
TANHANANEWS.COM, JAKARTA — Sebagai bentuk langkah nyata dalam mendukung sekaligus melestarikan kekayaan kebudayaan Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyelenggarakan agenda BRIN Goes to Industry 4 (BGTI-4), bertempat di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Gedung B.J. Habibie, BRIN Thamrin, Jakarta Pusat. pada Selasa, 19 Mei 2026.
Dalam sesi Eksplorasi Rumpun Gastronomi dan Kesehatan, Dra. Wiwin Erni Siti Nurlina, M.Hum., Penelitii Linguistik/Sosiolinguistik, Pusat Riset Bahasa, Sastra dan Komunitas sebagai salah narasumber menyampaikan materi yang mengambil judul : “Gastrolinguistik Aneka Masakan Sega: Dari Tradisional Hingga Kontemporer”.
Menurut Wiwin bahasa merupakan jendela untuk mengetahui konsep-konsep yang diembannya, demikian pula bahasa Jawa yang merupakan jendela untuk mengetahui makna dan pandangan dunia orang Jawa yang diwujudkan pada berbagai jenis kuliner berunsur sega dengan kata idiomatisnya.
Dengan teridentifikasikannya 60-70 aneka masakan sega beserta segala pemaknaan literal dan filosofinya ini, dapat dijadikan sebagai pemilikan identitas masakan masyarakat Jawa yang merupakan bagian dari Indonesia. Jadi, pemilikan aneka masakan sega tersebut merupakan salah satu identitas keindonesiaan.

Data tersebut dibahas/dianalisis melalui pendekatan eklektik, yaitu gastronomi dan linguistik (khususnya etnolinguistik) yang kemudian disebut dengan pendekatan gastrolinguistik
– Gastronomi (digunakan untuk melihat wujud, bahan, cara masak, pengemasan, dan penyajian)
– Etnolinguistik, Dlm penel ini digunakan pendekatan (digunakan untuk melihat makna literal, sosial, filosofi)
Aneka Masakan sega kaitannya dengan Kesehatan
Aneka Masakan sega kaitannya dengan industri kreatif
Aneka Masakan sega kaitannya dengan pengadaan pangan
Aneka Masakan sega kaitannya dengan pengadaan rempah
Aneka Masakan sega kaitannya dengan program MBG sebagai alternatif menu dan pengetahuan siswa tentang budaya.
Peningkatan literasi budaya, khususnya kuliner (menyemarakkan wisata kuliner khas Indonesia.
Sementara itu dikutip dari siaran pers BRIN, BGTI 4 dengan mengusung tema “Pasar Festival Riset Arbastra untuk Ekonomi Kreatif”, menjadi ajang strategis untuk mempertemukan peneliti dengan pelaku industri kreatif dalam mengembangkan produk berbasis kekayaan budaya Indonesia.
Kegiatan ini menandai pendekatan hilirisasi BRIN yang tidak hanya berfokus pada teknologi dan sains terapan, tetapi juga pada hasil riset budaya yang memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif.
Riset di bidang arkeologi, bahasa, dan sastra, serta khazanah keagamaan menghasilkan pengetahuan berharga berupa motif tradisional, tradisi lisan, gastronomi, pengobatan tradisional, hingga potensi wisata budaya yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Wakil Kepala BRIN, Amarulla Octavian, menyampaikan bahwa riset budaya memiliki nilai strategis sebagai sumber inspirasi dalam menciptakan produk kreatif yang autentik dan berdaya saing. Menurutnya, kekayaan pengetahuan yang dihasilkan para peneliti harus dapat diterjemahkan menjadi inovasi yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat.

“Riset tidak boleh berhenti sebagai pengetahuan akademik. Hasil riset budaya harus dapat menjadi sumber ide dan identitas bagi pengembangan produk kreatif Indonesia, sehingga warisan budaya kita tetap hidup dan memberi nilai tambah ekonomi bagi bangsa,” ujar Octavian.
BGTI 4 dirancang sebagai platform kolaboratif yang mendorong proses co-creation antara peneliti dan pelaku usaha. Melalui forum ini, BRIN memperkenalkan hasil riset budaya secara kontekstual dan aplikatif, sekaligus memfasilitasi dialog untuk mengidentifikasi peluang kerja sama dan membangun ekosistem pemanfaatan riset yang berkelanjutan.
Empat rumpun riset yang akan dipamerkan dalam Pasar Festival Riset Arbastra meliputi Wastra, Digital Kreasi (Audio dan Visual), Gastronomi dan Kesehatan, serta Pariwisata. Keempat rumpun ini menampilkan berbagai hasil riset yang berpotensi menjadi inspirasi bagi industri fesyen, film, animasi, game, kuliner, wellness, hingga pengembangan destinasi wisata berbasis budaya.
REDAKSI





