TANHANANEWS.COM — JAKARTA, Pemuda Panca Marga (PPM-LVRI) mengingatkan pemerintah dan seluruh elemen bangsa agar tidak mengabaikan persoalan sosial yang masih membayangi masa depan generasi muda, khususnya kemiskinan, kesenjangan sosial, ketidakmerataan kualitas pendidikan, serta meningkatnya persoalan kesehatan mental anak dan remaja.
PPM-LVRI menilai persoalan tersebut bukan sekadar masalah sosial, pendidikan atau kesehatan yang berdiri sendiri, melainkan merupakan rantai persoalan yang saling berkaitan dan dapat menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia dalam jangka panjang.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa persentase penduduk miskin Indonesia pada Maret 2026 mencapai 8,07 persen atau sekitar 22,93 juta orang. Pada periode yang sama, Gini Ratio tercatat 0,368, yang menunjukkan bahwa persoalan pemerataan kesejahteraan masih menjadi pekerjaan penting dalam pembangunan nasional. (BPS)
Ketua Umum PPM-LVRI Berto Izaak Doko, S.H. mengatakan bangsa Indonesia tidak boleh merasa cukup hanya karena indikator kemiskinan menunjukkan penurunan.
“Menurunnya angka kemiskinan tentu patut diapresiasi, tetapi pekerjaan kita belum selesai. Di balik angka statistik itu ada jutaan manusia, ada keluarga, ada anak-anak dan ada generasi muda yang sedang mempertaruhkan masa depannya. Ukuran keberhasilan pembangunan harus dilihat dari apakah masyarakat benar-benar memperoleh kesempatan yang adil untuk hidup layak dan meningkatkan kesejahteraannya,” ujar Berto.
Kemiskinan Jangan Menjadi Warisan Antargenerasi
PPM-LVRI berpandangan bahwa kemiskinan harus ditangani bukan hanya melalui bantuan sosial, tetapi melalui kebijakan yang mampu meningkatkan kemampuan masyarakat untuk berdiri secara mandiri.
Bantuan sosial tetap diperlukan untuk melindungi kelompok rentan, tetapi harus diperkuat dengan penciptaan lapangan kerja, peningkatan keterampilan, pengembangan kewirausahaan, pendidikan vokasi, penguatan UMKM, serta akses terhadap teknologi dan pembiayaan produktif.
“Jangan sampai seorang anak lahir dalam keluarga miskin, kemudian tumbuh tanpa pendidikan yang memadai, kehilangan kesempatan bekerja, dan akhirnya mewariskan kemiskinan yang sama kepada anaknya. Negara harus memutus rantai tersebut,” kata Berto.
Menurut PPM-LVRI, generasi muda harus ditempatkan sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek kebijakan. Mereka harus memperoleh ruang untuk belajar, berkreasi, bekerja, berwirausaha dan berkontribusi bagi bangsa.
Sekolah Berkualitas Tidak Boleh Menjadi Hak Istimewa
PPM-LVRI juga menyoroti kesenjangan kualitas pendidikan antardaerah. Persoalan pendidikan tidak hanya menyangkut keberadaan gedung sekolah, tetapi juga kualitas guru, fasilitas belajar, akses internet, perangkat teknologi, bahan ajar, laboratorium, perpustakaan, pendidikan vokasi hingga kesempatan pengembangan bakat.
“Tempat lahir tidak boleh menentukan seberapa jauh seorang anak boleh bermimpi. Anak di kota besar dan anak di pelosok negeri memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan berkualitas,” tegas Berto.
PPM-LVRI mendorong pemerintah memperkuat pemerataan pendidikan dengan pendekatan berbasis kebutuhan daerah. Wilayah terpencil, kepulauan, perbatasan dan daerah dengan keterbatasan infrastruktur harus memperoleh perhatian lebih besar.
Pendidikan juga harus membangun karakter. Di tengah perubahan teknologi dan derasnya arus informasi, sekolah tidak cukup hanya menghasilkan anak yang pintar secara akademik.
Indonesia membutuhkan generasi yang cerdas, berintegritas, memiliki etika, santun dalam berkomunikasi, mampu berpikir kritis, memiliki kepedulian sosial dan tetap berakar pada nilai-nilai kebangsaan.
Kesehatan Mental Anak dan Remaja: Alarm yang Tidak Boleh Diabaikan
Persoalan kesehatan mental juga menjadi perhatian serius PPM-LVRI. Kementerian Kesehatan pada 2026 menyampaikan bahwa skrining melalui Program Cek Kesehatan Gratis menemukan indikasi masalah kesehatan jiwa pada hampir 10 persen anak yang telah menjalani skrining, dengan gejala kecemasan dan depresi dalam jumlah signifikan. Kemenkes juga menekankan pentingnya kemampuan sekolah dan lingkungan sekitar dalam mengenali serta merespons masalah psikologis anak. (Kesprimkom)
Bagi PPM-LVRI, angka tersebut harus menjadi alarm nasional. Tekanan akademik, persoalan keluarga, kesulitan ekonomi, perundungan, tuntutan sosial, paparan media sosial, hingga ketidakpastian masa depan dapat menjadi beban psikologis bagi anak dan remaja. Karena itu, kesehatan mental tidak boleh lagi ditempatkan sebagai isu yang tabu.
“Anak yang sedang mengalami tekanan psikologis tidak membutuhkan penghakiman. Mereka membutuhkan lingkungan yang mau mendengar, memahami dan membantu. Sekolah dan keluarga harus menjadi tempat yang aman bagi anak untuk berbicara ketika menghadapi persoalan,” ujar Berto.
PPM-LVRI mendorong penguatan layanan konseling di sekolah, peningkatan kapasitas guru dan tenaga pendidik dalam mengenali tanda-tanda masalah psikologis, serta penguatan literasi kesehatan mental bagi orang tua dan pelajar.
Ruang Digital Harus Menjadi Ruang Tumbuh, Bukan Ruang yang Menghancurkan
PPM-LVRI juga mengingatkan bahwa persoalan kesehatan mental generasi muda tidak dapat dilepaskan dari perkembangan ruang digital. Perundungan siber, penghinaan, ujaran kebencian, penyebaran fitnah, tekanan untuk mengikuti standar sosial tertentu, hingga kecanduan media sosial dapat memperburuk tekanan psikologis yang dialami anak dan remaja. Karena itu, literasi digital harus ditempatkan sebagai bagian dari pendidikan karakter.
“Teknologi harus menjadi alat untuk mencerdaskan dan memberdayakan generasi muda, bukan menjadi ruang untuk saling merendahkan, menyebarkan kebencian dan menghancurkan kepercayaan diri anak-anak kita,” kata Berto.
Menurut PPM-LVRI, generasi muda perlu dibekali kemampuan untuk saring sebelum sharing, cek sebelum percaya, dan bijak sebelum berbicara.
PPM-LVRI: Pembangunan Harus Berpihak pada Manusia
PPM-LVRI menegaskan bahwa pembangunan nasional pada akhirnya harus kembali kepada manusia. Pertumbuhan ekonomi penting. Infrastruktur penting. Transformasi digital penting. Namun semuanya kehilangan makna apabila masih ada anak yang kehilangan kesempatan sekolah karena kemiskinan, keluarga yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar, atau remaja yang menghadapi tekanan psikologis seorang diri.
“Kita sedang berbicara tentang masa depan Indonesia. Kalau hari ini kita gagal memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, lingkungan sosial yang sehat dan dukungan kesehatan mental yang memadai, maka sesungguhnya kita sedang mempertaruhkan kualitas Indonesia puluhan tahun ke depan,” tegas Berto.
PPM-LVRI mengajak pemerintah pusat dan daerah, dunia pendidikan, dunia usaha, organisasi masyarakat, keluarga, tokoh masyarakat dan seluruh generasi muda untuk membangun ekosistem sosial yang lebih adil dan manusiawi.
Bagi PPM-LVRI, semangat perjuangan para pendahulu bangsa harus diterjemahkan dalam konteks kekinian: melawan kemiskinan dengan pemberdayaan, melawan ketimpangan dengan pemerataan, melawan keterbelakangan dengan pendidikan, serta melawan keputusasaan dengan kepedulian dan harapan.
“Perjuangan generasi hari ini adalah memastikan tidak ada anak Indonesia yang kehilangan masa depan hanya karena lahir di keluarga miskin, tinggal di daerah tertinggal atau menghadapi persoalan mental seorang diri. Inilah bentuk bela negara dalam kehidupan nyata,” pungkas Berto.
PPM-LVRI: Dari Warisan Perjuangan Menuju Pengabdian
Pemuda Panca Marga memandang bahwa menjaga masa depan generasi muda merupakan bagian dari kesinambungan perjuangan bangsa.
Kemerdekaan tidak cukup hanya diwarisi. Kemerdekaan harus diisi dengan menghadirkan keadilan sosial, pendidikan yang berkualitas, kesehatan yang terjangkau dan kesempatan yang setara bagi seluruh anak bangsa.
REDAKSI I EDITOR: EP






