Jalan Pengabdian PPM-LVRI di Sektor Pangan

Waktu Baca : 3 minutes

Perhatiian Ketua Umum PPM LVRI, Berto Izaak Doko terhadap pertanian dan pangan bukan sesuatu yang muncul setelah Pemilu 2024. Jauh sebelum pergantian pemerintahan, persoalan petani, produksi pertanian, pemanfaatan lahan, serta kemandirian pangan telah menjadi bagian dari perhatian yang ia bangun dalam aktivitas organisasi dan kemasyarakatan.

Posisinya sebagai Ketua Umum PPM LVRI memberi ruang yang lebih besar untuk membawa perhatian tersebut menjadi gerakan organisasi. PPM bukan organisasi yang dibentuk khusus untuk pertanian. Ia tumbuh dari lingkungan keluarga besar veteran dan membawa nilai pengabdian Panca Marga. Dalam sejarah LVRI, PPM ditempatkan sebagai organisasi mitra binaan LVRI. Berto sendiri memimpin organisasi tersebut sejak Munaslub 2019.

Ketika pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menempatkan swasembada dan ketahanan pangan sebagai agenda strategis, perhatian Berto terhadap pertanian memperoleh ruang yang lebih konkret. Pemerintah memang memberikan prioritas besar kepada produksi pangan. Data BPS menunjukkan produksi beras 2025 mencapai 34,69 juta ton, meningkat 13,29 persen dibandingkan 2024. Pemerintah juga memperkuat cadangan beras hingga lebih dari 5 juta ton.

Prestasi tersebut tentu merupakan hasil kerja pemerintah, petani, penyuluh, Bulog, pemerintah daerah dan banyak pihak. Kontribusi Berto tidak tepat diukur dengan mengklaim bagian dari angka produksi nasional tersebut. Nilai kontribusinya justru terletak pada bagaimana organisasi masyarakat sebesar PPM LVRI dapat ditempatkan sebagai kekuatan pendukung di lapangan.

Pada Maret 2025, dalam kapasitas sebagai Ketua Umum, Berto menyatakan PPM LVRI mendukung agenda ketahanan pangan dengan membentuk Patriot Pangan PPM-LVRI. Gagasan itu kemudian berkembang menjadi Patriot Pangan Mandiri, sebagai wadah untuk menggerakkan jaringan organisasi di daerah agar terlibat dalam persoalan pertanian dan pangan.

Pertemuan Ketua Umum PPM, Pak Berto dengan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pada 27 Agustus 2026 kemudian menjadi momentum penting. Dalam pertemuan tersebut, Amran secara terbuka meminta dukungan masyarakat dengan mengatakan, “Bantu saya berantas mafia pangan. Demi bangsa ini.” Berto menyatakan PPM LVRI siap ikut mengawal pemberantasan praktik yang merugikan petani dan konsumen. Kementerian Pertanian juga mencatat bahwa Patriot Pangan Mandiri akan menggerakkan jejaring di berbagai wilayah untuk mengawal program pertanian, termasuk masalah pupuk dan sarana produksi yang langsung menyentuh petani.

Di sinilah peran organisasi masyarakat menjadi penting. Pemerintah mempunyai kebijakan dan anggaran, tetapi tidak mungkin mengawasi seluruh persoalan sampai tingkat desa sendirian. Kelangkaan pupuk, bantuan yang tidak tepat sasaran, harga hasil panen, distribusi sarana produksi, atau praktik pencarian rente sering kali pertama diketahui oleh masyarakat di lapangan.

Patriot Pangan Mandiri kemudian mulai diterjemahkan dalam kegiatan nyata. Di Kasepuhan Cibarani, Lebak, program tersebut memulai pengelolaan bertahap sekitar 200 hektare untuk kopi, kelapa dan bambu dengan melibatkan masyarakat adat serta dukungan sarana dari Kementerian PertanamI

Kontribusi Ketua Umum PPM. LVRI, oleh karena itu, sebaiknya tidak dibaca sebagai kontribusi seorang tokoh yang ingin mengambil alih pekerjaan pemerintah. Justru kekuatannya berada pada kemampuan menjadikan PPM LVRI sebagai penghubung antara kebijakan negara dan kebutuhan masyarakat.

Agenda berikutnya jauh lebih besar. Patriot Pangan Mandiri harus mampu menjadi jaringan pendamping petani, penggerak produksi sekaligus pengawas lapangan. Ketika ada kelangkaan pupuk, penyimpangan bantuan, permainan harga, atau praktik mafia pangan, informasi dari daerah harus dapat bergerak cepat kepada pemerintah dan aparat.

Bagi organisasi yang membawa warisan perjuangan veteran, ketahanan pangan merupakan bentuk pengabdian yang sangat relevan dengan keadaan sekarang. Membela negara hari ini tidak selalu berarti berada di medan perang.

Menjaga petani tetap berproduksi, membantu masyarakat memperoleh akses terhadap pangan, dan memastikan kebijakan negara benar-benar sampai kepada rakyat juga merupakan bagian dari menjaga kekuatan bangsa. Di situlah tantangan sekaligus ruang pengabdian Berto Izaak Doko dan PPM LVRI ke depan.

Lukman Hakim
Wasekjen PPM LVRI