25 Tahun Kota Batu: Merawat Warisan, Membangun Masa Depan Berkelanjutan

Waktu Baca : 5 minutes

Oleh: Yohanes Daniel E.
Ketua PD PPM-LVRI Provinsi Jawa Timur

Memperingati Hari Ulang Tahun ke-25 Kota Batu, 17 Oktober 2026

KOTA BATU, JAWA TIMUR, 17 Oktober 2026 — Dua puluh lima tahun perjalanan Kota Batu sebagai daerah otonom menjadi momentum untuk menengok sejarah, mensyukuri capaian pembangunan, dan meneguhkan komitmen membangun masa depan yang maju, berbudaya, sejahtera, serta berkelanjutan.

Dengan semangat “Bangkit Bersama, Jaga Alam Raya untuk mBatu SAE Berkelanjutan” dan tagline “Kreatif SAE”, peringatan ini menegaskan bahwa kemajuan kota tidak cukup diukur dari pembangunan fisik, pertumbuhan ekonomi, atau jumlah wisatawan. Kemajuan sejati harus tercermin dalam kesejahteraan masyarakat, kelestarian lingkungan, keberlanjutan budaya, dan kuatnya gotong royong.

Sebagai Ketua PD PPM-LVRI Provinsi Jawa Timur, saya memandang peringatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan ruang refleksi. Pembangunan harus menghadirkan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat, dengan tetap menghormati jasa para pendahulu dan menjaga semangat kebangsaan.

Dari daerah otonom menuju kota yang terus bertumbuh

Sejak berdiri sebagai daerah otonom pada 17 Oktober 2001, Kota Batu terus membangun tata kelola pemerintahan, pelayanan publik, perekonomian, dan pariwisata. Perjalanan tersebut tidak terlepas dari perjuangan masyarakat, tokoh daerah, serta berbagai unsur yang mengupayakan lahirnya Kota Batu sebagai daerah mandiri.

Kota Batu memiliki modal pembangunan yang khas: kawasan pegunungan, udara sejuk, tanah subur, kekayaan pertanian, dan tradisi masyarakat. Namun, seluruh potensi itu tidak boleh dipandang semata-mata sebagai komoditas ekonomi. Alam dan budaya adalah warisan yang harus dirawat agar tetap dapat dinikmati generasi mendatang.

Karena itu, pembangunan perlu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, perlindungan lingkungan, pelestarian budaya, dan pemerataan kesejahteraan. Kota yang maju bukan hanya ramai dikunjungi, melainkan juga nyaman ditinggali dan memberi manfaat nyata bagi warganya.

Seni dan budaya sebagai identitas

Kota Batu bukan hanya kota wisata, tetapi juga ruang hidup bagi seni, tradisi, dan kreativitas masyarakat. Kesenian Bantengan, jaran kepang, seni tari, wayang, serta berbagai ekspresi budaya lokal memiliki nilai sejarah sekaligus daya tarik wisata.

Bantengan, misalnya, bukan sekadar pertunjukan. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, gotong royong, disiplin, dan keterikatan masyarakat terhadap tradisi. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan semangat kebangsaan yang perlu diwariskan kepada generasi muda.

Agenda seperti Sendratari Arjuna Wiwaha, Batu Culture Festival, dan Kemilau Budaya mBatu SAE Artnival membuka ruang bagi seniman untuk berkarya sekaligus memperkenalkan kebudayaan lokal. Keberadaan Selecta sebagai living museum juga menunjukkan bahwa sejarah pariwisata dapat dihadirkan sebagai pengalaman edukatif.

Ke depan, sanggar seni, komunitas kreatif, sekolah, dan perguruan tinggi perlu memperoleh ruang untuk berkreasi. Dokumentasi tradisi, regenerasi seniman, pelatihan, festival, dan pemanfaatan teknologi digital penting dilakukan agar kebudayaan lokal tetap hidup.

Mencintai budaya daerah bukan berarti menolak modernitas. Tradisi justru dapat menjadi sumber inspirasi bagi karya baru yang kreatif, kompetitif, dan tetap berakar pada jati diri bangsa.

Kuliner dan pertanian sebagai kekuatan ekonomi

Kekuatan Kota Batu juga terletak pada hubungan antara pertanian, pangan lokal, kuliner, dan pariwisata. Selain apel, Batu memiliki jeruk, stroberi, kopi, susu, sayuran, dan berbagai hasil hortikultura yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.

Tradisi kuliner seperti Sego Empok, Jenang Suro, Serabi Suro, dan Tempe Beji bukan sekadar makanan. Di dalamnya tersimpan cerita tentang kehidupan agraris, tradisi keluarga, kearifan lokal, dan hubungan antargenerasi.

Kampung Tempe di Desa Beji menunjukkan bahwa produk pangan dapat menjadi identitas masyarakat sekaligus sumber penghidupan. Pengembangan usaha berbasis pangan lokal dapat membuka peluang bagi petani, produsen, pedagang, UMKM, dan pekerja sektor pariwisata.

Batu Street Food Festival memperlihatkan bagaimana kuliner dapat dipadukan dengan seni, hiburan, dan promosi produk lokal. Jika dikelola konsisten, kegiatan semacam ini dapat memperluas pasar UMKM dan mendorong wisatawan tinggal lebih lama.

Pengembangan gastronomi pegunungan menuju UNESCO Creative Cities Network 2027 patut diapresiasi. Namun, keberhasilannya membutuhkan pendampingan UMKM, peningkatan mutu dan kebersihan, inovasi kemasan, pemasaran digital, perlindungan identitas pangan lokal, serta kemitraan yang adil antara petani, pelaku usaha, dan industri pariwisata.

Dengan demikian, hasil pertanian tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi berkembang menjadi produk olahan dan pengalaman kuliner yang meningkatkan pendapatan masyarakat.

Pariwisata yang memberi manfaat kepada warga

Pariwisata merupakan kekuatan ekonomi Kota Batu. Wisata alam, taman rekreasi, edukasi, pertanian, sejarah, seni budaya, dan desa wisata dapat dikembangkan sebagai satu kesatuan pengalaman.

Selecta, Gunung Banyak, Coban Talun, Museum Angkut, Jawa Timur Park, serta berbagai destinasi lainnya memiliki karakter yang saling melengkapi. Pengalaman wisata juga dapat diperluas melalui kegiatan memetik buah, kunjungan ke kawasan pertanian, wisata desa, pertunjukan seni, pasar tradisional, dan perjalanan kuliner.

Model tersebut penting agar manfaat pariwisata tidak hanya terkonsentrasi pada destinasi besar, tetapi juga menjangkau desa, petani, pengrajin, seniman, pedagang, dan pelaku usaha kecil.

Kota Batu perlu memperkuat kualitas layanan, kebersihan, transportasi, aksesibilitas, keselamatan, informasi wisata, dan pengelolaan sampah. Promosi digital serta kerja sama dengan industri perjalanan juga perlu diarahkan untuk memperluas pasar, termasuk wisatawan mancanegara.

Keberhasilan pariwisata jangan hanya diukur dari jumlah kunjungan. Lama tinggal wisatawan, belanja yang masuk ke usaha lokal, kualitas lapangan kerja, kepuasan pengunjung, serta dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat juga harus menjadi ukuran.

Pariwisata yang baik adalah pariwisata yang membuat wisatawan ingin kembali, masyarakat memperoleh manfaat, dan lingkungan tetap terjaga.

Menjaga alam sebagai tanggung jawab bersama

Pelestarian alam menjadi pesan penting dalam HUT ke-25 Kota Batu karena pertanian, pariwisata, dan kehidupan masyarakat bergantung pada kualitas lingkungan.

Keindahan pegunungan, ketersediaan air, kesuburan lahan, dan kesejukan udara merupakan modal dasar pembangunan. Jika lingkungan rusak, dampaknya dapat berupa berkurangnya air, menurunnya produktivitas pertanian, meningkatnya risiko bencana, dan melemahnya daya tarik wisata.

Pembangunan harus memperhatikan daya dukung lingkungan, tata ruang, kawasan resapan air, pengelolaan sampah, dan kesiapsiagaan bencana. Pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, komunitas, dan wisatawan dapat mengambil bagian melalui penghijauan, pemilahan sampah, pengurangan plastik sekali pakai, perlindungan sumber air, dan penggunaan sumber daya secara bertanggung jawab.

Imbauan penggunaan tanaman buah dalam pot sebagai pengganti karangan bunga pada peringatan HUT ke-25 merupakan pesan simbolis yang baik. Ucapan selamat hendaknya meninggalkan manfaat yang lebih panjang daripada seremoni.

Menjaga alam bukan penghambat pembangunan. Lingkungan yang sehat justru merupakan fondasi bagi ekonomi yang tangguh dan kesejahteraan berkelanjutan.

Gotong royong dan masa depan Kota Batu

Pembangunan daerah tidak dapat dipisahkan dari penghormatan terhadap sejarah dan jasa para pendahulu. Para tokoh masyarakat, pejuang pembentukan daerah, petani, seniman, pendidik, pelaku usaha, dan seluruh warga telah berkontribusi membentuk Kota Batu hari ini.

Semangat pengabdian, persatuan, dan gotong royong harus terus dijaga. Pemerintah perlu membuka ruang partisipasi warga, mendengarkan aspirasi, serta memastikan pelayanan publik berjalan adil dan transparan. Masyarakat juga perlu berperan melalui kepedulian terhadap lingkungan, dukungan terhadap produk lokal, pelestarian budaya, dan pengawasan pembangunan.

Generasi muda harus menjadi pelaku utama masa depan. Mereka perlu memperoleh pendidikan, keterampilan, kesempatan berusaha, ruang berkesenian, dan akses teknologi agar mampu berinovasi tanpa kehilangan akar budaya.

Memasuki usia ke-25, Kota Batu memiliki peluang memperkuat diri sebagai kota wisata yang kreatif, inklusif, dan berkelanjutan. Agenda utamanya adalah memperkuat ekonomi lokal, mengintegrasikan destinasi, melindungi lingkungan, memperkuat identitas budaya, meningkatkan tata kelola, serta mengembangkan sumber daya manusia.

Semua itu membutuhkan kolaborasi pemerintah, dunia usaha, komunitas, akademisi, media, dan masyarakat. Semangat “Bangkit Bersama, Jaga Alam Raya untuk mBatu SAE Berkelanjutan” akan bermakna apabila diwujudkan dalam kebijakan, tindakan, dan kebiasaan sehari-hari.

Selamat Hari Ulang Tahun ke-25 Kota Batu. Semoga Kota Batu semakin maju, sejahtera, berbudaya, lestari, dan menjadi kebanggaan Jawa Timur serta Indonesia.

Bangkit bersama, rawat budaya, kuatkan ekonomi rakyat, dan jaga alam raya.