Penulis: BERTO IZAAK DOKO, S.H., Ketua Umum PPM-LVRI, Cucu Pahlawan Nasional Asal NTT Izaak Huru Doko
Kata patriot sering kita dengar dalam pidato kebangsaan, upacara, pendidikan bela negara, maupun ketika mengenang perjuangan para pahlawan. Kata ini begitu dekat dengan sejarah Indonesia sehingga patriot sering dibayangkan sebagai orang yang berjuang dengan senjata, berada di medan perang, atau mempertaruhkan nyawa untuk mempertahankan negara. Pandangan itu tidak salah. Tetapi makna patriot sebenarnya jauh lebih luas.
Akar kata patriot berasal dari bahasa Yunani yang berkaitan dengan tanah leluhur, asal-usul, dan orang-orang yang berasal dari negeri yang sama. Dalam perkembangannya, patriot kemudian dimaknai sebagai seseorang yang mencintai tanah airnya, memiliki kesetiaan kepada bangsanya, serta bersedia berbuat dan berkorban untuk kepentingan bersama.
Bagi Ketua Umum Pemuda Panca Marga (PPM-LVRI), makna patriot seperti inilah yang perlu dihidupkan kembali dalam kehidupan generasi sekarang. Patriot tidak cukup menjadi sebutan kehormatan. Patriot harus terlihat dari sikap, tanggung jawab dan tindakan.
PPM-LVRI memiliki hubungan sejarah yang sangat kuat dengan nilai tersebut. PPM lahir dari keluarga besar veteran, yaitu generasi yang mempunyai hubungan langsung dengan para pejuang yang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Karena itu, pewarisan nilai perjuangan tidak boleh berhenti pada penghormatan terhadap masa lalu.
Generasi veteran telah menjalankan tugas sejarahnya. Mereka berjuang ketika persoalan utama bangsa adalah memperoleh dan mempertahankan kemerdekaan. Generasi penerus menghadapi tantangan yang berbeda. Tugasnya bukan lagi merebut kemerdekaan, tetapi menjaga agar bangsa yang sudah merdeka tetap berdaulat, kuat dan mampu menentukan masa depannya sendiri. Dari pemahaman itulah berbagai program PPM- LVRI menempatkan kata patriot sebagai bagian penting dari gerakan organisasi.
Program Patriot Bela Negara, misalnya, tidak hanya dipahami sebagai kegiatan yang berhubungan dengan pertahanan dalam arti militer. Bela negara jauh lebih luas. Ia menyangkut kesadaran sebagai warga negara, disiplin, tanggung jawab, persatuan, kepedulian terhadap masyarakat, penghormatan terhadap konstitusi, serta kesiapan menjaga kepentingan bangsa.
Seorang patriot harus mengetahui bahwa negara bukan hanya sesuatu yang harus dibela ketika perang terjadi. Negara juga harus dijaga dalam kehidupan sehari-hari. Ketika masyarakat saling membantu, ketika anak muda menjaga persatuan, ketika warga menolak tindakan yang merugikan kepentingan umum, di situ terdapat nilai bela negara. Pemikiran yang sama kemudian berkembang melalui program Patriot Pangan Mandiri.
Pangan mungkin terlihat jauh dari pembicaraan mengenai patriotisme. Padahal pangan merupakan salah satu kebutuhan paling mendasar bagi keberlangsungan sebuah bangsa. Negara yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya akan menghadapi persoalan ekonomi, sosial bahkan politik. Karena itu, kemandirian pangan memiliki hubungan langsung dengan kedaulatan.
Menanam, meningkatkan produksi, memperkuat kelompok tani, membantu akses sarana produksi, mengembangkan komoditas pertanian dan mendorong generasi muda terlibat dalam sektor pangan merupakan pekerjaan nyata yang mempunyai nilai kebangsaan. Di sinilah makna patriot mendapatkan bentuk yang lebih sesuai dengan tantangan zaman.
Patriot Pangan Mandiri bukan sekadar program pertanian. Program ini membawa gagasan bahwa petani, kelompok tani, pemuda, masyarakat desa dan organisasi kemasyarakatan dapat mengambil bagian dalam memperkuat kemampuan bangsa memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.

Patriot hari ini tidak harus berada di medan perang. Ia dapat berada di sawah, kebun, sekolah, kampus, laboratorium, pasar, desa, kawasan pesisir maupun lingkungan masyarakat. Yang menentukan bukan tempatnya, melainkan sikap dan tujuan dari pekerjaan yang dilakukan.
Seorang petani yang menjaga produksi pangan mempunyai peran bagi negara. Seorang guru yang mendidik anak-anak bangsa menjalankan pengabdian. Seorang tenaga kesehatan yang melayani masyarakat, seorang peneliti yang menghasilkan inovasi, atau seorang pemuda yang membangun ekonomi di desanya dapat menunjukkan sikap patriotik melalui bidang masing-masing. Karena itu, patriotisme tidak boleh berhenti sebagai slogan.
Mengaku mencintai Indonesia mudah. Tantangannya adalah menjawab apa yang telah kita lakukan untuk Indonesia.
Dalam pandangan inilah PPM-LVRI menempatkan patriot sebagai identitas sekaligus panggilan pengabdian. Patriot Bela Negara dan Patriot Pangan Mandiri merupakan dua bidang yang berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama, yakni memperkuat kemampuan bangsa menjaga dirinya sendiri.
Bela negara menjaga kesadaran dan ketahanan bangsa. Kemandirian pangan menjaga salah satu kebutuhan paling mendasar bagi kehidupan rakyat. Keduanya bertemu dalam satu prinsip sederhana: kemerdekaan harus dijaga melalui kerja nyata.
Warisan terbesar para veteran bukan hanya cerita tentang peperangan dan kemenangan. Warisan itu adalah keberanian menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi.
Generasi hari ini tidak diminta mengulang medan perjuangan generasi sebelumnya. Tetapi generasi hari ini mempunyai kewajiban menghadapi persoalan zamannya sendiri. Itulah makna patriot yang ingin terus dihidupkan PPM-LVRI..






