TANHANANEWS.COM, JAKARTA —- Peringatan Hari Pemantauan Air Sedunia atau World Water Monitoring Day pada 18 September 2026 menjadi momentum penting untuk kembali mengingatkan masyarakat bahwa air bukan sekadar sumber kehidupan, tetapi juga aset ekologis yang menentukan kesehatan, ketahanan pangan, dan keberlanjutan pembangunan.
Ketua Biru Voice, Suryo Susilo, mengatakan pemantauan kualitas air harus menjadi bagian dari kesadaran bersama. Menurutnya, masyarakat tidak boleh hanya melihat air ketika sudah tercemar, berbau, berubah warna, atau menimbulkan persoalan kesehatan. Pemantauan harus dilakukan secara lebih dini, terukur, dan berkelanjutan.
“Air adalah sumber kehidupan. Karena itu, menjaga air tidak boleh berhenti pada slogan. Kita membutuhkan kepedulian, pemantauan dan tindakan nyata. Masyarakat harus memiliki kesadaran bahwa kondisi sungai, danau, mata air maupun sumber air di lingkungan sekitar merupakan tanggung jawab bersama,” ujar Suryo di Jakarta, Kamis, 17 September 2026.
World Water Monitoring Day diperingati setiap 18 September dan mendorong masyarakat untuk terlibat langsung dalam pemantauan kondisi badan air di lingkungannya.
Program ini berkembang sebagai gerakan edukasi dan partisipasi publik yang memungkinkan masyarakat melakukan pengamatan atau pengujian dasar terhadap kualitas air, termasuk parameter seperti suhu, pH, kejernihan dan oksigen terlarut. (Dikutip dari: Monitor Water)
Suryo menilai pendekatan berbasis data menjadi semakin penting di tengah tekanan terhadap sumber daya air.
Menurut laporan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengenai kondisi sumber daya air global menunjukkan bahwa pada 2025 banyak wilayah mengalami kondisi aliran sungai yang sangat kering, sementara pada saat yang sama sejumlah wilayah lain menghadapi kondisi air berlebih. Perubahan pola tersebut menunjukkan semakin pentingnya pemantauan hidrologi dan pengelolaan air yang adaptif terhadap perubahan iklim. (Dikutip dari: Reuters)
“Pemantauan air harus menjadi gerakan dari hulu sampai hilir. Pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas lingkungan dan masyarakat harus dapat bekerja bersama. Kita perlu membangun budaya bahwa setiap pencemaran yang terjadi di lingkungan kita harus dikenali, dicatat dan ditindaklanjuti,” tegasnya.
Menurut Suryo, menjaga kualitas air juga berkaitan langsung dengan masa depan pangan dan ekonomi masyarakat. Air yang sehat menopang pertanian, perikanan, industri, kesehatan masyarakat dan berbagai aktivitas ekonomi. Karena itu, perlindungan sumber air harus ditempatkan sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar program lingkungan.
Ia mengajak masyarakat memperingati Hari Pemantauan Air Sedunia 2026 dengan tindakan sederhana namun konsisten: mengenali sumber air di sekitar, menjaga kebersihan sungai dan saluran air, mengurangi pembuangan sampah serta limbah secara sembarangan, dan mendorong pemantauan kualitas air secara berkala.
“Jangan menunggu air kita tercemar baru bergerak. Mari mulai dari lingkungan masing-masing. Karena ketika kita menjaga air hari ini, sesungguhnya kita sedang menjaga kesehatan, pangan, ekonomi dan kehidupan generasi yang akan datang,” pungkas Ketua Biru Voocw Suryo Susilo.
REDAKSI






