Ketua PC PPM-LVRI Fadhil: Saatnya Purworejo Berani Mengubah Potensi Menjadi Kekuatan Ekonomi

Ketua PC PPM-LVRI Kabupaten Purworejo Fadhil Ali Syahbal - Foto: Tanhananews.com
Waktu Baca : 5 minutes

TANHANANEWS.COM, PURWOREJO — Kabupaten Purworejo Provinsi Jawa Tengah memiliki modal pembangunan yang tidak kecil. Letak geografis, sektor pertanian, potensi kelautan dan pesisir, pariwisata, UMKM, ekonomi kreatif, sumber daya manusia, hingga keberadaan generasi muda merupakan aset yang semestinya dapat menjadi kekuatan ekonomi daerah. Namun, tentu potensi tidak otomatis berubah menjadi kesejahteraan.

Di sinilah pembangunan Purworejo membutuhkan keberanian untuk melakukan koreksi, memperkuat koordinasi dan mengubah pola pembangunan dari sekadar menjalankan program menjadi membangun ekosistem ekonomi yang menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat.

Ketua Pimpinan Cabang Pemuda Panca Marga (PC PPM-LVRI) Kabupaten Purworejo, Fadhil Ali Syahbal, dalam keterangannya di Purworejo, Jumat, 11 September 2026 menilai Purworejo sedang berada pada fase penting. Pemerintah pusat melalui RPJMN 2025–2029 telah menetapkan arah pembangunan yang menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi, pengurangan kemiskinan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pembangunan yang lebih merata dan berkelanjutan. RPJMN tersebut menjadi dasar bagi penyelarasan pembangunan pusat dan daerah. (Peraturan BPK⁠)

“Purworejo jangan hanya menjadi daerah yang memiliki banyak potensi. Purworejo harus menjadi daerah yang mampu mengubah potensi itu menjadi produktivitas, investasi, lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan harus terasa sampai ke desa dan rumah tangga,” ujar Fadhil.

POTENSI PURWOREJO SANGAT BESAR

Menurut Fadhil, peluang pertama berada pada sektor pertanian dan pangan. Purworejo memiliki basis masyarakat yang kuat pada sektor pertanian. Karena itu, kebijakan pembangunan tidak boleh berhenti pada peningkatan produksi. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana petani memperoleh nilai tambah.

Hasil pertanian harus didorong masuk ke industri pengolahan, pengemasan, pemasaran digital dan rantai pasok yang lebih luas.

“Jangan sampai petani menghasilkan bahan baku, sementara keuntungan terbesar justru dinikmati pihak lain yang menguasai pengolahan dan pemasaran. Kita harus membangun industri hilir di Purworejo,” tegasnya.

Hal tersebut sejalan dengan arah kebijakan nasional yang memberikan perhatian besar terhadap kedaulatan pangan, peningkatan produktivitas dan penguatan ekonomi masyarakat. Pemerintah pusat juga menempatkan sektor pertanian sebagai salah satu fokus penting dalam pelaksanaan RPJMN 2025–2029. (Kementerian PPN/Bappenas⁠)

PARIWISATA JANGAN HANYA MENJUAL PEMANDANGAN

Peluang kedua adalah pariwisata dan ekonomi kreatif. Purworejo memiliki bentang alam, sejarah, budaya, kuliner dan berbagai potensi destinasi yang dapat dikembangkan. Tetapi pengembangan pariwisata harus menggunakan pendekatan yang lebih luas.

Wisatawan tidak cukup hanya datang. Mereka harus tinggal lebih lama, membelanjakan uangnya di Purworejo dan membawa pulang produk lokal. Karena itu, pariwisata harus terhubung dengan UMKM, kuliner, kerajinan, ekonomi kreatif, transportasi, penginapan dan promosi digital.

“Kita harus mengubah konsep dari destination oriented menjadi economic impact oriented. Ukurannya bukan hanya berapa orang datang, tetapi berapa besar uang berputar di masyarakat Purworejo,” katanya.

INFRASTRUKTUR HARUS MENJADI PENGUNGKIT EKONOMI

Fadhil juga menilai pembangunan infrastruktur harus diarahkan sebagai pengungkit kegiatan ekonomi, bukan sekadar pembangunan fisik. Jalan, jembatan, irigasi, akses internet, pasar, kawasan produksi dan konektivitas antardesa harus dirancang berdasarkan kebutuhan ekonomi masyarakat. Pembangunan infrastruktur harus menjawab pertanyaan sederhana:

Setelah infrastruktur dibangun, kegiatan ekonomi apa yang tumbuh?

Jika sebuah jalan mempercepat distribusi hasil pertanian, membuka akses wisata, memperluas pasar UMKM dan menurunkan biaya logistik, maka pembangunan tersebut memiliki dampak ekonomi yang jelas.

Sebaliknya, pembangunan fisik yang tidak terkoneksi dengan aktivitas ekonomi berisiko menjadi beban pemeliharaan tanpa memberikan multiplier effect yang optimal.

ANCAMAN TERBESAR: POTENSI BESAR TETAPI NILAI TAMBAH KECIL

Menurut Fadhil, salah satu hambatan pembangunan daerah adalah masih adanya kesenjangan antara potensi ekonomi dan kemampuan menciptakan nilai tambah. Purworejo memiliki produk, tetapi belum semua produk memiliki branding yang kuat. Memiliki pelaku UMKM, tetapi belum semuanya memiliki akses pembiayaan, teknologi dan pasar. Memiliki generasi muda, tetapi belum seluruhnya mendapatkan ruang untuk menjadi pelaku ekonomi. Memiliki potensi wisata, tetapi belum seluruhnya terkoneksi dengan industri kreatif dan ekonomi masyarakat.

“Masalah kita bukan semata-mata kekurangan potensi. Masalahnya adalah bagaimana mengorganisasikan potensi tersebut agar menjadi kekuatan ekonomi yang terintegrasi,” kata Fadhil.

SDM DAN GENERASI MUDA HARUS MENJADI PRIORITAS

PPM-LVRI Kabupaten Purworejo juga menyoroti persoalan sumber daya manusia. Pembangunan tidak akan berkelanjutan apabila generasi mudanya hanya diposisikan sebagai penerima program. Generasi muda harus menjadi pelaku pembangunan.

Pemerintah daerah perlu memperluas pelatihan berbasis kebutuhan industri, digitalisasi UMKM, kewirausahaan, teknologi pertanian, ekonomi kreatif, pariwisata, serta keterampilan yang sesuai dengan perkembangan dunia kerja. Arah ini sejalan dengan RPJMN 2025–2029 yang menempatkan peningkatan kualitas SDM sebagai salah satu sasaran utama pembangunan nasional. (Setneg⁠)

“Anak muda Purworejo jangan hanya disiapkan untuk mencari pekerjaan. Mereka harus disiapkan untuk menciptakan pekerjaan,” tegas Fadhil.

HAMBATAN BERIKUTNYA ADALAH BIROKRASI DAN KOORDINASI

Fadhil menilai pembangunan daerah juga menghadapi persoalan klasik berupa koordinasi antarsektor dan sinkronisasi kebijakan. Perencanaan pembangunan harus memastikan bahwa program pemerintah daerah tidak berjalan sendiri-sendiri. Pertanian harus terkoneksi dengan industri. Industri harus terkoneksi dengan UMKM. Pariwisata harus terkoneksi dengan ekonomi kreatif. Pendidikan harus terkoneksi dengan kebutuhan dunia kerja. Infrastruktur harus terkoneksi dengan pusat pertumbuhan ekonomi.

“Kita tidak membutuhkan terlalu banyak program yang berjalan sendiri-sendiri. Kita membutuhkan program yang saling mengunci dan menghasilkan dampak berantai,” ucapnya.

Pemerintah Kabupaten Purworejo sendiri telah memasuki fase pelaksanaan RPJMD 2025–2029. Pemerintah daerah juga telah menggunakan RKPD sebagai instrumen tahunan untuk menerjemahkan arah pembangunan tersebut ke dalam program dan anggaran. (Purworejo Kabupaten⁠)

PURWOREJO HARUS MEMILIKI “MESIN PERTUMBUHAN” SENDIRI

Fadhil menawarkan beberapa langkah strategis. Pertama, membangun sektor unggulan berbasis kawasan. Pemerintah daerah perlu menetapkan sektor-sektor yang benar-benar memiliki keunggulan kompetitif, kemudian memberikan dukungan secara terintegrasi.

Kedua, memperkuat hilirisasi produk lokal. Produk pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, kuliner dan kerajinan harus didorong menjadi produk bernilai tambah.

Ketiga, membangun database potensi investasi daerah. Investor harus mendapatkan informasi yang jelas mengenai lahan, komoditas, tenaga kerja, infrastruktur, perizinan dan peluang pasar.

Keempat, memperkuat UMKM. UMKM jangan hanya diberikan pelatihan. Mereka harus dibantu masuk ke pasar, memperoleh pembiayaan, sertifikasi, kemasan, branding dan pemasaran digital.

Kelima, membangun ekosistem generasi muda. Pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha dan organisasi kepemudaan perlu membangun pusat inovasi dan kewirausahaan pemuda.

Keenam, memperkuat kolaborasi pusat, provinsi dan kabupaten. Program nasional yang memiliki relevansi dengan kebutuhan Purworejo harus dijemput secara aktif oleh pemerintah daerah. RPJMN 2025–2029 memang menegaskan pentingnya sinkronisasi pembangunan nasional dengan RPJMD provinsi dan kabupaten/kota. (Kementerian PPN/Bappenas⁠)

JANGAN TAKUT MELAKUKAN KOREKSI

Fadhil menegaskan pembangunan daerah harus berani melakukan evaluasi. Program yang tidak efektif harus diperbaiki. Anggaran harus semakin diarahkan pada program yang memiliki dampak nyata. Indikator keberhasilan pembangunan tidak cukup hanya melihat berapa banyak kegiatan yang terlaksana, tetapi harus melihat apa yang berubah di tengah masyarakat.

Apakah pendapatan masyarakat meningkat? Apakah lapangan kerja bertambah? Apakah kemiskinan menurun? Apakah UMKM naik kelas? Apakah anak muda mendapatkan kesempatan? Apakah investasi tumbuh? Apakah produk lokal mampu menembus pasar yang lebih luas?

“Inilah ukuran pembangunan yang sesungguhnya. Bukan berapa banyak acara yang diselenggarakan, tetapi berapa banyak persoalan rakyat yang berhasil diselesaikan.” jelas Fadhil.

PPM-LVRI SIAP MENJADI MITRA KRITIS PEMBANGUNAN

Sebagai organisasi yang memiliki perhatian terhadap masa depan generasi penerus bangsa, PC PPM-LVRI Kabupaten Purworejo menyatakan siap menjadi mitra pemerintah daerah. Namun kemitraan tersebut harus dibangun secara konstruktif. PPM-LVRI akan memberikan dukungan terhadap kebijakan pembangunan yang berpihak kepada kepentingan masyarakat, sekaligus menyampaikan kritik apabila terdapat kebijakan yang perlu diperbaiki.

“Kami tidak ingin hanya menjadi penonton pembangunan. PPM-LVRI ingin menjadi bagian dari kekuatan masyarakat yang ikut mengawal agar pembangunan Purworejo benar-benar menghadirkan keadilan, kesempatan dan kesejahteraan.” Fadhil menegaskan, semangat pembangunan harus dikembalikan kepada tujuan utama negara: menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Pembangunan Purworejo tidak boleh hanya mengejar angka pertumbuhan, tetapi harus memastikan pertumbuhan tersebut inklusif, merata dan berkelanjutan.

PURWOREJO HARUS NAIK KELAS

Kini tantangan Purworejo bukan lagi sekadar bagaimana membangun. Tantangannya adalah bagaimana membangun dengan tepat. Bagaimana setiap rupiah anggaran menghasilkan manfaat. Bagaimana setiap kebijakan membuka peluang. Bagaimana setiap investasi menciptakan lapangan kerja. Bagaimana setiap infrastruktur memperkuat ekonomi. Dan bagaimana setiap anak muda memperoleh kesempatan untuk menjadi bagian dari masa depan daerahnya.

“Purworejo memiliki peluang besar. Yang kita perlukan adalah keberanian mengambil keputusan, konsistensi menjalankan kebijakan dan kolaborasi seluruh elemen masyarakat. Jangan sampai potensi kita besar, tetapi kesejahteraan masyarakat berjalan lambat. Sekarang saatnya Purworejo bergerak lebih cepat, lebih terarah dan lebih berani,” pungkas Fadhil putra Pejuang Kemerdekaan RI.

REDAKSI | EDITOR: EP