TANHANANEWS.COM, JAKARTA — Peringatan World Cities Day atau Hari Kota Sedunia pada 31 Oktober 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen bersama dalam membangun kota yang inklusif, berkelanjutan, dan berkeadilan, dengan memastikan setiap warga memiliki akses terhadap hunian yang layak dan terjangkau.
Ketua BIRU VOICE, Suryo Susilo, menegaskan bahwa pembangunan dan pembaruan kawasan perkotaan tidak boleh hanya berorientasi pada modernisasi fisik, peningkatan nilai properti, maupun pertumbuhan ekonomi.
Lebih dari itu, pembangunan kota harus menempatkan manusia, keberlanjutan kehidupan sosial, dan hak masyarakat atas tempat tinggal sebagai prioritas utama.
Peringatan World Cities Day tahun ini mengangkat tema “Regenerating the City: Adequate Housing for All” atau Meregenerasi Kota: Hunian Layak untuk Semua. Tema ini menyoroti pentingnya pembaruan perkotaan, revitalisasi lingkungan permukiman, serta peningkatan infrastruktur yang berjalan seiring dengan perlindungan warga dari kenaikan biaya sewa dan risiko penggusuran.
“Regenerasi kota seharusnya memperbaiki kualitas hidup masyarakat, bukan justru membuat warga yang telah lama tinggal di suatu kawasan kehilangan kemampuan untuk bertahan di lingkungan mereka sendiri. Kota yang maju bukan hanya kota dengan gedung-gedung modern dan infrastruktur yang megah, melainkan kota yang mampu menyediakan hunian layak, terjangkau, aman, dan bermartabat bagi seluruh lapisan masyarakat,” ujar Suryo Susilo, dalam keterangamnya, Jum’at, 30 Oktober 2026.
Regenerasi Kota Harus Berpihak kepada Masyarakat
Menurut Suryo Susilo, revitalisasi kawasan perkotaan merupakan kebutuhan yang tidak dapat dihindari, terutama untuk memperbaiki permukiman yang kurang layak, meningkatkan kualitas sanitasi, menyediakan ruang publik, memperbaiki transportasi, serta memperkuat akses terhadap air bersih dan layanan dasar.
Namun, tanpa kebijakan perlindungan sosial dan perencanaan yang matang, peningkatan kualitas kawasan dapat memicu kenaikan harga tanah, nilai properti, dan tarif sewa. Kondisi tersebut berpotensi mendorong masyarakat berpenghasilan rendah, penyewa rumah, pelaku usaha kecil, serta kelompok rentan lainnya keluar dari lingkungan tempat mereka tinggal dan mencari penghidupan.
Karena itu, BIRU VOICE mendorong agar setiap program regenerasi perkotaan disertai langkah konkret untuk mencegah peminggiran masyarakat. Pembangunan harus dirancang bersama warga, bukan semata-mata diputuskan untuk warga.
Partisipasi masyarakat perlu menjadi bagian penting sejak tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Pemerintah, pengembang, komunitas lokal, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil harus membangun dialog yang terbuka agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara adil.
Lima Langkah Mewujudkan Kota yang Layak Huni
Dalam momentum World Cities Day 2026, Suryo Susilo menyampaikan beberapa langkah strategis yang perlu menjadi perhatian dalam kebijakan pembangunan perkotaan di Indonesia, diantaranya: Pertama, memperluas penyediaan hunian layak dan terjangkau. Kedua, melindungi warga dari penggusuran dan perpindahan yang tidak adil. Ketiga, mengendalikan dampak kenaikan biaya hunian. Keempat, meningkatkan infrastruktur tanpa menghilangkan identitas komunitas. Kelima, memastikan manfaat pembangunan dirasakan secara merata.
Momentum Membangun Kota yang Lebih Berkeadilan
Suryo Susilo menilai, Indonesia membutuhkan pendekatan pembangunan perkotaan yang mampu mempertemukan kepentingan pertumbuhan ekonomi dengan keadilan sosial.
Kota harus menjadi ruang bersama yang membuka kesempatan bagi seluruh warga, bukan ruang yang hanya dapat dinikmati oleh kelompok yang memiliki daya beli tinggi.
Regenerasi kawasan juga perlu mempertimbangkan karakteristik setiap kota, termasuk kebutuhan masyarakat pesisir, kawasan padat penduduk, permukiman bersejarah, kampung kota, dan wilayah yang menghadapi risiko bencana serta dampak perubahan iklim.
Dengan demikian, pembangunan infrastruktur dan pembaruan kawasan harus didasarkan pada kebutuhan nyata masyarakat, disertai tata kelola yang transparan, pendanaan yang berkelanjutan, dan pengawasan terhadap dampak sosial maupun lingkungan.
“Jangan sampai wajah kota menjadi semakin indah, tetapi masyarakat yang telah membangun kehidupan di dalamnya justru tersingkir. Regenerasi kota harus menghadirkan kemajuan yang dapat dinikmati bersama, dengan memastikan bahwa hunian layak merupakan kebutuhan mendasar yang dapat dijangkau semua orang,” tegas Suryo Susilo.
Ia mengajak pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, komunitas perkotaan, dan seluruh pemangku kepentingan untuk menjadikan World Cities Day 2026 sebagai momentum memperkuat kolaborasi dalam mewujudkan kota yang manusiawi, tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.
“Bagi BIRU VOICE, masa depan kota tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat pembangunan berlangsung, tetapi juga oleh seberapa adil manfaatnya dibagikan dan seberapa kuat komitmen seluruh pihak dalam menjaga hak masyarakat atas kehidupan yang layak,” pungkas Suryo Susilo.
REDAKSI





