
Penulis : Riani dan Wiwin Erni S.N. – Peneliti, Badan Riset dan Inovasi Nasional *
Bagi siapa pun yang pernah menikmati malam di Yogyakarta atau kota-kota lain di Jawa Tengah, angkringan tentu bukan pemandangan asing. Tenda sederhana beratap terpal, kepulan asap dari arang, deretan nasi bungkus mungil, dan percakapan yang tak pernah benar-benar usai telah menjadi bagian dari lanskap keseharian. Orang datang silih berganti ke angkringan bukan semata-mata untuk mengisi perut, melainkan juga untuk menikmati suasana yang akrab. Angkringan menjadi tempat mahasiswa, pekerja, sopir, hingga pejabat dapat duduk berdampingan tanpa sekat. Namun, dibalik kesederhanaan itu, ada satu hal yang sering luput dari perhatian, yaitu bahasa. Justru melalui bahasa terciptalah kehangatan dan keakraban, Bahasa juga mempunyai daya untuk merepresentasikan wajah budaya sebagai filosofi angkringan.
Secara etimologis, kata angkringan berasaldari kata bahasa Jawa angkring yang berarti : 1. pikulan dalah saprabote (kothakan wadhah pangangan lsp) dianggo idêr-idêr bakmi, saoto, wedang lsp; Pikulan nganggo cagakan (sikilan). Maknanya ialah ‘pikulan beserta alat lainnya (yang berupa kotakan tempat makanan dll.) yang digunakan untuk menawarkan dagangan secara keliling, seperti bakmi, soto, minuman’; 2 pikulan yang memiliki kaki-kaki sebagai cagak’.Kata angkring juga ada yang menyebut dengan kata wangkring. Alat angkring itu dapat digunakan untuk menjual apa saja. Kata angkring mendapat akhiran –an menjadi kata angkringan. Kata angkringan bermakna: 1. Alat berjualan yang menggunakan pikulan, 2. Tempat jualan makanan dengan angkringan dorong’.
Di samping itu kita juga sering mendengar kata nangkring dan ngangkring. Kedua kata itu bermakna berbeda. Kata nangkring berkaitan dengan kata pethangkring, yang sama-samamemiliki kata dasar yang sama, yaitu kata thangkring.Kata ngangkring berkaitan dengan kata angkring, angkringan. Kedua kata tersebut sering digunakan dalam konteks yang berkaitan, seperti contoh kalimat berikut:

- Yuuk… kita ngangkring dulu, perut kusudah lapar.
- Yuuk… kita nangkring di angkringan Pak Man.
- Yuuk… kita nangring di cakruk sana.
- Jadi kalau kata ngangkring memiliki referensi ke angkring, sedangkan kata nangkring dapat bereferensi ke tempat mana saja.
Hubungan antara makanan dan bahasa inilah yang menjadi perhatian kajian gastrolinguistik. Bidang kajian ini memandang bahwa makanan bukan sekadar sesuatu yang disantap, melainkan juga sesuatu yang dinamai, dibicarakan, dan dimaknai. Cara masyarakat memberi nama pada makanan, memilih sapaan ketika memesan, atau menciptakan istilah-istilah khas sesungguhnya merupakan jejak cara berpikir dan cara mereka memandang dunia.
Hal itu bahkan sudah tampak sejak kita menyebut kata angkringan. Istilah ini berasal dari bahasa Jawa angkring atau nangkring, yang berarti duduk santai dengan satu kaki ditekuk di atas bangku. Kata tersebut bukan sekadar penamaan sebuah tempat makan, melainkan juga menyimpan gambaran mengenai suasana yang diharapkan hadir di dalamnya. Angkringan tidak dibayangkan sebagai ruang makan yang resmi atau penuh tata krama yang kaku, tetapi sebaga itempat singgah, berbincang, dan beristirahat sejenak dari rutinitas. Sebelum seseorang mencicipihidangannya, nama angkringan telah lebih dulu membentuk bayangan tentang ruang yang hangat dan egaliter.\
Keunikan itu semakin terasa ketika kita membaca daftar menunya. Salah satu yang paling terkenal adalah sega kucing. Bagi orang yang belum mengenalnya, nama ini mungkin terdengar membingungkan. Padahal, tidak ada kaitannya dengan daging kucing. Sebutan tersebut muncul karena porsinya yang kecil, menyerupai makanan seekor kucing peliharaan. Dibalik kesan jenakaitu, tersimpan metafora yang sederhana sekaligus efektif. Melalui satu nama, masyarakat berhasil menggambarkan ukuran, fungsi, bahkan karakter makanan tersebut tanpa harus memberikan penjelasan panjang lebar.
Kreativitas berbahasa juga tampak pada berbagai singkatan yang lahir secara spontan di lingkungan angkringan. Sebagian pelanggan cukup menyebut “JST” untuk memesan wedang jahe, susu, dan tape, atau “nasgithel” ketika menginginkan teh yang panas, manis (legi), dan kental (kenthel). Singkatan-singkatan semacam ini memperlihatkan bahwa bahasa selalu bergerak mengikuti kebutuhan para penuturnya. Semakin sering digunakan, semakin kuat pula ia menjadi bagian dari identitas komunitas. Mereka yang akrab dengan budaya angkringan segera memahami maksudnya, sedangkan orang luar memerlukan waktu untuk mempelajari “bahasa” yang berlaku di ruang itu.

Demikian pula dengan istilah-istilah seperti sate-satean, gorengan, atau baceman. Penamaan tersebutmenunjukkan kecenderungan masyarakat mengelompokkan makanan berdasarkan cara mengolah atau bentuk penyajiannya. Bahasa bekerja secara praktis: memudahkan komunikasi antara penjual dan pembeli tanpa kehilangan kedekatan. Cukup menyebut satu kata, keduabelahpihak sudah memahami apa yang dimaksud.
Yang menarik, bahasa di angkringan tidak hanya hidup melalui nama makanan, tetapi juga melalui percakapan para pengunjungnya. Sapaan seperti Mas, Mbak, Kang, Bro, atau Dab terdengar silih berganti tanpa mempertanyakan latar belakang lawan bicara. Seorang mahasiswa bisa mengobrol santai dengan tukang ojek, pegawai kantoran, pedagang, atau wisatawan. Dalam ruang kecil itulah bahasa menjalankan fungsi sosialnya: bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan menciptakan rasa setara. Pilihan kata yang sederhana membuat jarak sosial mencair, sehingga angkringan menjadi salah satu ruang publik yang paling egaliter dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Percakapan yang berlangsung pun jarang berhenti pada soal makanan. Dari hasil pertandingan sepak bola, harga cabai, tugas kuliah, hingga isupolitik nasional, semua dapat mengalir begitu saja diatas bangku kayu yang sama. Di sela-sela obrolan itu, bahasa terus bergerak, menciptakan istilah baru, mempertahankan ungkapan lama, serta mempertemukan bahasa Jawa, bahasa Indonesia, bahasagaul, bahkan sesekali bahasa Inggris dalam satu percakapan. Angkringan menjadi laboratorium kecil tempat bahasa berkembang secara alami, mengikuti dinamika masyarakat yang menggunakannya.
Mungkin itulah sebabnya angkringan tetap bertahan, bahkan keti kakafe-kafe modern tumbuh di berbagai sudut kota. Orang tidak hanya datang untuk menikmati sebungkus sega kucing atau segelas wedang hangat, tetapi juga untuk menjadi bagian dari percakapan yang terus menghidupkan bahasa. Dibalik kepulan asap arang dan remang lampu malam, setiap kata yang terucap sesungguhnya sedang merekam cara masyarakat membangun kedekatan, berbagi pengalaman, dan merawat ingatan kolektif. Dari sudut pandang gastrolinguistik, angkringan membuktikan bahwa bahasa tidak pernah jauh dari makanan. Keduanya saling menghidupi, sama-sama menjadi jalan bagi sebuah kebudayaan untuk terus bertahan dan diwariskan dari satu generasi kegenerasi berikutnya. Semoga bermanfaat.
*Periset pada PR Bahasa, Sastra, dan Komunitas, OR Arbastra, BRIN





