Hari Kesaktian Pancasila 2026: Merawat Ingatan Sejarah Bengkulu, Meneguhkan Pancasila di Tengah Generasi Muda

Waktu Baca : 3 minutes

Oleh : Meriyani, S.IKom., M.H. – Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Panca Marga (PD PPM-LVRI) Provinsi Bengkulu

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober 2026 menjadi momentum bagi generasi muda untuk kembali melihat sejarah bukan sekadar sebagai catatan masa lalu, tetapi sebagai sumber nilai dalam membangun masa depan bangsa.

Bagi masyarakat Bengkulu, peringatan tersebut memiliki makna historis yang kuat. Bengkulu merupakan bagian penting dari perjalanan perjuangan Ir. Soekarno, Proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia, yang pernah menjalani pengasingan oleh pemerintah kolonial Belanda di Bengkulu pada 1938–1942.

Di kota inilah Bung Karno tidak berhenti berpikir dan berjuang. Masa pengasingan justru menjadi bagian dari perjalanan pemikiran seorang tokoh yang kemudian memainkan peranan penting dalam lahirnya Indonesia merdeka.

Bengkulu juga memiliki ikatan sejarah yang tidak terpisahkan dengan Ibu Fatmawati, yang lahir di Bengkulu dan kemudian menjadi istri Bung Karno. Fatmawati dikenal dalam sejarah bangsa sebagai sosok yang menjahit Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih, yang dikibarkan pada Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.

Dua warisan sejarah tersebut menjadikan Bengkulu memiliki posisi istimewa dalam narasi perjalanan bangsa: tempat pengasingan Bung Karno sekaligus tanah kelahiran Ibu Fatmawati, sang penjahit Bendera Pusaka.

Meriyani: Sejarah Harus Menjadi Energi Generasi Muda

Ketua PD Pemuda Panca Marga (PPM-LVRI) Provinsi Bengkulu, Meriyani, memandang Hari Kesaktian Pancasila sebagai kesempatan untuk mengajak generasi muda Bengkulu memahami bahwa Pancasila bukan hanya untuk dihafalkan, tetapi harus diwujudkan melalui sikap dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut pandangan Meriyani, generasi muda Bengkulu mempunyai tanggung jawab moral untuk menjaga nilai-nilai perjuangan para pendahulu.

Sejarah Bung Karno dan Ibu Fatmawati yang melekat kuat dengan Bengkulu, menurut perspektif tersebut, merupakan modal kebangsaan yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Generasi muda tidak cukup hanya mengetahui bahwa Bung Karno pernah diasingkan di Bengkulu atau bahwa Ibu Fatmawati lahir di Bengkulu. Lebih jauh, mereka perlu memahami nilai perjuangan, keteguhan, persatuan, keberanian, dan kecintaan kepada Indonesia yang terkandung di balik sejarah tersebut.

Hari Kesaktian Pancasila dengan demikian dapat menjadi momentum untuk menghubungkan sejarah dengan persoalan generasi muda masa kini.

Dari Rumah Pengasingan Menuju Tantangan Zaman Digital

Bagi generasi muda Bengkulu, rumah pengasingan Bung Karno bukan hanya sebuah bangunan bersejarah. Ia dapat dipandang sebagai simbol bahwa keterbatasan tidak selalu menjadi penghalang bagi seseorang untuk terus berpikir dan berkontribusi bagi bangsa.

Di tengah perkembangan teknologi digital, generasi muda menghadapi tantangan yang berbeda dengan generasi perjuangan kemerdekaan. Informasi bergerak sangat cepat, media sosial menjadi ruang interaksi publik, sementara berbagai pandangan dan kepentingan dapat dengan mudah menyebar tanpa batas.

Dalam kondisi tersebut, nilai-nilai Pancasila menjadi penting sebagai pedoman dalam membangun kehidupan bersama.

Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial bukan sekadar rumusan dalam sebuah dokumen kenegaraan. Nilai tersebut dapat diterjemahkan dalam perilaku konkret: menghormati perbedaan, tidak mudah terprovokasi, menjaga persatuan, menggunakan media sosial secara bertanggung jawab, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.

Bengkulu dan Memori Kebangsaan

Bengkulu memiliki potensi besar untuk memperkuat pendidikan sejarah dan karakter generasi muda melalui kekayaan sejarahnya.

Jejak Bung Karno dan Ibu Fatmawati dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk memahami perjalanan panjang Indonesia menuju kemerdekaan.

Karena itu, peringatan Hari Kesaktian Pancasila tidak semestinya berhenti pada seremoni. Momentum tersebut dapat dikembangkan menjadi gerakan untuk memperkuat literasi sejarah, kunjungan ke situs-situs sejarah, diskusi kebangsaan, kegiatan kepemudaan, hingga pemanfaatan teknologi digital untuk memperkenalkan sejarah Bengkulu kepada masyarakat Indonesia dan dunia.

Generasi muda Bengkulu dapat mengambil peran sebagai duta sejarah dan kebangsaan, dengan menghadirkan kisah perjuangan Bung Karno dan Ibu Fatmawati dalam bahasa yang dekat dengan anak muda.

Dengan cara itu, sejarah tidak menjadi sesuatu yang jauh dan kaku. Sejarah dapat hadir melalui film pendek, konten edukasi, podcast, media sosial, kegiatan komunitas, maupun berbagai kreativitas anak muda.

Pancasila dan Tanggung Jawab Masa Depan

Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026 juga menjadi pengingat bahwa mempertahankan Pancasila merupakan tanggung jawab setiap generasi.

Generasi muda Bengkulu mempunyai warisan sejarah yang sangat kuat. Dari tanah Bengkulu, mereka dapat belajar tentang perjuangan Bung Karno selama masa pengasingan dan keteladanan Ibu Fatmawati yang kemudian memiliki peran penting dalam sejarah Sang Saka Merah Putih.

Warisan tersebut tidak boleh berhenti sebagai kebanggaan daerah.

Ia harus diterjemahkan menjadi semangat membangun Indonesia yang bersatu, berkeadilan, berdaulat, dan menghargai keberagaman.

Dalam perspektif Ketua PD PPM-LVRI Provinsi Bengkulu Meriyani, semangat itu sejalan dengan tugas organisasi kepemudaan untuk terus menanamkan nilai-nilai perjuangan kepada generasi penerus.

Bengkulu bukan hanya memiliki sejarah. Bengkulu memiliki pesan sejarah.

Pesannya adalah bahwa perjuangan membutuhkan keteguhan, kemerdekaan membutuhkan persatuan, dan masa depan Indonesia membutuhkan generasi muda yang memahami sejarah sekaligus mampu menjawab tantangan zamannya.

Pada 1 Oktober 2026, ketika bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila, generasi muda Bengkulu dapat menjadikannya sebagai momentum untuk kembali meneguhkan komitmen: merawat sejarah, menjaga persatuan, mengamalkan Pancasila, dan melanjutkan perjuangan para pendahulu dalam bentuk yang sesuai dengan zaman.

Dari Bengkulu, jejak sejarah Bung Karno dan Ibu Fatmawati menjadi pengingat bahwa perjalanan Indonesia dibangun oleh manusia-manusia yang berani berjuang. Kini, giliran generasi muda untuk menentukan bagaimana warisan perjuangan itu diteruskan.