TANHANANEWS.COM, JAKARTA — Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menghadapi sejumlah kendala yang membuatnya sulit berkembang, mulai dari keterbatasan akses pembiayaan, lemahnya pencatatan keuangan, rendahnya penerapan standar dan sertifikasi, hingga terbatasnya pemanfaatan teknologi serta akses pasar.
Ketua Koperasi dan UMKM Pemuda Panca Marga (PPM-LVRI), Randi Putomo Isbandiarso, mengatakan persoalan tersebut menunjukkan bahwa penguatan UMKM tidak dapat hanya mengandalkan bantuan modal.
“Kalau hanya memberikan modal tanpa memperkuat ekosistem usaha, UMKM akan sulit naik kelas,” ujar Randi, melalui keterangannya di Jakarta, Senin, 28 September 2026.
Menurut Randi, pembenahan perlu dimulai dari penguatan manajemen usaha, terutama administrasi dan pembukuan. Pencatatan keuangan yang tertib membantu pelaku usaha mengelola bisnis sekaligus meningkatkan peluang memperoleh pembiayaan formal.
“Yang kita butuhkan bukan sekadar UMKM bertahan, tetapi UMKM tumbuh dan naik kelas. Karena itu, pembiayaan harus diikuti pendampingan, peningkatan kualitas produk, perluasan pasar, dan kemitraan,” kata Randi.
Randi juga berharap agar pembiayaan UMKM diberikan secara mudah, terjangkau, tepat sasaran, dan sesuai dengan karakteristik usaha.
“Program Kredit Usaha Rakyat (KUR), misalnya, perlu disertai pendampingan agar dana yang diterima digunakan untuk kegiatan produktif dan mendorong pertumbuhan usaha,” ujarnya.
Lebih lanjut dia menyampaikan bahwa pembiayaan saja tidak cukup. Pelaku usaha perlu dibantu memenuhi legalitas, Nomor Induk Berusaha (NIB), standar keamanan dan mutu produk, sertifikasi, serta kualitas kemasan. Persyaratan tersebut penting agar produk UMKM dapat menembus pasar yang lebih luas.
“UMKM tidak hanya perlu menghasilkan produk yang laku, tetapi juga produk yang memenuhi standar sehingga mampu masuk ke rantai pasok perusahaan besar, BUMN, sektor pariwisata, bahkan pasar ekspor,” jelas Randi.
Digitalisasi juga perlu diterapkan secara menyeluruh, bukan hanya untuk promosi melalui media sosial atau penjualan di lokapasar. Pemanfaatan teknologi dapat mencakup pencatatan keuangan, sistem pembayaran, pengelolaan persediaan, proses produksi, hingga pemanfaatan data konsumen.
Peran yang tidak kalah pentingnya adalah Koperasi, karena Koperasi akan lebih memoerkuat daya tawar UMKM
Melalui koperasi, pelaku usaha dapat membangun kekuatan kolektif dalam pengadaan bahan baku, pemasaran, pemanfaatan teknologi, dan akses pembiayaan.
Randi menilai penguatan UMKM juga membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, perbankan, koperasi, dunia usaha, perguruan tinggi hingga organisasi masyarakat.
“Kalau UMKM bergerak sendiri-sendiri, daya tawarnya sering kali terbatas. Melalui koperasi dan kemitraan, pembelian bahan baku bisa lebih efisien, pemasaran dapat diperluas, dan akses terhadap pembiayaan serta pasar menjadi lebih kuat,” pungkas Randi.
REDAKSJ






