menegaskan bahwa perubahan perilaku masyarakat memang penting, tetapi persoalan sampah tidak dapat dibebankan hanya kepada rumah tangga.
Seluruh mata rantai harus terlibat.
Produsen memiliki peran dalam mengurangi penggunaan material dan kemasan yang sulit didaur ulang serta memperkuat sistem pengelolaan pascakonsumsi.
Pemerintah perlu memastikan regulasi berjalan, menyediakan infrastruktur, memperkuat pengawasan, serta menciptakan insentif bagi praktik pengurangan dan pengelolaan sampah.
Dunia usaha perlu memperhatikan desain produk dan kemasan agar lebih mudah digunakan kembali atau didaur ulang.
Sementara masyarakat memiliki peran dalam mengurangi konsumsi yang menghasilkan sampah berlebihan, memilah sampah, serta memastikan sampah ditempatkan sesuai sistem yang tersedia.
“Jangan hanya menyalahkan masyarakat ketika sampah menumpuk. Kita harus melihat seluruh rantai persoalannya. Dari bagaimana produk dibuat, bagaimana dikonsumsi, bagaimana sampah dipilah, siapa yang mengangkut, bagaimana diolah, sampai apa yang akhirnya masuk ke TPA,” kata Suryo.
BIRU Voice Dorong Gerakan Nasional Pengelolaan Sampah dari Sumber
BIRU Voice mendorong agar pengelolaan sampah dari sumber diperkuat sebagai agenda nasional yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, komunitas, akademisi, dan masyarakat.
Menurut Suryo, perubahan tidak harus selalu dimulai dari langkah besar. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan dan sistem yang konsisten.
Kurangi sampah. Pilah dari sumber. Gunakan kembali. Daur ulang. Kelola residu dengan aman.
“Permasalahan sampah Indonesia tidak akan selesai hanya dengan membangun lebih banyak tempat pembuangan. Yang kita butuhkan adalah perubahan cara berpikir dan perubahan sistem. Jangan wariskan gunungan sampah kepada generasi berikutnya. Wariskan lingkungan yang sehat dan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” pungkas Suryo Susilo.
REDAKSI






