HUT KE-48 FKPPI: Saatnya Menjadikan FKPPI Sebagai Kekuatan Strategis Bangsa

Suryo Susilo Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Keluarga Besar TNI-Polri FKPPI - Foto: Tanhananews.com
Waktu Baca : 4 minutes

TANHANANEWS.COM, JAKARTA — Memasuki usia ke-48 tahun, Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan dan Putra-Putri TNI-Polri (FKPPI) dituntut tidak terjebak pada romantisme sejarah dan simbol-simbol organisasi semata. FKPPI harus melakukan transformasi menjadi organisasi kemasyarakatan yang modern, adaptif, produktif dan mampu memberikan kontribusi nyata terhadap persoalan bangsa. Tuntutan tersebut sejalan dengan tema HUT ke-48 FKPPI, “Transformasi Menuju FKPPI Modern. Sinergi Dalam Bela Negara Mewujudkan Daulat Ekonomi, Kemakmuran Rakyat dan Keadilan Sosial bagi Bangsa dan Negara Indonesia.”

Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Keluarga Besar TNI-Polri FKPPI, Suryo Susilo, dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, 11 September 2026 menilai tema tersebut harus dipahami sebagai agenda perubahan, bukan sekadar slogan peringatan hari ulang tahun.

Menurut dia, FKPPI memiliki modal sejarah dan sosial yang kuat karena merupakan wadah putra-putri purnawirawan serta putra-putri TNI-Polri. Namun, modal sejarah harus diterjemahkan menjadi kekuatan aktual yang mampu menjawab tantangan masyarakat hari ini.

“FKPPI tidak boleh hanya menjadi organisasi yang kuat karena sejarah. FKPPI harus menjadi organisasi yang kuat karena karya, gagasan, integritas dan manfaatnya bagi masyarakat,” kata Suryo Susilo.

Secara historis, FKPPI berdiri pada 12 September 1978 dan berkembang sebagai organisasi kemasyarakatan. Dalam perkembangannya, FKPPI menempatkan persatuan, kebangsaan dan pengabdian sebagai bagian penting dari gerak organisasi. (fkppi Malino⁠)

BELA NEGARA TAK LAGI CUKUP DIMAKNAI SEBATAS PERTAHANAN

Suryo mengatakan perubahan lingkungan strategis membuat pengertian bela negara harus diperluas. Ancaman terhadap bangsa saat ini tidak hanya berupa ancaman fisik, tetapi juga dapat hadir melalui disinformasi, polarisasi sosial, intoleransi, persoalan ekonomi, rendahnya kualitas sumber daya manusia, kejahatan digital hingga berbagai bentuk kerentanan sosial. Karena itu, menurut Suryo, keluarga besar FKPPI harus mampu menerjemahkan nilai bela negara ke dalam tindakan konkret.

“Bela negara hari ini bukan hanya soal bagaimana mempertahankan wilayah negara, tetapi bagaimana setiap warga negara ikut menjaga persatuan, bekerja secara produktif, menaati hukum, melawan disinformasi, membangun ekonomi dan memastikan masyarakat memiliki masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

Ia menegaskan, semangat pengabdian yang diwariskan generasi TNI-Polri harus diteruskan dalam bentuk perjuangan yang sesuai dengan tantangan zaman.

“Kalau generasi terdahulu berjuang mempertahankan kemerdekaan dengan pengorbanan luar biasa, maka generasi sekarang harus berjuang mempertahankan masa depan Indonesia dengan kompetensi, produktivitas, integritas dan keberanian mengambil tanggung jawab,” kata Suryo.

JANGAN HANYA KUAT DI STRUKTUR, HARUS KUAT DI MASYARAKAT

Menurut Suryo, transformasi FKPPI harus dimulai dari pembenahan kelembagaan. Konsolidasi organisasi, tertib administrasi, kaderisasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan pemanfaatan teknologi digital harus menjadi agenda prioritas. Namun, pembenahan internal tidak boleh membuat organisasi hanya sibuk dengan persoalan internal.

“Ukuran keberhasilan FKPPI bukan hanya seberapa rapi struktur organisasinya, tetapi seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat. Organisasi harus keluar dari zona nyaman dan hadir di tengah persoalan rakyat,” tegasnya.

Karena itu, program sosial, pemberdayaan masyarakat, pendidikan, kewirausahaan, kepemudaan, lingkungan dan penguatan ekonomi lokal harus mendapatkan ruang yang lebih besar.

DAULAT EKONOMI HARUS DIMULAI DARI ANGGOTA DAN MASYARAKAT

Tema HUT ke-48 FKPPI juga menempatkan agenda daulat ekonomi sebagai salah satu fokus penting.

Suryo berpandangan, kedaulatan ekonomi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Organisasi masyarakat juga memiliki ruang untuk memperkuat masyarakat agar lebih mandiri dan produktif.

FKPPI, menurut dia, memiliki potensi besar karena anggotanya tersebar di berbagai daerah dan berasal dari berbagai latar belakang profesi. Potensi tersebut harus dikonsolidasikan melalui pengembangan UMKM, kewirausahaan, ekonomi kreatif, pelatihan keterampilan, digitalisasi usaha, penguatan jaringan usaha anggota serta kolaborasi dengan pemerintah dan dunia usaha.

“FKPPI harus berani masuk ke wilayah pemberdayaan ekonomi. Jangan hanya berbicara tentang kesejahteraan anggota; kita harus membangun kapasitas anggota agar mampu menciptakan kesejahteraan,” ucap Suryo.

Menurutnya, organisasi yang mandiri harus mempunyai kemampuan membangun ekosistem produktif, bukan sekadar mengandalkan bantuan.

SINERGI DENGAN PEMERINTAH, TNI-POLRI DAN MASYARAKAT

Sebagai organisasi yang memiliki akar kuat di lingkungan keluarga besar TNI-Polri, FKPPI juga dinilai memiliki posisi strategis dalam membangun komunikasi dan sinergi lintas lembaga. Hubungan dengan pemerintah, TNI, Polri, dunia usaha, perguruan tinggi, media dan organisasi masyarakat harus diarahkan kepada kerja sama yang menghasilkan manfaat konkret.

Dokumen organisasi FKPPI sendiri menempatkan hubungan dengan organisasi pendukung dalam kerangka koordinatif dan saling memberi manfaat secara kelembagaan maupun keanggotaan. (FKPPi⁠)

“Sinergi jangan berhenti pada foto bersama dan seremoni. Sinergi harus menghasilkan program, solusi dan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat,” kata Suryo.

Ia menilai FKPPI harus mampu menjadi jembatan komunikasi antara keluarga besar TNI-Polri dengan berbagai komponen bangsa.

PANCASILA DAN NKRI BUKAN SEKADAR ATRIBUT

Suryo juga menegaskan bahwa transformasi organisasi tidak boleh menghilangkan jati diri FKPPI sebagai bagian dari kekuatan kebangsaan. Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika harus tetap menjadi landasan utama. Namun, nilai tersebut harus diwujudkan dalam perilaku dan kerja nyata.

“Pancasila tidak cukup ditempel di dinding kantor organisasi. Pancasila harus terlihat dalam cara kita bekerja, menghormati perbedaan, menyelesaikan persoalan dan memperlakukan masyarakat secara adil.”

Menurutnya, FKPPI harus menjadi teladan dalam menjaga persatuan di tengah masyarakat yang semakin terfragmentasi oleh perbedaan kepentingan, termasuk di ruang digital.

GENERASI MUDA JANGAN HANYA MENJADI PENONTON

Salah satu agenda terpenting transformasi FKPPI adalah regenerasi. Suryo menilai generasi muda keluarga besar TNI-Polri harus diberikan ruang lebih luas untuk mengambil peran dalam organisasi. Mereka harus didorong menguasai teknologi, kewirausahaan, komunikasi publik, ekonomi kreatif dan berbagai kompetensi masa depan.

Ia mengatakan “Generasi muda FKPPI jangan hanya diposisikan sebagai penerima warisan perjuangan. Mereka harus menjadi pelanjut perjuangan dan pencipta masa depan.” Karena itu, proses kaderisasi harus diarahkan untuk melahirkan generasi yang memiliki nasionalisme sekaligus kompetensi.

FKPPI 48 TAHUN: SAATNYA MEMBUKTIKAN RELEVANSI

Suryo juga mengatakan usia 48 tahun merupakan momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap peran FKPPI. Organisasi harus menjawab pertanyaan mendasar: apakah keberadaan FKPPI benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat? Jika jawabannya belum maksimal, maka transformasi tidak dapat ditunda.

“FKPPI tidak boleh berhenti sebagai organisasi pewaris sejarah. Kita harus menjadi organisasi pewaris nilai sekaligus pencipta solusi. Inilah makna sebenarnya dari transformasi menuju FKPPI modern,” kata Suryo.

Ia menambahkan, modernisasi bukan berarti meninggalkan identitas dan sejarah organisasi. Sebaliknya, modernisasi adalah cara untuk memastikan nilai-nilai perjuangan tetap relevan dan mampu menjawab kebutuhan generasi berikutnya.

Pada akhirnya, HUT ke-48 FKPPI harus menjadi lebih dari sekadar perayaan. Momentum tersebut harus menjadi deklarasi perubahan: bahwa keluarga besar FKPPI siap memperkuat persatuan, memperluas pengabdian, membangun kemandirian ekonomi dan mengambil bagian dalam mewujudkan kemakmuran rakyat serta keadilan sosial.

Dari sejarah lahir identitas. Dari transformasi lahir relevansi. Dan dari pengabdian lahir kepercayaan masyarakat. FKPPI harus membuktikan bahwa usia 48 tahun bukan tanda organisasi semakin tua, melainkan tanda bahwa pengalaman panjang harus diubah menjadi energi baru untuk Indonesia.

DIRGAHAYU FKPPI !!!

REDAKSI | EDITOR: EP