PPM-LVRI: Berdayakan Anak Perempuan, Bentuk Kemandirian, Songsong Indonesia Emas 2045

Waktu Baca : 2 minutes

TANHANANEWS.COM, JAKARTA — Dalam rangka memperingati Hari Anak Perempuan Internasional (International Day of the Girl Child) pada 11 Oktober 2026, Wakil Sekretaris Jenderal Pemuda Panca Marga (PPM-LVRI), Elyzabeth Bulan Marcahaya, mengajak seluruh elemen bangsa memperkuat komitmen untuk melindungi, memberdayakan, dan membangun kemandirian anak perempuan sebagai bagian penting dari upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Peringatan tahun ini mengangkat tema “End Child Marriage and Invest in Girls’ Rights” atau “Akhiri Perkawinan Anak dan Investasikan pada Hak-Hak Anak Perempuan”.

“Tema tersebut menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa tidak dapat dipisahkan dari pemenuhan hak, perlindungan, pendidikan, serta kesempatan yang setara bagi setiap anak perempuan,” jelas Elyzabeth dalam keterangannya, Minggu, 11 Oktober 2026.

Ia menegaskan bahwa anak perempuan bukan sekadar penerima manfaat pembangunan, melainkan generasi penerus yang memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin, inovator, wirausaha, tenaga profesional, serta penggerak kemajuan masyarakat dan bangsa.

“Memberdayakan anak perempuan berarti memberikan kesempatan kepada mereka untuk memperoleh pendidikan berkualitas, mengembangkan keterampilan, membangun kepercayaan diri, serta memiliki keberanian untuk menentukan masa depan. Anak perempuan harus tumbuh dalam lingkungan yang aman dan bebas dari kekerasan, diskriminasi, eksploitasi, serta tekanan untuk menikah pada usia anak,” tegas Elyzabeth.

Menurutnya, perkawinan anak merupakan persoalan yang membutuhkan perhatian serius dan kerja bersama. Praktik tersebut berisiko membatasi kesempatan anak perempuan untuk melanjutkan pendidikan, mengembangkan kemampuan diri, serta mencapai kemandirian sosial dan ekonomi.

“Perlindungan anak perempuan harus dimulai dari keluarga, diperkuat oleh lingkungan pendidikan, dan didukung melalui kebijakan pemerintah yang berpihak pada kepentingan terbaik anak,” ujarnya.

Lebih lanjut, Elyzabeth menekankan bahwa kemandirian anak perempuan harus dibangun melalui investasi jangka panjang, antara lain dengan memperluas akses pendidikan, meningkatkan literasi digital, memberikan pendidikan kesehatan dan kecakapan hidup yang sesuai dengan usia, serta membuka ruang partisipasi bagi anak perempuan dalam kegiatan sosial, kepemimpinan, kewirausahaan, dan pengembangan kreativitas.

“Anak perempuan yang memperoleh kesempatan untuk belajar, berkembang, dan mandiri akan tumbuh menjadi perempuan yang berdaya, mampu mengambil keputusan secara bertanggung jawab, serta berkontribusi bagi keluarga, masyarakat, dan negara. Inilah investasi sumber daya manusia yang sangat penting untuk menyongsong Indonesia Emas 2045,” lanjutnya.

Sebagai organisasi yang memiliki keterikatan historis dengan keluarga besar Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia, Pemuda Panca Marga memandang pembangunan generasi muda sebagai tanggung jawab bersama yang harus berlandaskan nilai perjuangan, pengabdian, persatuan, dan cinta Tanah Air.

Semangat tersebut perlu diwujudkan melalui kepedulian nyata terhadap perlindungan anak serta penciptaan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang generasi muda, termasuk anak perempuan.

Elyzabeth juga mengajak organisasi kepemudaan, lembaga pendidikan, masyarakat, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dalam mencegah perkawinan anak, menghentikan kekerasan terhadap anak perempuan, serta memastikan tidak ada anak yang kehilangan kesempatan untuk meraih cita-citanya karena kemiskinan, diskriminasi, atau keterbatasan akses.

“Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya dibangun dengan kemajuan ekonomi dan infrastruktur. Indonesia harus dibangun oleh manusia yang berkualitas, berkarakter, berpengetahuan, dan mandiri. Memberdayakan anak perempuan hari ini berarti menyiapkan perempuan tangguh dan generasi unggul untuk Indonesia di masa depan,” tutup Elyzabeth.

REDAKSI